in

Sloka Ajaran Bhakti Sejati dalam Ramayana

Sloka Ajaran Bhakti Sejati dalam R¢m¢yana

Ramayana adalah kitab suci Veda Smrti tergolong Upaveda yang disebut
Itihasa. R¢m¢yana sebagai Itihasa yang terdiri dari 7 Kanda dengan jumlah
sloka sebanyak 24.000 buah stanza. Ramãyana sebagai kitab suci Veda ditulis
oleh Bhãgawan Walmiki. Menurut tradisi, kejadian yang dilukiskan di dalam
Ramãyana menggambarkan kehidupan pada zaman Tretayuga tetapi menurut
kritikus Barat berpendapat bahwa Ramãyana sudah selesai ditulis sebelum tahun
500 S.M. Diduga ceritanya telah populer tahun 3100 S.M.
Ramãyana merupakan epos Aryanisasi yang ditulis dalam bentuk stanza,
meliputi puluhan ribu buah stanza. Penulisnya sendiri menamakannya puisi,
akhyayana, gita dan samhita. Seluruh isi dikelompokkan di dalam tujuh kanda
212 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
yaitu; Kiskindha kanda, Sundara kanda, Yuddha kanda dan Uttara kanda.
Tiap-tiap kanda itu merupakan satu kejadian yang menggambarkan ceritera
yang menarik. Kitab ini dikenal sebagai Adikawya sedangkan Walmiki dikenal
sebagai Adikawi.


Banyak gubahan ditulis dalam berbagai bentuk dalam versi baru seperti
Ramãyanatatwapadika ditulis oleh Maheswaratirtha, Amrtakataka oleh Sri Rama,
Kekawin R¢m¢yana oleh Mpu Yogiswara, dan sebagainya. Tentang kedudukan
Itihasa di antara Weda itu disebutkan secara sepintas lalu saja di dalam Weda
Sruti di mana di dalam Weda Sruti kita jumpai istilah-istilah Akhyayana itu
dimasukkan pula ke dalam Itihasa. Itihasa berasal dari tiga kata yaitu Iti – ha –
asa yang artinya “Sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya”. Jadi, Itihasa
memuat unsur sejarah yang memuat macam-macam isi. R¢m¢yana adalah
sebuah epos yang menceritakan riwayat perjalanan R¢m¢ dalam hidupnya di
dunia ini. R¢m¢ adalah tokoh utama dalam epos R¢m¢yana yang disebutkan
sebagai awatara Visnu. Kitab Pur¢na menyebutkan ada sepuluh awatara Visnu,
satu di antaranya adalah R¢m¢.Menurut kritikus Barat, R¢m¢yana dibandingkan
sebagai kitab Illiad karya Homer.

q
Subramaniam, Kamala menjelaskan bahwa “ Úri R¢ma, figur lama pada
jaman yang heroik, perwujudan kebenaran, perwujudan dari moralitas, putra
yang ideal, suami yang ideal, ayah yang ideal, dan selain itu sebagai seorang
raja yang ideal, Ràma ini telah disajikan kepada kita oleh Rsi Valmiki. Tidak
ada bahasa yang lebih suci, lebih murni, tidak ada yang lebih indah dan pada
saat yang sama lebih sederhana dari pada bahasa yang telah digunakan oleh
sang penyair yang agung ini dalam menceritakan kehidupan Úri R¢ma”. “Lalu
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 213
bagaimana dengan Úità? Anda mungkin saja harus kehabisan segala bentuk
literatur di masa lalu dan saya juga menjamin Anda juga akan harus kehabisan
literatur masa depan sebelum Anda bisa mendapatkan figur seperti Úità. Úità
adalah unik, sebuah karakter yang dilukiskan sekali dan untuk selamanya.
Mungkin saja akan ada beberapa orang Úri R¢ma, akan tetapi tidak akan ada
lagi yang seperti Úità! Dia adalah tipe wanita yang sejati, karena segala karakter
seorang wanita India yang sejati muncul dari figur dan kehidupan Úità. Dan di
sinilah dia berdiri dan mengajarkan penghormatan kepada setiap orang wanita
dan anak-anak sepanjang dan seluas Aryavarta (India). Dan di sana dia akan
selalu ada, Úità yang agung, yang lebih suci dari kesucian itu sendiri, cermin
dari segala kesabaran dan penderitaan.” (Sanjaya, I Gede. 2004: vi). Ràmàyana
telah dijuluki sebagai Adi Kavya, sebagai sumber inspirasi spiritual, budaya dan
seni selama bertahun-tahun belakangan ini dan ini tidak hanya terjadi di India
namun juga di Negara-negara Asia Tengara. Kitab Ràmàyana telah memperkaya
kesusastraan negara-negara itu dan juga telah membuat tema-tema berdasarkan
epos ini dalam berbagai seni seperti tarian, drama, musik, lukisan dan pahatan.
Karakter heroik yang terdapat di dalamnya juga telah membantu mengambarkan
karakter Hindu, dan tiga tokoh kuncinya, yaitu Úri R¢ma, Úità dan Hanómàn
telah menginspirasikan jutaan orang baik dari golongan rendah ataupun tinggi
dalam skala Sosial ekonomi, dengan kasih, penghormatan, pengabdian yang
terdalam, terhalus dan tersuci. Ràmàyana terdiri dari 7 kanda yang masingmasing mengisahkan;

  1. Kàóða I (Bàla Kàóða) mengisahkan tentang; 1) Rsi Vàlmìki dan Rsi
    Nàrada, 2) Kedatangan Deva Brahmà, 3) Vàlmîki mulai menyusun
    214 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    mahàkarya Ràmàyana, 4) Daúaratha, dan kesedihannya, 5) Upacara
    Àúvamedha, 6) Para Dewa dalam Kesedihan, 7) Kelahiran R¢ma, 8)
    Viúvàmitra mendatangi Daúaratha, 9) Viúvàmitra dan dua pangeran
    muda, 10) Tàtakà Vàna (Hutan Tàtakà), 11) Terbunuhnya raksasa
    Tàtakà, 12) Sidhàúrama, 13) Yàga Visvamitra, 14) Menuju Mithila,
    15) Sungai Ganggà, 16) Tapa sang Bhagìratha, 17) Menuju àúrama Åûi
    Gautama, 18) Di kerajaan mithila, 19) Viúvàmitra, 20) Åûi Vasiûþha
    menjamu raja Kausika, 21) Raja yang putus asa, 22) Kekuatan sang
    Bràhmana, 23) Triúanku dari Generasi Sór, 24) Sebuah Surga Baru,
    25) Sunashiepha, 26) Kejatuhan Kaushika, 27) Viúvàmitra, Sang
    Brahmarsi, 28) Busur Mahàdeva, 29) Daúaratha berangkat ke Negeri
    Mithila, 30) Di Mithila, 31) Sità Kalyànam, 32) Paraúuràma, Sang
    Bhàrgava.
