in

Upaya Mengatasi Hambatan Dalam Mencapai Moksha

Upaya Mengatasi Hambatan Dalam Mencapai Moksha

Upaya-upaya dalam Mengatasi Hambatan dan Tantangan
untuk Mencapai Moksha menurut Zamannya “Globalisasi”

Setiap orang yang menyatakan diri sebagai umat Hindu berkewajiban untuk
mengamalkan ajaran agamanya. Kewajiban mengamalkan ajaran agama seperti
ini telah dilaksanakan secara turun-tumurun sejak nenek moyang ada. Kebiasaan
nenek moyang diwarisi oleh generasi ke generasi berikutnya. Kebenaran dari
keyakinannya beragama seperti itu dipandang memberikan manfaat positif bagi
keselamatan dan kelangsungan hidupnya.
Lima dasar keyakinan umat Hindu disebut dengan istilah Panca Sraddha.
Dalam uraian ini akan membahas tentang sraddha yang ke lima, yaitu percaya

dengan adanya Moksha. Apakah Moksha itu? Upaya apa yang mesti dilakukan
untuk mengatasi tantangan dan hambatan dalam mewujudkan Moksha?
Moksha adalah bersatunya atman dengan Brahman, tercapainya keadaan
yang sat cit ananda, terwujudnya kebahagiaan yang abadi, suka tanpa wali dukha.
Moksha adalah mukti atau kelepasan. Kondisi seperti inilah yang disebut dengan
nama Moksha. Moksha adalah tujuan yang tertinggi bagi umat beragama Hindu.
Umat Hindu meyakini bahwa Moksha merupakan sraddha yang utama setelah
Brahman. Umat Hindu yakin bahwa “Moksha” bukan saja hanya dapat dicapai
setelah meninggal dunia (dunia akhirat), namun demikian dalam kehidupan
sekarang pun (semasih hidup) dapat dicapai, yang disebut dengan nama “jiwam
mukti”.


Dengan mempedomani diri dan mengamalkan ajaran cinta kasih serta
ketidak terikatan akan ilusi dunia ini secara berkesinambungan seseorang dapat
mencapai Moksha. Kata Moksha mudah diucapkan namun sulit diwujudkan
dalam hidup dan kehidupan ini. Betapapun sulitnya sesuatu itu pasti dapat
wujudkan, bila diupayakan dengan niat suci, tekun, disiplin, sungguh-sungguh
dan berlandaskan kitab suci. Renungkanlah mantram berikut ini:


Ya Tuhan, semoga panjang umur, semoga demikian, Ya Tuhan, semoga
tiada rintangan, semoga demikian, Ya Tuhan, semoga baik, semoga demikian. Ya
Tuhan, semoga bahagia, Ya Tuhan, semoga sempurna, Ya Tuhan, semoga rahayu,
Semoga tujuh pertambahan terwujud (Sùrya sevana C.Hooykaas, 2002.146).
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 169
Untuk dapat mencapai Moksha, seseorang harus memahami, mempedomani,
dan mematuhi persyaratan-persyaratan dalam aktivitas hidupnya, sehingga
proses mencapai Moksha dapat berjalan sesuai dengan norma-norma ajaran
agama Hindu. Adapun tanda-tanda atau ciri-ciri seseorang yang telah mencapai
“Moksha” atau mencapai Jiwatman Mukti adalah:

