in

Panca Yama Dan Nyama Brata

Pengertian Pañcā Yamā Dan Nyamā Brata

Panca Yama Dan Nyama Brata


Pañca Yamā Dan Nyamā Brata artinya keinginan atau
kemauan. Untuk itu, pemahaman Pañcā Yamā Brata adalah lima macam
cara mengendalikan diri secara lahir dari perbuatan yang melanggar susila.
Pañcā NYamā menurut Oka (2009:69), artinya lima pengendalian diri
yang bersifat batiniah. Tujuan Pañcā Yamā dan Nyamā Brata untuk membina
atau mengembangkan sifat-sifat bakti kepada Tuhan melalui pengendalian
kemauan, dan melakukan pantangan-pantangan menurut ajaran Agama Hindu.
Sumber ajaran Pañcā Yamā Dan Nyamā Brata tertuang dalam Kitab Wrhaspati
Tattwa.

Bagian-bagian Pañcā Yamā Dan Nyamā Brata

  1. Panca Yama Brata
    Lima macam cara untuk mengendalikan keinginan secara lahir menurut
    Atmaja (2010: 46) terdiri atas:
    a. Ahimsa, tidak melakukan kekerasan
    b. Brahmacari, masa menuntut ilmu/masa aguron-guron
    c. Satya, kesetiaan dan kejujuran
    d. Awyawaharika, melakukan usaha menurut dharma
    e. Astenya, tidak mencuri milik orang lain.
    Bagian-bagian Panca Yama Brata adalah sebagai berikut.
    a. Ahimsa
    Ahimsa terdiri atas a yang artinya tidak, dan himsa yang artinya
    menyakiti atau membunuh. Dengan demikian Ahimsa artinya suatu
    perbuatan yang tidak menyakiti, kasih sayang dan atau tidak membunuh
    mahkluk lain (Tim Sabha Pandita, 2011: 16). Ahimsa dimaksudkan di sini
    adalah tidak semena-mena menyakiti dan membunuh demi nafsu belaka,
    keuntungan pribadi, dendam, dan kemarahan (krodha), melainkan untuk
    tujuan pemujaan kepada Tuhan dan kepentingan umum. Menurut ajaran
    Dharma di dalam sloka disebutkan ahimsa para dharmah artinya

kebajikan (dharma) yang
tertinggi terdapat pada
ahimsa. Selain itu, tujuan
ahimsa adalah untuk menjaga kedamaian dan ketertiban di masyarakat, mewujudkan kerukunan tanpa
membedakan suku, agama,
ras, dan adat.
Dengan demikian, ajaran
Ahimsa adalah ajaran yang
harus memperhatikan dan
mengendalikan tingkah laku
agar pikiran, perkataan, dan
perbuatan tidak menyakiti
orang lain atau makhluk
lain. Setiap pikiran, perkataan, perbuatan yang tujuannya menyakiti orang
lain maka disebut perbuatan Himsa. Oleh karena itu, hindari perbuatan
Himsa terhadap semua makhluk. Kita harus saling asah, asih, dan asuh
terhadap sesama. Pada hakikatnya jiwatman kita sama dengan jiwatman
makhluk lain yang berasal dari satu sumber, yaitu 3DUDPDDWPDQ (Sang
Hyang Widhi).
b. Brahmacari
Brahmacari adalah masa menuntut ilmu (usia belajar) seperti muridmurid di sekolah. Kata BrahmacariL terdiri atas dua kata, yaitu %UDKPD
dan Brahma atau cari (Tim Sabha Pandita, 2011: 17). Brahma artinya Ilmu
pengetahuan, sedangkan atau berasal dari bahasa sansekerta,
yaitu & artinya gerak atau tingkah laku. Sehingga pengertian %UDKPDFDUL
adalah tingkah laku manusia dalam menuntut ilmu pengetahuan terutama
ilmu pengetahuan tentang ketuhanan dan kesucian.