  2. Kàóða II (Ayodhya Kàóða) terdiri dari kisah; 1) R¢ma, 2) Keinginan
    dalam hati Daúaratha, 3) “Besok….” kata sang raja, 4) Persiapanpersiapan, 5) Si pelayan, Mantharà, 6) Keputusan Kaikeyi, 7) Daúartha
    datang pada Kaikeyi, 8) Fajar dari hari yang mengenaskan, 9) Kaìkeyi
    berbicara pada Ràma, 10) Kemarahan Lakûmaóa, 11) Keteguhan hati
    R¢ma, 12) Berkat (ijin) seorang ibu, 13) R¢ma dan Sità, 14) Permintaan
    Lakûmaóa, 15) Di hadapan ayahanda Daúaratha, 16) Kaikeyì membawa
    semua valkala, 17) Perpisahan yang mengharukan, 18) Keputusan
    Daúaratha, 19) Di pinggir sungai tamasa, 20) Perjalanan, 21) Guha,
    seorang pemimpin para pemburu, 22) Malam ketiga pembuangan
    mereka, 23) Aúrama Bharadvaja, 24) Akhirnya, sampai di Citrakuta,
    25) Sumantra kembali ke Ayodhya, 26) Kutukan seorang åûi, 27)
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 215
  3. Kàóða III (Aranyaka Kàóða) mengisahkan; 1) Ràma meninggalkan
    citrakóta, 2) Atri dan anasóyà, 3) Hutan Dandaka, 4) Membunuh
    raksasa Viràdha, 5) Åûi Sarabhanga, 6) Åûi Sutìksna, 7) Teguran
    peringatan Sità, 8) Keagungan åûi Agastya, 9) Àúram Åûi Agastya,
    10) Pañcavati, 11) Ràksasa Shurphanaka, 12) Khara, Dhusana dan
    Triúira, 13) Ràvana memberitahu tentang kejadian di Jahasthana, 14)
    Úūrpanakha dan cerita sedihnya, 15) Menuju, àúram Marica lagi, 16)
    Sang kijang emas, 17) Tewasnya Marica, 18) Ràvana dalam jubah
    samaran, 19) Kematian, Jatayu, 20) Úità di Kota rahwana, Alaòkà, 21)
    Kesedihan R¢ma, 22) Pencarian yang sia-sia, 23) Bertemu Jaþayu, 24)
    Ayomukhi dan Kabandha, 25) Secercah harapan, 26) Àúrama Shabarì,
    27) Danau Pampà, 28) Kesedihan R¢ma.
  4. Kàóða IV (Kishindha Kàóða) memuat cerita tentang; 1) Sugrìva
    mengirim Hanómàn pada Ràma, 2) Terjalinnya sebuah persahabatan,
    3) Vàli dan Sugrìva, 4) Kehebatan Vàli, 5) Sugrìva meragukan
    kesaktian R¢ma, 6) Terbunuhnya Vàli, 7) Kecaman Vàli pada Ràma,
    8) R¢ma membenarkan tindakannya, 9) Kesedihan tara, 10) Penobatan
    Sugrìva dan Anggada, 11) R¢ma dan Lakûmaóa di Hutan Prasravana,
    12) Ketidaksabaran R¢ma, 13) Kemarahan Lakûmaóa, 14) Lakûmaóa
    ditenangkan hatinya, 15) Awal pencarian Úità, 16) Kelompok pasukan
    yang bertugas ke selatan, 17) Keputusan para Vanara, 18) Sàmpati sang
    rajawali tua, 19) Bagaimana menyeberangi lautan, 20) Keagungan
    Hanūmàn.
    216 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
  5. Kàóða V (Sundara Kàóða) mengisahkan tentang; 1) Lompatan
    yang luar biasa, 2) Hanómàn memasuki kota Laòkà, 3) Kota Laòkà,
    4) Hanómàn melihat Mandodari, 5) Hanómàn melihat Úità, 6)
    Kedatangan Ràvana, 7) Setitik harapan, 8) Hanómàn bertemu Úità,
    9) Úità mendengarkan tentang R¢ma, 10) Pesan Úità pada R¢ma, 11)
    Perusakan taman Asokavana, 12) Brahmàstra, 13) Hanómàn di sidang
    Ràvana, 14) Kebakaran dahsyat di Laòkà, 15) Kembalinya Hanómàn,
    17) Kebun Madhuvana Sugrìva, 17) Cerita Hanómàn.
  6. Kàóða VI (Yuddha Kàóða) mengisahkan tentang 1) Persiapan
    sebelum perang, 2) Longmarch menuju selatan, 3) Ràvana yang mulai
    khawatir, 4) Ràvana kehilangan Vibhisànà, 5) Vibhisànà dan R¢ma,
    6) Persiapan untuk perang, 7) Kemarahan R¢ma, 8) Pembangunan
    jembatan, 9) Spekulasi-spekulasi, 10) Ràvana berusaha membuat Úità
    sedih, 11) Di ruang sidang kembali, 12) R¢ma dengan orang-orangnya,
    13) Kecerobohan Sugrìva, 14) Misi Angada, 15) Panah Nàgapasa,
    16) Úità melihat R¢ma di medan perang, 17) Kedua pangeran Kosala
    sembuh kembali, 18) Ràvana mengutus Prahastha ke medan perang,
    19) Ràvana di medan perang, 20) Kumbhakarna dibangunkan, 21)
    Kumbhakarna di medan perang, 22) Kematian Kumbhakarna, 23)
    Pangeran-pangeran muda Laòkà ke medan perang, 24) Kehebatan
    pangeran-pangeran Laòkà, 25) Indrajìt, 26) Tanaman obat, Sañjivini,
    27) Kumbha dan Nikumbha, 28) Indrajìt datng lagi ke medan perang,
    29) Maya Úità (Úità palsu) terbunuh, 30) Yàga di Nikumbhilà, 31)
    Lakûmaóa menyerang Indrajit, 32) Terbunuhnya Indrajit, 33) Ràma
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 217
    terhibur kembali, 34) Kesedihan Ràvana, 35) Mólabala Ràvana,
    36) Ràvana melakukan persiapan ke medan perang, 37) Mencari
    Sanjivini lagi, 38) Pertandingan final (penentuan), 39) Terbunuhnya
    Ràvana, 40) Ketika Ràvana mati, 41) Ratapan Mandodari, 42) Upacara
    pemakaman, 43) Ràma mengutus Hanómàn pada Úità, 44) Ràma dan
    Úità, 45) Pembuktian kesucian Úità dengan ritual api, 46) Para dewa
    turun ke bumi, 47) Perjalanan pulang ke Ayodhya, 48) Hanómàn
    di Nandigràma, 49) Kembalinya Ràma ke tanah kelahirannya, 50)
    Penobatan Ràma menjadi Raja Phalaúruti.