  1. Selalu dalam keadaan tenang secara lahir maupun bathin.
  2. Tidak terpengaruh dengan suasana suka maupun duka.
  3. Tidak terikat dengan keduniawian.
  4. Tidak mementingkan diri sendiri, selalu mementingkan orang lain atau
    lebih banyak dapat berbagi (masyarakat banyak).
    Untuk mencapai Moksha, juga disebutkan mempunyai tingkatan-tingkatan
    yang tergantung dari karma (perbuatannya) seseorang selama hidupnya, apakah
    sudah sesuai dengan norma-norma ajaran agama Hindu. Tingkatan-tingkatan
    Moksha yang dicapai oleh seseorang dapat diklasipikasikan sebagai berikut:
  5. Moksha: apabila seorang sudah mampu mencapai kebebasan rohani
    dengan meninggalkan badan kasar (jasad).
  6. Adi Moksha: apabila seorang sudah mencapai kebebasan rohani dengan
    tidak meninggalkan mayat tetapi meninggalkan bekas-bekas misalnya
    abu, dan atau tulang.
  7. Parama Moksha: apabila orang yang bersangkutan telah mencapai
    kebebasan rohani dengan tidak meninggalkan badan kasar (jasad) serta
    tidak membekas.
    170 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    “Buddhilàbhàddhi puruûah
    sarvaý tarati kilbisam,
    vipàpo labhate sattvam
    sattvasthah samprasidati.
    Apan ika sang tëlas tumenung kaprajnàn, hilang kalangkaning jñànanira,
    niûkalangka pwa jñànànira, katëmu tang sattwaguna denira, sattwa kewale,
    tan karakëtan, rajah tamah, sattwa ngaraning satah bhàwah, si uttamajnànà,
    citta sat swabhawa, tar kakenan trsnàdi, katëmu pwang sattwaguóa denira,
    prasannàtmaka ta sira, tan karaket ring sarira, luput ring karmaphala.
    Terjemahannya:
    Karena orang yang telah mendapat kearifan budi, lenyap segala noda
    pikirannya: tanpa noda (suci bersih) budi pikiranya, maka sifat “sattva”
    diperolehnya: sifat sattwa saja tidak dicampuri (dilekati) sifat “rajah-tamah”:
    sattwa artinya sifat baik, yaitu budi pikiran utama, pikiran berpembawaan baik,
    tidak dihinggapi trsna (kehausan hati) dan sejenisnya: jika telah di dapat olehnya
    sifat sattwa, maka ia berjiwa suci bersih, tidak terikat pada badan kasar, bebas
    dari karmaphala (buah perbuatan), (Sarasamuçcaya, 507).
    “úraddhàvàn anasùyaú ca
    úåóuyàd api yo naraá,
    so ‘pi muktaá úubhàmlokàn
    pràpnuyàt puóya-karmaóàm.
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 171
    Terjemahannya:
    Orang yang mempunyai keyakinan dan tidak mencela, orang seperti
    itu walaupun sekedar hanya mendengar, ia juga terbebas, mencapai dunia
    kebahagiaan manusia yang berbuat kebajikan (Bhagawadgita XVIII.71).
    Adapun upaya-upaya yang patut dilakukan dalam mengatasi hambatan dan
    tantangan untuk mencapai Moksha sampai dengan era sekarang adalah:
  8. Melaksanakan Meditasi
    Memuja kebesaran dan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang
    Maha Esa beserta prabhawanya adalah merupakan kewajiban bagi setiap umat
    beragama “Hindu”. Semakin dekat kita dengan-Nya, maka semakin merasa
    tentram damai hidup kita ini. Ada banyak jalan atau cara yang dapat kita lalui
    untuk mewujudkan semuanya itu, di antaranya melalui sembahyang sesuai
    dengan waktunya, melaksanakan upawasa, merenungkan keberadaan Hyang
    Widhi beserta prabhawa-Nya.
  9. Mendalami Ilmu Pengetahuan
    Mendalami berbagai cabang ilmu pengetahuan sesuai dengan
    perkembangannya adalah merupakan kewajiban setiap insan yang dilahirkan
    sebagai manusia. Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang
    sampai saat ini dapat dijadikan media oleh manusia yang dilahirkan dengan
    kesempurnaan yang terbatas, untuk menyelesaikan berbagai macam tantangan
    dan hambatan yang sedang dan akan dihadapinya guna mewujudkan cita-cita
    172 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    hidupnya. Oleh karenanya manusia hendaknya dengan senang hati, penuh
    semangat, tekun dan penuh kesabaran mempersiapkan waktunya untuk belajar
    dan belajar sepanjang hayat, sebab tidak ada kata terlambat untuk belajar
    kebaikan.
  10. Melaksanakan/Mewujudkan Dharma
    Dalam ajaran Catur Parusàrtha dijelaskan bahwa tujuan umat seDharma