  7. Kàóða VII (Uttara Kàóða) mengisahkan tentang 1) Uttara Kàóða.
    R¢m¢yana sebagai kitab Itihasa mengisahkan tentang avatara Viûnu
    (Úri Ràma) dalam menumpas keangkaramurkaan bangsa raksasa
    (R¢hvana) yang bertindak adharma. R¢m¢yana menceritrakan tentang
    perjalanan Sang Ràma dalam, pengabdian, kesetiaan, kepahlawanan,
    pelaksanaan ajaran dharma, perjalanan spiritual berlandaskan catur
    purus¢rtha hendaknya dipergunakan sebagai sumber inspirasi dalam
    pengabdian hidup bermasyarakat. R¢m¢yana sebagai Itihasa dalam
    bentuk kitab diyakini ditulis oleh Bhãgawan Walmiki terdiri dari 7
    Kanda dengan jumlah sloka sebanyak 24.000 buah/ stanza. Sedangkan
    R¢m¢yana dalam bentuk kekawin yang ditulis oleh Mpu Yogiswara
    terdiri dari 26 Sargah dengan jumlah sloka sebanyak 2.788 bait/sloka.
    Adapun sloka-sloka kitab R¢m¢yana yang memuat ajaran Ajaran Bhakti
    Sejati, Antara lain;
    218 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Tatk¢l¢n kadi k¢lamrètyu sakal¢tyanteng galak yar pamuk,
    yek¢ngsÛnira sang raghóttama tum¢t sang laksman¢ngimbangi,
    lawan sang gunaw¢n wibh¢sana pad¢mèntang laras nirbhaya,
    rangkèp ring guna agraning kekawihan agreng kawìran sire,
    Terjemahannya:
    Tatkala sang R¢w¢na berwujud Makhluk maut, ia mengamuk dengan
    galaknya. Pada waktu itu sang R¢m¢ maju beserta Laksamana mendampinginya,
    disertai sang Wibis¢na yang bijaksana. Mereka bersama menarik busur dan sama
    sekali tiada gentar, karena kesempurnaan ilmu, kemampuan dan keperwiraannya
    (Kw. R¢m¢yana, III.XXIV.1).
    Kesatrya: R¢m¢ selalu tampil sebagai pemberani dalam membela kebenaran
    yang sejati.
    Ajaran Bhakti Sejati kesatrya yang utama
    dilaksanakan oleh R¢m¢ dalam bait sloka
    R¢m¢yanaIII.XXIV.1 adalah Rama sebagai seorang
    raja gagah berani dalam mengadapi musuhmusuhnya yang ingin merusak kerajaannya dengan
    sifat dan sikap gagah berani, pantang menyerah di
    hadapan musuhnya. Sebagai seorang kesatryasejati
    Rama tidak pernah mundur dalam menegakan
    Dharma negara. Rama rela mengorbankan jiwa
    dan raganya demi keutuhan wilayah negaranya.
    Gambar 4.3 Rama –
    Laksamana – Hanoman
    Sumber ; http://unikahidha.
    ub.ac.id (11-7-2012)
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 219
    Demikian juga sifat dan sikap kesatrya sejati tersebut ditunjukkan oleh adiknya,
    Pangeran Wibhisana. Wibhisana sebagai seorang kesatrya sejati yang cerdas dan
    mempuni di bidang perang dengan anak panahnya dengan sangat mudah dapat
    menggempur musuh-usuhnya ikut bersama Rama mempertahankan negaranya
    dari rongrongan musuhnya yakni Rahwana. Rama dan Pangeran Wibhisana
    adalah putra ayodhya yang cerdas, pintar, cekatan dan terampil dalam bela
    Negara. Kedua Pangeran (Rama dan Wibhisana) tampil di medan pertempuran
    dengan sikap kesatrya sejati abdi kerajaan.
    S¢ngsö sang tiga déwata Tripurusa pratyaksa m¢wak katon,
    Sang Hyang Tryagni murub pad¢ nira dilah tulya manah tan padém,
    mangkin dhìra aho ahangkréti nik¢, sang krura Léngk¢dhipa,
    tar kéwran lumagéng tigangwang amanah m¢na ng manah nimna ya.
    Terjemahannya:
    Tat kala beliau bertiga maju tampak sebagai Hyang Tripurusa, bagaikan
    Hyang Tri Agni berkobar pikiran beliau yang pantang mundur merupakan
    nyalanya, semakin gagah perkasa dan angkuh Sang Ràwana prabhu Lengka,
    tidak merasa gentar menghadapi ke tiganya dan membulatkan tekad dengan
    perkasa melepaskan panah (Kw. R¢m¢yana, XXIV.2).
    Pengabdian; Pengabdian kepada sifat dan sikap kebenaran harus tetap
    mengandalkan sikap kasih sayang terhadap sesama sekaligus terhadap mahkluk
    lainnya. Kasih sayang “ahimsa” mengandung makna tidak menyakiti, baik
    melalui pikiran, perkataan, dan tindakan terhadap mahkluk manapun termasuk
    220 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    manusia. Prinsip kasih sayang ini harus dilaksanakan dalam aktivitas keseharian
    umat manusia di tingkat keluarga, tetangga, sekolah dan di masyarakat. Kasih
    sayang adalah merupakan bentuk dasar dari usaha pencegahan konflik dalam
    diri sendiri maupun di masyarakat. Karena konplik biasanya muncul akibat
    berbagai perilaku yang “menyakitkan” dapat dialami oleh manusia dan mahkluk
    yang lainnya. Apabila setiap pribadi dari anggota masyarakat dapat mematuhi
    perinsip ini, sudah tentu setiap konplik yang mau muncul dapat diminimalisir.