    beragama Hindu adalah terpenuhinya kama, artha dan Moksha berdasarkan
    Dharma. Bagaimana Dharma, dapat ditegakkan? Setiap tindakan wajib
    berdasarkan kebenaran, tidak ada Dharma yang lebih tinggi dari kebenaran.
    Bagawad Gita menjelaskan bahwa Dharma dan Kebenaran adalah nafas
    kehidupan. Krisna dalam wejangannya kepada Arjuna mengatakan bahwa
    dimana ada Dharma, disana ada Kebajikan dan Kesucian, di mana kewajiban dan
    kebenaran dipatuhi di sana ada kemenangan. Orang yang melindungi Dharma
    akan dilindungi oleh Dharma juga, maka kehidupan hendaknya selalu ditempuh
    dengan cara yang suci dan terhormat.
    Di saat ini, banyak orang seakan bersikap mengabaikan kebenaran.
    Orang sudah mulai menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Ini
    menandakan krisis moral sudah meraja lela di mana-mana, kebenaran dan
    keadilan semakin langka. Orang-orang sudah mulai meninggalkan budaya malu,
    semua perbuatannya dianggap sudah benar dan normal. Sebenarnya Dharma
    tidak pernah berubah, Dharma tetap ada sejak zaman dahulu, sekarang dan
    yang akan datang. Dharma ada sepanjang zaman tetapi mempunyai karateristik
    menyesuaikan setiap zaman.Melakukan latihan kerohanian (spiritual) untuk
    Kerta Yuga yang baik adalah dengan melakukan latihan Meditasi. Pada zaman
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 173
    Treta Yuga latihan kerohanian yang baik adalah dengan melakukan Yadnya
    atau kurban. Untuk zaman Dwapara latihan kerohanian yang baik adalah
    dengan melakukan Yoga yaitu upacara pemujaan dan untuk zaman Kali Yuga
    latihan kerohanian yang baik adalah dengan melakukan Nama Smarana yaitu
    mengulang-ngulangi menyebut nama Tuhan.
  11. Mendekatkan Diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa
    Proses mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha
    Esa, umat seDharma dapat melakukan dengan cara: Darana (menetapkan
    cipta), Dhyana (memusatkan cipta), dan Semadi (mengheningkan cipta).
    Dengan melakukan latihan rohani seperti ini secara sungguh-sungguh dan
    bekesinambungan, batin yang bersangkutan, akan dapat menyadari kesatuan
    dan menikmati sifat-sifat Tuhan yang selalu ada dalam dirinya. Apabila sifatsifat Tuhan sudah menyatu dengan pemujanya maka ia sudah dekat denganNya, dengan demikian semua permohonannya dapat dikabulkan (terlindung dan
    selamatan) melakukan segala pekerjaan dan menerima hasilnya sesuai dengan
    ikhlas dan jujur.
  12. Menumbuhkembangkan Kesucian (Jiwa dan Raga).
    Untuk memperoleh pengetahuan suci dari Sang Hyang Widhi Wasa, umat
    seDharma hendaknya selalu berdoa memohon tuntunan-Nya. Buku Veda
    Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan menjelaskan : Asatoma Satgamaya,
    Tamasoma Jyothir Gamaya, Mrityorma Amritan Gamaya, artinya: Tuntunanlah
    kami dari yang palsu ke yang sejati, tuntunlah kami dari yang gelap ke yang
    terang, tuntunlah kami dari kematian ke kekekalan (Titib, 1996: 701).
    174 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Sebaiknya setiap akan melakukan kegiatan didahului dengan memohon
    tuntunan kehadapan Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa, agar kita selalu
    dalam keadaan selamat dan terlindungi. Tujuannya adalah agar atman terbebas
    dari triguna dan menyatu dengan Paramàtman. Semuanya dimaksudkan untuk
    mewujudkan tujuan Dharma “Mokshartham Jagadhitaya ca iti Dharmah”
    tercapainya kesejahtraan dan kebahagiaan umat berdasarkan Dharma.
  13. Mempedomani dan Melaksanakan Catur Marga
    Moksha (hidup bahagia) dapat diwujudkan atau ditempuh dengan beberapa
    cara sesuai dengan bakat dan bidang yang ditekuni oleh umat seDharma.
    Disebutkan ada empat cara yang patut dipedomani dan dilaksanakan untuk
    mewujudkan hidup bahagia yang disebut dengan Catur Marga, yang terdiri dari:
    a. Bhakti Marga
    Bhakti marga adalah jalan atau cara untuk mencapai Moksha,
    kebebasan, bersatunya atman dan Brahman dengan melaksanakan sujud
    bhakti kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa. Bhakti adalah cinta yang