    Setiap manusia hendaknya secara sadar dapat mengamalkan perinsip ini sebagai
    kebutuhan dasar kemanusiaan untuk tidak saling menyakiti dan memusuhi antar
    sesamanya.
    Seseorang tidaklah dapat hidup sendiri tanpa dibantu oleh sesamanya.
    Adanya saudara, teman dan sebagainya sesungguhnya merupakan orang yang
    patut dibantu dan akhirnya mau membantu kita dalam kehidupan ini. Sikap
    dan perilaku saling mengasihi hendaklah dikembangkan mulai dari diri sendiri,
    tingkat keluarga, sekolah dan terakhir di masyarakat. Keluarga, sekolah dan
    masyarakat adalah sebagai tempat berlatih dan membudyakan sikap dan perilaku
    saling mengasihi di antara kita. Sangat tidaklah mungkin seseorang tidak saling
    memerlukan orang. Sesungghunya semuanya adalah saling berhubungan dan
    saling membantu. Berikut ini adalah beberapa sloka dalam R¢m¢yana yang
    bernafaskan pengabdian sebagai wujud bhakti sujati Úri R¢ma dengan sesamanya;
    Sang Lakûmaóa sira dibya,
    Sira sama suka duhka mwang Sang Rãma,
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 221
    Rumakét citta nira lanã,
    dadi ta sira tumót maréng patapan.
    Terjemahannya:
    Sang Laksamana beliau mulia, beliau bersama-sama dalam duka dan suka
    dengan Úri R¢ma, lekat hatinya selalu, maka beliau ikut pergi ke pertapaan (Kw.
    R¢m¢yana Sargah I.59).
    Selanjutnya dalam sloka kekawin Ràmàyana dijelaskan, sebagai berikut:
    Nghulun ãnak Bhaþãra Sri,
    Ndan duracãra ta nghulun,
    Sédhéng kwa cangkraméng swargga,
    Anglangkahi mahãmuni.
    Terjemahannya:
    “Saya adalah putra bhatara Sri, tetapi saya pernah berbuat kesalahan, waktu
    saya berjalan-jalan di sorgga, dengan tidak sengaja melangkahi seorang maharsi
    (Kw. R¢m¢yana Sargah VI.83).
    Sangké géléng niré nghulun,
    Manãpa dadya rãksasa,
    Kitãtah anta úãpãngku,
    Apan putrãku dénta wén.
    222 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Terjemahannya:
    Karena marahanya beliau kepada saya, lalu mengutuk agar menjadi
    raksasa, tuanlah yang patut menghakhiri kutukan yang menimpa diriku, sebab
    sesungguhnya saya adalah putra Tuan (Kw. R¢m¢yana Sargah VI.84).
    Kesetiaan; Mengembangkan kesetiaan terhadap bangsa dan negara
    adalah sangat perlu dilakukan. Setia kepada bangsa serta negara sendiri bukan
    berarti mengagung-agungkannya. Juga bukan berarti merasa lebih unggul dari
    bangsa-bangsa lain. Menghargai dan menghormati bangsa-bangsa yang ada
    serta bekerja sama dengannya juga perlu dilakukan. Kita mengakui bahwa
    semua bangsa di dunia ini mempunyai derajat dan bermartabat. Sebagai Bangsa
    Indonesia hendaknya merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
    Oleh karena itu, kita harus mengembangkan sikap hormat menghormati dan
    bekerjasama dengannya. Dengan semangat persatuan dan kesatuan, kita
    meneruskan perjuangan serta mengisi kemerdekaan melalui mewujudkan
    pembangunan di segala bidang. Jiwa serta semangat persatuan sebagai syarat
    mutlak bagi terciptanya cita-cita yang ingin kita wujudkan,
    Sikap menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan
    pribadi atau golongan hendaknya kita sadari dan kita laksanakan dengan sepenuh
    hati. Selayaknya kita rela berkorban dan ikhlas serta setia kepada bangsa dan
    negara kita sebagai ciri khas kepribadian bangsa Indonesia. Seseorang dapat
    dikatan sebagai sosok yang setia apabila dalam hidupnya dapat mengamalkan
    nilai-nilai bhakti sujati dengan perwujudannya seperti; rela berkorban,
    pengabdian, tanggung jawab, kemitraan, patrotik, berkepribadian, cinta tanah
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 223
    air, disiplin, hormat, tertib dan setia. Berikut ini adalah beberapa sloka dalam
    R¢m¢yana yang bernafaskan persahabatan yang setia sebagai wujud bhakti
    sujati dengan sesamanya;
    Masih ta sang réûi mawéh ta sirãstra diwya,
    Sang Rãma Lakûamana paréng winarah mangajya,
    Widyãtidurjaya jayã wijayã jayãnti,
    Yékin pawéh ri sira dibya amoghaúakti.
    Terjemahannya:
    Dengan rasa kasih sayang sang resi menganugrahkan panah yang hebat, Sang
    R¢ma dan Sang Laksamana sama-sama diberikan pelajaran, pengetahuan yang
    tak terkalahkan Berjaya selalu unggul pasti menang, inilah yang dianugrahkan
    kepada beliau yang amat mulia dan sakti dan tidak pernah gagal (Kw. R¢m¢yana
    Sargah II.22).
    Selanjutnya dalam sloka kekawin Ràmàyana dijelaskan, sebagai berikut:
    Hé Rãma hé Raghusuta,
    Haywa sãhasa ri nghulun,
    Jãtayu tãku tan kãlén,
    Weruh tãkun Jãnakin pinét.
    224 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Terjemahannya:
    “Wahai, Sang Ràma turunan Raghu, jangan berbuat kejam kepada hamba,
    hamba adalah Jatayu, tiada lain. Hamba mengetahui Tuanku pasti mencari Dewi
    Sita” (Kw. R¢m¢yana Sargah VI.67).
    Nã ling nirang mahãpaksi,
    Manémbah Sang Raghóttama,
    Sirang Jatãyu kãrunya,
    Mitra kãsih nirang bapa.