    mendalam kepada Tuhan, bersifat tanpa pamerih dan tanpa keinginan
    duniawi apapun juga.
    b. Karma Marga
    Cara atau jalan untuk mencapai Moksha (bersatunya Atman dengan
    Brahman), dengan selalu berbuat baik (tidak mengharapkan balasan),
    hasil yang diperoleh diabdikan untuk kepentingan bersama (amerih
    sukaning wonglen) disebut Karma Marga.
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 175
    c. Jnana Marga
    Jnana Marga adalah jalan untuk mencapai persatuan atau
    pertemuan antara Atman dengan Paramatman (Tuhan) berdasarkan atas
    pengetahuan (kebijaksanaan filsafat) terutama pengetahuan kebenaran
    dan pembebasan diri dari ikatan duniawi (maya) mengamalkan ilmu
    pengetahuan yang dimiliki untuk kesejahteraan untuk manusia dan
    kelestarian alam.
    d. Raja Marga
    Raja marga adalah cara atau jalan untuk mencapai Moksha dengan
    melaksanakan tapa, brata, Yoga, dan semadi. Mengendalikan diri,untuk
    mengatasi gejolak sad ripu yang bersemayam dalam diri kita dengan
    melakukan latihan tapa, brata, Yoga, dan semadi dapat mengantarkan
    seseorang menumbuhkan dan mengembangkan kesabaran untuk
    mencapai ketenangan dalam hidupnya. Ketenangan adalah jalan utama
    bersatunya atman dengan Brahman. Ceritra berikut ini dapat dijadikan
    sebagai ilustrasi untuk belajar mewujudkan ketenangan hidup:
    Belajar Hidup Bahagia
    Di tengah-tengah hutan rimba ada sebuah pesraman yang dipimpin oleh
    seorang Rsi bernama Rsi Çuka. Dalam aktivitas keseharian Rsi Çuka selalu
    memberikan Dharma wecana kepada murid-muridnya tentang tapa, brata, Yoga,
    dan semadi. Dari sekian banyak murid-muridnya ada seorang raja bernama raja
    Jenaka. Raja Jenaka di samping mempunyai kerajaan yang sangat besar, megah
    176 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    dan kaya juga berkeinginan belajar spiritual (tapa, brata, Yoga, dan semadi)
    kepada Rsi Çuka yang sangat terkenal ilmu spiritualnya. Berbagai macam materi
    ujian diberikan kepada para siswanya agar dapat mencapai Moksha dalam
    kehidupan ini. Belajar meninggalkan keduniawian, melepaskan semua ikatan
    material, latihan-latihan menyatukan atman dengan Brahman selalu diupayakan
    dalam proses pembelajaran. Pada suatu hari Rsi Çuka agak terlambat memberikan
    Dharma wecana, sehubungan raja Jenaka ada keperluan kerajaan yang sangat
    mendesak dan tidak boleh diwakili. Rsi Çuka dengan sengaja menunggu Raja
    Jenaka, ingin menguji kesabaran para muridnya apakah dapat mengekang sad
    ripu sebagai dasar belajar Yoga.
    Dari pengamatan Rsi Çuka banyak para muridnya gelisah dan gusar dan
    kadang-kadang timbul marah, tidak sabar menunggu sampai ada yang protes:
    bahwa pelajaran dimulai saja, mengapa kita dibeda-bedakan antara orang biasa
    dengan raja. Setelah Raja datang Dharma wecana baru dimulai dan Rsi Çuka
    memberikan wejangan: di antara kita harus dapat mengendalikan diri, sad
    ripu, dan amarah, sehingga ketenangan bathin dapat diwujudkan pada diri kita
    masing-masing. Setelah Dharma wecana selesai, maka pelajaran dilanjutkan
    dengan Yoga, semadi. Pembelajaran ini dilakukan dengan penuh konsentrasi,
    pikiran-pikiran siswanya terpusat pada proses pembelajaran.
    Suasana khusuk, hening, sepi tercipta di pasraman Rsi Çuka. Sesekali
    hanya suara jengkrik yang terdengar, para muridnya sedang asyik melakukan
    Yoga semadi, tiba-tiba Rsi Çuka berteriak bahwa sedang ada ‘kebakaran’ di
    kota kerajaan. Di antara para murid-nya pada bubar, berlarian pergi ke kota
    kerajaan ingin menyelamatkan harta dan rumahnya yang kebakaran. Tetapi
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 177
    Raja Jenaka tidak bergeming sedikitpun, dia telah masuk dalam keadaan
    semadi, beliau berbahagia dalam atman. Rsi Çuka mengamati wajah Raja
    Jenaka dengan perasaan sangat gembira. Setelah beberapa murid-muridnya
    yang lari kembali dan menyampaikan bahwa di kota Raja tidak ada kebakaran,
    Rsi Çuka pun memberikan penjelasan arti dari peristiwa tersebut. Penundaan