    Terjemahannya:
    Demikianlah penjelasan Sang Jatayu, menghormatlah Sang Ràma, beliau
    sangat kasihan melihat Sang Jatayu, Jatayu adalah sahabat kesayangan ayahnya
    (Kw. R¢m¢yana Sargah VI.68).
    L¢wan j¢ti nikang wyamoha tumémung bhog¢ wéro y¢lupa
    Tan weruh ring manganugrahé ya mahiwang sakténg nginak kéwala,
    Ndan lotatya naréndra ri nghulun apan módati mód¢dharma,
    Sangké pét naran¢tha hétu ni tutur ning móda yékin téka.
    Terjemahannya:
    Dan sesungguhnya si bodoh waktu memperoleh kenikmatan pasti ia mabuk
    dan lupa, tidak ingat lagi kepada yang memberikan kenikmatan berbuat salah
    sangat lengket kepada kenikmatan semata, tetapi Tuanku harap bersabar terhadap
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 225
    perbuatan hamba yang teramat bodoh dan hina dina, dari usaha Tuankulah yang
    menyebabkan si bodoh baru ingat dan kini ia dating menghadap (Kw. R¢m¢yana
    Sargah VII.46).
    Demikianlah penjelasan Sang Sugriwa, sembari memohon ampun kehadapan
    Úri R¢ma sebagai jungjungannya. Sebagai sahabat yang sejati Úri R¢ma dapat
    menerima dan gembira mendengar permohonan maaf dan kesediannya sebagai
    sahabat yang sejati.
    Kepahlawanan; Úri R¢ma sebagai
    putra Raghu, kesatria pemberani selalu
    tampil dalam membela kebenaran yang
    sejati. Dalam mengadapi musuh-musuhnya
    yang ingin merusak kedamaian negara dan
    kerajaannya, Ia selalu tampil dengan sifat
    dan sikap gagah berani, pantang menyerah
    di hadapan musuhnya. Sebagai seorang
    kesatrya sejati Úri R¢ma tidak pernah
    mundur dalam menegakan Dharma negara.
    Beliau rela mengorbankan jiwa dan raganya
    demi keutuhan wilayah negaranya. Demikian juga sifat dan sikap kesatrya
    sejati tersebut di tunjukkan oleh adiknya, Pangeran Laksamana dan Wibhisana.
    Wibhisana sebagai seorang kesatrya sejati yang cerdas dan mempuni di bidang
    perang dengan anak panahnya dengan sangat mudah dapat menggempur
    Gambar : 4.4 Ràma Sita –
    Laksamana – Wibhisana
    Sumber ; http://unikahidha.
    ub.ac.id (11-7-2012)
    226 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    musuh-musuhnya ikut bersama R¢m¢ mempertahankan negara dari rongrongan
    musuhnya yakni Ràwana. Úri R¢ma dan Pangeran Laksamana dan Wibhisana
    adalah putra ayodhya yang cerdas, pintar, cekatan dan trampil dalam bela
    negara. Ketiga Pangeran (Úri R¢ma, Laksamana dan Wibhisana) tampil dimedan
    pertempuran dengan sikap kesatrya sejati abdi kerajaan. Berikut ini adalah sloka
    ajaran bhakti sejati dalam kekawin R¢m¢yana:
    Ikanang dhanurdhana kabéh,
    kapwa ya bhakti ri sira pranata matwang,
    kadi mawwata yasã lanã,
    rópa nya nagÛng ta kîrttinira.
    Terjemahannya:
    Prajurit panah itu semua, semuanya bakti, tunduk, hormat kepada Baginda,
    seperti akan mempersembahkan jasa selalu, tampaklah besar jasa-jasa mereka
    itu (Kw. R¢m¢yana Sargah I.8).
    Tatk¢l¢n kadi k¢lamrétyu sakal¢tyanteng galak yar pamuk,
    Yek¢ngsÛ nira sang raghóttama tumót sang laksman¢ngimbangi,
    lawan Sang Gunaw¢n Wibh¢sana pad¢ méntang laras nirbhaya,
    rangkép ring guna agra ning kekawihan agréng kawìran sira.
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 227
    Terjemahannya:
    Tatkala Sang R¢wana bagaikan Dewa Maut, mengamuk dengan perkasa,
    pada saat itu Sang R¢ma dan Sang Laksamana maju ke depan menandingi,
    dan Sang Wibis¢na yang arif-bijaksana turut membidikkan panah tidak merasa
    gentar, sempurna dalam hal kesaktian serta keperkasaan sangat utama (Kw.
    R¢m¢yana, XXIV.1).
    Wulatta rikanang manéwita kabéh waték séwaka,
    Guna nya kalawan asih nya matuhan ik¢ tinghali,
    Suúìla asgunabhakti yadi tan sujanm¢ tuwi,
    Sayogya pahayun nik¢ nguni-nguni sujanm¢lapén.
    Terjemahannya:
    Perhatikanlah semua yang mengabdi terutama hamba sahaya! Kebajikan dan
    kasih sayangnya bertuan perhatikanlah! Susila, baik budhi, amat bhakti meski
    bukan orang bangsawan sekalipun, haruslah dihormati apalagi orang bangsawan
    patut dimanfaatkan (Kw. R¢m¢yana Sargah III.72).
    Demikianlah R¢ma memimpin negara (kerajaannya) sebagai kesatrya
    yang tangguh selalu mengupayakan keamanan, kesejahtraan, dan kedamaian
    negara dan bangsanya. Semuanya itu dilaksanakan sebagai kesatrya sejati guna
    mewujudkan bhakti sejatinya untuk negara dan bangsa yang dipimpinnya.
    228 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Persatuan: Rama selalu bersatu dalam membela kebenaran yang sejati
    Ajaran Bhakti Sejati Persatuan; R¢m¢ selalu mengutamakan persatuan
    dalam membela kebenaran untuk mempertahankan Negera dan membela rakyat
    yang dipimpinnya selalu mengutamakan persatuan sebagai tertulis dalam bait
    sloka R¢m¢yanaIII.XXIV.2 adalah Rama sebagai seorang raja gagah berani
    dalam mengadapi musuh-musuhnya yang ingin merusak kerajaannya dengan
    sifat dan sikap bersatu, pantang menyerah dihadapan musuhnya. Sebagai seorang
    pemersatu sejati Rama tidak pernah mundur dalam menegakan Dharma negara.
    Rama rela mengorbankan jiwa dan raganya demi keutuhan wilayah negara
    yang dipimpinnya. Demikian juga sifat dan sikap persatuan sejati tersebut di
    tunjukkan oleh adiknya, Pangeran Wibhisana. Wibhisana sebagai seorang
    kesatrya sejati yang cerdas dan mempuni di bidang perang dengan anak panahnya
    dengan sangat mudah dapat menggempur musuh-musuhnya ikut bersama Rama
    mempertahankan negaranya dari rongrongan musuhnya yakni Rahwana. Rama
    dan Pangeran Wibhisana adalah putra Ayodhya yang cerdas, pintar, cekatan dan
    terampil dalam bela negara. Kedua Pangeran (Rama dan Wibhisana) tampil di
    medan pertempuran dengan sikap persatuan yang sejati abdi kerajaan.
    N¢ tojar nira niscayanglépasakén tékang lipung tan luput,
    limpad pyah nirang¢ryya Laksmana tib¢ tibr¢nangis tang kaka,
    as¢só sira sang kapindra kapégan [n] ambék nikang wré kabéh,
    n-ton Sang Laksmana mórcitangésah asih sang siddha mungguwing langit.
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 229
    Terjemahannya:
    Demikianlah Sang Ràwana menantang sangat yakin lalu melepaskan senjata
    konta tepat mengenai sasaran. Tembus lambung Sang Laksamana lalu jatuh
    menderita luka parah, Sang Ràma akhirnya menangis, Sang Sugriwa menjerit
    kesedihan dan pasukan kera itu terperenyak kesedihan (Kw. R¢m¢yana, XXIV.9).
    Melaksanaan ajaran Dharma; Manusia mempunyai tujuan hidup yang
    sama yakni untuk menciptakan keamanan, ketenangan, dan kedamaian. Apabila
    seseorang selalu ingin memperlihatkan kemewahan dan memamerkan harta
    kekayaannya, berarti mereka berbuat yang tidak sesuai dengan ajaran agama.
    Dharma mengajarkan hidup sederhana, artinya kita tidak membenarkan bersikap
    berlebihan, kita harus menghormati dan mensyukuri apa adanya. Melaksanakan
    Dharma berarti orang yang bersangkutan dituntut untuk mampu menyerasikan
    hidup dengan masyarakat sekitarnya. Dalam kehidupan berkeluarga hendaknya
    selalu menumbuhkan keinginan untuk hidup serasi, selaras, dan seimbang
    sehingga tercapai kebahagiaan. Oleh karena itu, dalam menggunakan sesuatu
    yang menjadi milik kita, kita harus benar-benar menerapkan azas tepat guna dan
    bermanfaat serta tidak menimbulkan gejolak bagi orang lain.
    Manusia memiliki hak untuk dihormati dan berkewajiban menghormati
    sesamanya. Dalam mempertahankan kehidupannya manusia senantiasa berusaha
    untuk memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan yang dimaksud adalah
    kebutuhan yang bersifat jasmani dan yang bersifat rohani. Untuk memenuhi
    kebutuhan tersebut hendaknya kita berusaha memenuhinya secara bersamasama sehingga tercipta keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hidup
    230 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    dengan masyarakat sekitarnya. Sikap dan perilaku seperti ini sangat menunjang
    tercapainya suatu kebahagiaan hidup. Pemenuhan kebutuhan hidup hendaknya
    menyesuaikan diri dengan kemampuan materiil maupun spiritual yang dimiliki.
    Meskipun demikian, bukan berarti kita harus berserah diri kepada keadaan, namun
    hendaknya selalu berusaha dan berupaya untuk meningkatkan kemampuan
    guna mencapai kehidupan yang lebih baik sebagai wujud bhakti sejati. Berikut
    ini adalah beberapa sloka dalam R¢m¢yana yang bernafaskan ajaran Dharma
    sebagai wujud bhakti sejati dengan sesamanya;
    Úéûa mahàrûi mamuja,
    purnnahuti dibya pathyagandharasa,
    ya ta pinangan kinabéhan,
    dé nira déwì mahàràja.
    Terjemahannya:
    Sisa sang maharsi memuja; sajen-sajen yang lengkap, utama, enak, harum
    dan lezat, itulah yang disantap bersama-sama, oleh Permaisuri Baginda Raja
    (Kw. R¢m¢yana Sargah I.31).
    Hé n¢tha sang nrépati sura mah¢prabh¢wa,
    Dharm¢rtha k¢ma gawayén tuwi dé naréndra,
    Mitra Hyang Indra kita déwata tulya s¢ks¢t,
    Bh¢gyan témén kami daténg naran¢tha mangké.
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 231
    Terjemahannya:
    Wahai Raja yang pemberani dan amat perkasa, dharma, artha, kama itulah
    telah Tuan laksanakan, sahabat Hyang Indra Tuanku, nyata-nyata Tuanku sebagai
    dewata, bahagia sekali kami, Tuanku telah datang kemari (Kw. R¢m¢yana Sargah
    II.62).
    Nahan ta guna sang rum¢kûéng jagat,
    Ginorawa lanà ginoûþiniwö,
    Ya tótana ya tó maóik tékana,
    ulah maséséran ya sésran magöng.
    Terjemahannya:
    Demikian keutamaan seorang raja yang mengendalikan negara, selalu
    dimusyawarahkan dan dipatuhi penerapannya, patut diturut karena merupakan
    kalung permata, perilaku Adinda rajin memperhatikan keadaan masyarakat
    bagaikan cincin utama (Kw. R¢m¢yana, XXIV.61).
    Tingkah laku yang baik selalu diupayakan oleh Úri R¢ma beserta keluarganya
    selama memimpin negara (kerajaannya) sebagai wujud melaksanakan ajaran
    Dharma sejati dalam mengupayakan keamanan, kesejahteraan, dan kedamaian
    negara dan bangsanya. Semuanya itu dilaksanakan sebagai pengamalan dharma
    sejati guna mewujudkan bhakti sejatinya untuk negara dan bangsa yang
    dipimpinnya.
    232 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Kasih sayang: Rama selalu bersikap kasih sayang dalam membela
    kebenaran yang sejati.