    mulainya Dharma wecana adalah untuk menghormati raja, karena beliau telah
    menghapuskan keakuannnya, kebangsawanannya dan mempunyai kerendahan
    hati dengan tekun berlatih mengendalikan sadripu serta berhasil dengan sangat
    baik. Ini perlu dicontoh oleh semua siswa, katanya. Dan peristiwa kebakaran
    di kota kerajaan sebenarnya tidak pernah terjadi, peristiwa kebakaran adalah
    rekayasa Rsi Çuka dan itu merupakan salah satu materi ujian dari Rsi Çuka.
    Kalau mau berhasil sebagai seorang spiritual (Yoga) harus berani melepaskan
    semua ikatan keduniawian. Tanpa ada kemauan untuk melenyapkan keterikatan
    duniawi ini tertutup kemungkinanya dapat mencapai tujuan sebagai seorang
    yogi (http://hinduismegue.blogspot.com{tgl. 27Juli 2014).
    Berbagai upaya atau pelatihan-pelatihan untuk membebaskan diri dari
    hambatan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dan
    kehidupan ini barangkali sudah dan sedang dilaksanakan oleh umat seDharma,
    namun demikian hal hasilnya belum juga dapat diwujudkan sebagaimana harapan
    bersama. Yakinlah usaha terbaik yang ingin dicapai membutuhkan ketekunan,
    ketulusan, kesujudan, keyakinan dan motivasi tanpa pamerih berpayungkan
    Dharma atau kewajiban. Belakangan ini tidak sedikit umat seDharma dari
    berbagai tingkatan usia sedang melakukan usaha menuju tugas mulia tersebut
    melalui latihan-latihan bersabar, berDharma, Yoga dan semadi dan yang lainnya.
    178 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Berbagai judul buku penuntun berlatih Yoga dan semadi untuk yang baru memulai
    belajar sudah cukup banyak beredar di toko-toko buku. Demikian juga bukubuku yang lainnya yang ditulis bernafaskan ketrampilan, kejujuran, kesabaran,
    menuju sukses ikut menghiasi toko buku/perpustakaan yang ada. Suasana ini
    sangat membantu umat Hindu untuk meningkatkan pembelajaran spiritual dan
    keterampilannya melalui aktivitas membaca.
    Untuk dapat mewujudkan tujuan hidup umat seDharma dan tujuan agama
    Hindu, setiap individu dapat memilih di antara keempat marga (catur marga)
    tersebut. Pada hakikatnya semuanya adalah sama tidak ada yang lebih tinggi
    atau lebih rendah kedudukannya, yang utama adalah bagaimana umat dengan
    sungguh-sungguh, meyakini, tulus, dan disiplin untuk melaksanakannya.
    Segala sesuatu yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, yakin, tulus, dan
    penuh disiplin maka betapapun sulitnya hambatan dan tantangan yang dihadapi
    termasuk untuk mencapai ‘Moksha’semoga dapat diwujudkan.
    Uji Kompetensi:
  14. Hambatan dan tantangan apakah yang Kamu hadapi di zaman global
    ini untuk mewujudkan jagadhita dan Moksha? Jelaskanlah!
  15. Setelah Kamu membaca teks penerapan ajaran Moksha, apakah yang
    Kamu ketahui tentang tujuan utama manusia dan tujuan agama Hindu?
    Jelaskan dan tuliskanlah!
  16. Buatlah ringkasan yang berhubungan dengan penerapan ajaran
    Moksha, guna mewujudkan tujuan hidup manusia dan tujuan agama
    Hindu, dari berbagai sumber media pendidikan dan sosial yang anda
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 179
    ketahui! Tuliskan dan laksanakanlah sesuai dengan petunjuk dari
    bapak/ibu guru yang mengajar di kelas!
  17. Bagaimana cara Kamu untuk mengendalikan diri baik itu dari unsur
    jasmani maupun rohani menurut petunjuk kitab suci yang pernah
    Kamu baca? Jelaskan dan tuliskanlah pengalamannya!
  18. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari usaha dan
    upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini
    “Mokûha”? Tuliskanlah pengalaman Kamu!
  19. Amatilah lingkungan sekitar Kamu terkait dengan penerapan ajaran
    Moksha guna mewujudkan tujuan hidup manusia dan tujuan agama
    Hindu, buatlah catatan seperlunya dan diskusikanlah dengan orang
    tuanya!Apakah yang terjadi? Buatlah narasinya 1-3 halaman diketik
    dengan huruf Times New Roman-12, spasi 1,5 cm, ukuran kertas
    kwarto: 4-3-3-4!

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jalan Menuju Moksha Dalam Agama Hindu

Hambatan Globalisasi Dalam Mencapai Moksha