    Ajaran Bhakti Sejati Kasih sayang; R¢m¢ selalu mengutamakan Kasih sayang
    dalam membela kebenaran untuk mempertahankan negara dan membela rakyat
    yang dipimpinnya selalu mengutamakan Kasih sayang sebagai tertulis dalam
    bait sloka R¢m¢yana III.XXIV.9 adalah adalah Rama sebagai seorang raja gagah
    berani dalam mengadapi musuh-musuhnya yang ingin merusak kerajaannya
    dengan sifat dan sikap bersatu, pantang menyerah di hadapan musuhnya.
    Sebagai seorang bersikap kasih sayang sejati Rama tidak pernah mundur dalam
    menegakan Dharma negara. Rama rela mengorbankan jiwa dan raganya demi
    keutuhan wilayah Negara yang dipimpinnya. Demikian juga sifat dan sikap
    Kasih sayang sejati tersebut di tunjukkan oleh adiknya, Pangeran Wibhisana,
    Sang Laksamana, Sang Sugriwa, dan Para Sidha. Wibhisana sebagai seorang
    kesatryasejati yang cerdas dan mempuni dibidang perang dengan anak panahnya
    dengan sangat mudah dapat menggempur musuh-usuhnya ikut bersama Rama
    mempertahankan egaranya dari rongrongan musuhnya yakni Rahwana. Rama
    dan Pangeran Wibhisana adalah putra ayodhya yang cerdas, pintar, cekatan dan
    terampil dalam bela negara. Kedua Pangeran (Rama dan Wibhisana) tampil di
    medan pertempuran dengan sikap kasih sayang yang sejati abdi kerajaan.
    Prajñ¢ sang kinawih Wibhisana wawang pundut ta sang Laksmana,
    mundur mór sakaréng waték ta ikanang konta r-alap ng osadhi,
    pöh ikang kani nirwik¢ra mabangun Sang l¢ksman¢nganjali,
    sakwéh sang manangis mingis mari maruk manghruk waték ™¢nara.
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 233
    Terjemahaannya:
    Sang Wibhisana sangat arif bijaksana segera mengusung Sang Laksmana,
    mundur menjauh sejenak dicabut senjata lembing yang tertancap lalu mengembil
    obat, ditetesi luka beliau sembuh tanpa bekas Sang Laksamana bangkit lalu
    bersujud, semua yang tadinya sedih lalu tersenyum hilang sedihnya lalu pasukan
    kera itu bersorak (Kw. R¢m¢yana, XXIV.10).
    Perjalanan spiritual berlandaskan catur purus¢rtha; Sebagai manusia
    beragama wajib hukumnya memiliki sifat, sikap, dan penampilan yang baik dalam
    kehidupan sehari-hari. Menampilkan diri yang baik sebagai umat beragama yang
    percaya dengan adanya Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa dalam
    kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan bersyukhur, bersikap sederhana,
    cerdas, arif, bijaksana, dan kreatif.
    Umat manusia tidak dapat menghitung secara pasti berapa banyak anugrah
    dan nikmat yang dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa terhadap dirinya. Oleh
    karena itu, kita wajib mensyukhurinya. Penampilan mensyukhuri anugrah-Nya
    dalam kehidupan sehari-hari dapat kita dilakukan dengan cara; menjunjung tinggi
    kejujuran, kebenaran dan keadilan, melaksanakan amanat Tuhan Yang Maha
    Esa dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, menjauhi larangan–Nya
    seperti; angkuh, sombong, mabuk, mempitnah, menipu, menyiksa, bermusuhan,
    berkelahi, menghina dan lain-lain sikap yang tak terpuji.
    Menjadi insan yang religius hendaknya senantiasa mau dan mampu
    menampilkan diri untuk selalu; membiasakan diri bersikap, berucap, dan berbuat
    yang baik sesuai kaidah-kaidah agama, berbhakti dan taat kepada orang tua,
    234 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    guru, dan orang yang lebih tua atau dituakan, menjaga keamanan dan ketertiban
    masyarakat, menjaga kebersihan lingkungan sekitar yang indah dan menarik,
    dan mendharma-bhaktikan diri kepada umat yang memerlukan. Dengan
    demikian hidup sejahtra dan bahagia sesuai ajaran bhakti sejati dalam R¢m¢yana
    dapat diwujudkan. Berikut ini adalah beberapa sloka dalam R¢m¢yana yang
    bernafaskan spiritual berlandaskan catur purusartha yang berhubungan dengan
    ajaran bhakti sejati antara lain;
    Ikana kunang dona mami,
    Mamalakwa rinàksà dé mahàràja,
    Hana sanghulun mayajña,
    Ndanyà lila ràkûasà mighné.
    Terjemahannya:
    Inilah yang menjadi tujuan kami, hendak mohon agar dijaga oleh tuanku
    raja, waktu kami melangsungkan korban; ya, dengan bebas raksasa-raksasa
    menimbulkan bencana (Kw. R¢m¢yana Sargah I.43).
    Tatkàla yar téka rikang patapan mahàrûi,
    Sakwéh nirang wiku tapaswi kabéh manungsung,
    Airúànti puspa phalamula suggandha dhópa,
    Lén wwah séréh wway ininum panamuy mahàrûi.
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 235
    Terjemahannya:
    Tatkala beliau tiba di pertapaan sang maharsi, segenap wiku pertapa
    semuanya menyambut, air pujaan, kembang, buah-buahan, akar-akaran, harumharuman, dupa, dan pinang, sirih serta air minum jamuan sang maharsi (Kw.
    R¢m¢yana Sargah II.20).
    Kramakàla siràrahup masandhyà,
    Majapàngarccana kapwa bhakti satya,
    Brata sang prabhu mréddhyakén prabhàwa,
    Saparan sélwana bhakti mukya mólya.
    Terjemahannya:
    Tiba saatnya mereka berkemas-kemas mandi dan kemudian mengucapkan
    Tri Sandhya, beliau bersama-sama mendoakan dan memuja dengan setia bhakti,
    kewajiban seorang raja adalah mengembangkan wibawanya, kemanapun ikut
    serta karena ketaatan yang diutamakan (Kw. R¢m¢yana Sargah XXIV.239).
    Mangkas-mangkas angadég ta siràdan,
    Dampatì nrépati Ràghawa Sìtà,
    Úrì Janàrddana katon sira sàkûàt,
    tulya Kàma Rati ratna nikang ràt.
    236 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Terjemahannya:
    Beliau bergegas berdiri dan berkemas, baginda Raja Ràma dan Dewi Úità
    sebagai suami istri, bagaikan Dewi Sri dan Hyang Wisnu menampakkan diri,
    tidak beda dengan Dewa Asmara dan Dewi Ratih laksana permata dunia (Kw.
    R¢m¢yana Sargah XXIV.240).
    Tuhu sidda wàkya wiku tan papada,
    Panda panditàsing aparö ri sira
    Tuwi satwa satya mamicàra kécék,
    Syung asangghaning pangajaran [n] ajaran.
    Terjemahannya:
    Sungguh-sungguh setia ucapan sang wiku terwujud tidak ada yang
    menyamai, setiap yang mendekat pada beliau menjadi arif, walaupun binatang
    juga setia melaksanakan ajaran agama, burung tiung berkumpul di asrama untuk
    mempelajari ilmu pengetahuan (Kw. R¢m¢yana Sargah XXV.16).
    Kimutang mahàtma tapa tàpa cutul,
    Úuci céþþa-céþþa ucapan ringa aji,
    Aji ning héning hana hénéng ginégö,
    Apawargga màrgga mapagéh ginénéng.
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 237
    Terjemahannya:
    Apalagi mereka yang sudah berusia lanjut sengaja menyiapkan diri untuk
    bertapa, berhati suci dan menghayati ajaran agama, melaksanakan ilmu kesucian
    dan ada juga tengah melaksanakan yoga pantang bicara, jalan menuju alam gaib
    yang mereka tekuni (Kw. R¢m¢yana Sargah XXV.17).
    Tuhu tarkka tang [ng] atatatattwa humung,
    Macéngil cumodyasijalak agalak,
    Paða niscayéng aji winiúcaya ya,
    Kumapak [k] a pakûi nika pakûa nikà.
    Terjemahannya:
    Sungguh pantas burung kakaktua itu riuh berceritra, bertengkar mencela
    burung jalak yang galak, sama-sama meyakini ilmu pengetahuan yang dianutnya,
    galak sekali ketika ditentang pendapatnya (Kw. R¢m¢yana Sargah XXV.18).
    Jaya paraméúwaràtiúaya úakti natha nikanang jagattraya kita,
    Pranata hatingku nitya ri sukunta tàtan alupà lanà matutura,
    Ikana phalà ni bhakti ni hatingku ràt yata tumóta bhaktya ri kita,
    Kalawan iking subhàûita kathà sabhàkéna réngön rasa nya subhaga.
    Terjemahannya:
    “Tuanku telah berhasil dan berkuasa penuh sebagai pemimpin tiga dunia,
    hamba senantiasa bersembah sujud kehadapan duli Tuanku yang selalu hamba
    238 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    ingatkan dan tidak pernah hamba abaikan, padahal sujud sembah hamba itu
    semoga menjadi panutan rakyat setia bhakti kehadapan Tuanku”, dan ceritra
    yang engandun ajaran utama dalam bentuk kekawin ini wajar disebar luaskan
    dan didengarkanlah inti sarinya yang sangat masyhur (Kw. R¢m¢yana Sargah
    XXVI.49).
    Bantu-membantu: Rama selalu bersatu dalam membela kebenaran yang
    sejati
    Ajaran Bhakti Sejati Bantu-membantu; R¢m¢ selalu mengutamakan
    kebersamaan dalam membela kebenaran untuk mempertahankan Negara dan
    membela rakyat yang dipimpinnya selalu mengutamakan kebersamaan sebagai
    tertulis dalam bait sloka Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XI
    SMA/SMK Kurikulum“13 | 134
    R¢m¢yana III.XXIV.10 adalah Rama sebagai seorang raja mengutamakan
    kebersamaan dalam mengadapi musuh-musuhnya yang ingin merusak
    kerajaannya dengan sifat dan sikap kebersamaan, pantang menyerah di hadapan
    musuhnya. Sebagai seorang mengutamakan kerja sama Rama tidak pernah
    mundur dalam menegakkan Dharma negara. Rama rela mengorbankan jiwa
    dan raganya demi keutuhan wilayah negara yang dipimpinnya. Demikian juga
    sifat dan sikap kebersamaan sejati tersebut di tunjukkan oleh adiknya, Pangeran
    Wibhisana, bersama Sang Laksamana. Wibhisana sebagai seorang penolong
    sejati yang cerdas dan mempuni di bidang perang dan pengobatan dengan
    lembingnya dengan sangat mudah dapat menggempur musuh-usuhnya ikut
    bersama Rama mempertahankan negaranya dari rongrongan musuhnya yakni
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 239
    Rahwana. Rama dan Pangeran Wibhisana, Sang Laksmana adalah putra ayodhya
    yang cerdas, pintar, cekatan dan trampil dalam bela Negara. Ketiga Pangeran
    (Rama dan Wibhisana, Laksamana) tampil di medan pertempuran dengan sikap
    kebersamaan yang sejati abdi kerajaan.
    Sloka-sloka kitab Ramayana yang berhubungan dengan ajaran bhakti
    sejati yang tersurat diatas hanya baru sebagian kecil dari jumlahnya sebanyak
    24.000 stanza. Selanjutnya masih banyak yang perlu digali lebih jauh untuk
    pembelajaran pembentukan sifat dan sikap yang berhubungan dengan ajaran
    bhakti sejati untuk dipedomani oleh umat sedharma.
    Uji Kompetensi:
  8. Setelah mengamati dan memahami teks di atas apakah yang Anda
    ketahui sehubungan dengan sloka-sloka ajaran bhakti sejati dalam
    Kitab Ramayana? Jelaskanlah.
  9. Apakah yang Anda ketahui terkait dengan penerapan ajaran bhakti
    sejati dalam agama Hindu berdasarkan sloka-sloka yang terdapat
    dalam Kitab Ramayana? Jelaskanlah!
  10. Amatilah lingkungan sekitar Anda sehubungan dengan orang-orang
    yang dipandang dalam memuja Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang
    Widhi dengan mengikuti jalan bhakti sejati yang terdapat dalam Kitab
    Ramayana, buatlah catatan seperlunya dan diskusikanlah dengan orang
    tua-mu! Apakah yang terjadi? Buatlah narasinya 1-3 halaman diketik
    dengan huruf Times New Roman-12, spasi 1,5 cm, ukuran kertas
    kwarto; 4-3-3-4; Lakukanlah!

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Keluarga Sukhinah dalam Agama Hindu

Bagian-Bagian Ajaran Bhakti Sejati