Oleh karena itu,
seorang siswa kerohanian
harus mempunyai pikiran
yang bersih yang hanya
memikirkan pelajaran atau
ilmu pengetahuan saja, supaya perasaan dan pikiran
bisa terpusat. Belajar dengan
baik perlu adanya tata tertib
yang baik, seperti pemakaian
waktu, kebersihan, kesopanan, ketertiban pembagian tugas, dan selain itu diperlukan
juga sanksi-sanksi pelanggaran.

c. Satya
Satya artinya benar, jujur, dan setia (Tim Sabha Pandita, 2011: 18).
Satya juga diartikan sebagai gerak pikiran yang harus diambil menuju
kebenaran. Di dalam praktiknya Satya meliputi katakata yang tepat dan dilandasi kebajikan untuk mencapai
kebaikan bersama. Oleh karena itu, Satya tidak sepenuhnya diartikan benar,
jujur, dan setia, tetapi di dalam pelaksanaannya melihat situasi yang bersifat
relatif. Maka di sinilah kita
menempuh jalan Satya
yang pelaksanaannya melihat situasi dan kondisi
yang relatif.

Satya, kejujuran untuk mencari kebenaran ini sangat memegang peranan
yang penting di dalam ajaran kerohanian untuk mencapai kelepasan .
Di dalam sastra sering kita jumpai sebagai motto atau semboyan, yaitu:
“Satyam eva jayate” yang artinya hanya kejujuranlah yang menang bukan
kemaksiatan atau kejahatan. Adapun lima macam Satya yang disebut
dengan Panca Satya terdiri atas:
a. Satya Hredaya, artinya setia dan jujur terhadap kata hati.
b. Satya Wacana, artinya setia dan jujur terhadap perkataan.
c. Satya Semaya, artinya setia dan jujur terhadap janji.
d. Satya Laksana, artinya setia dan jujur terhadap perbuatan.
e. Satya Mitra, yaitu setia dan jujur terhadap teman.
Dengan penjelasan tentang Satya kesetiaan dan kejujuran hendaknya
dilakukan secara kata hati, perkataan, perbuatan, janji terhadap teman
sejawat. Untuk itu, penerapan ajaran susila ini tidak hanya menjadi buah
bibir yang diucapkan melainkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
d. Awyawaharika
Awyawaharika artinya tidak terikat pada ikatan
keduniawian (Tim Sabha Pandita, 2011: 19). Ajaran Awyawaharika
menjadikan orang rendah hati, sederhana, jujur, menyayangi sesama,
berbudi luhur, tidak mengharapkan pujian, dan suka menolong tanpa
pamrih. Pelaksanaan konsep Awyawaharika sebagai wujud kewajiban
dalam kehidupan adalah dengan bekerja tanpa mengharapkan pamrih.
Penerapan ajaran Awyawaharika ini tentu sangat penting untuk diamalkan
dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Penerapan ajaran ini menjadikan insan yang selalu bekerja sesuai
dengan kewajiban dan keahlian. Kewajiban ini dilakukan dengan sebaik
mungkin tanpa ada paksaan dari siapapun. Orang yang menerapkan ajaran
ini menyadari bahwa hidup adalah sebuah kesempatan dengan jalan
menolong orang lain.

e. Astenya

Astenya
artinya tidak mencuri
atau tidak mengambil
hak milik atau memikirkan untuk memiliki barang orang lain (Tim
Sabha Pandita, 2011:
20). Astenya mengajarkan manusia agar selalu
jujur, tidak suka mengambil hak milik orang
lain, tidak mencuri atau
korupsi. Mencuri atau
perbuatan sejenisnya
adalah perbuatan yang dilarang agama. $VWHQ\D harus ditumbuhkan agar
timbul sifat yang tidak menginginkan barang milik orang lain. Perbuatan
mencuri akan merugikan diri sendiri, yaitu pencemaran nama baik dan orang
lain sebagai korbannya.

  1. Panca Nyama Brata
    Panca Nyama Brata merupakan lima macam pengendalian diri pada tingkat
    rohani kita (Atmaja, 2010: 46). Adapun bagian-bagiannya adalah sebagai
    berikut.
    a. Akroda, tidak marah.
    b.Guru Susrusa, hormat taat dan tekun melaksanakan ajaran-ajaran dari
    guru.
    c. Sauca, suci lahir batin.
    d.Aharalagawa, memilih makan yang baik bagi tubuh kita serta makan
    dan minum secara teratur untuk mencapai kesucian lahir batin.
    e. Apramada, tidak sombong atau angkuh.

a. Akroda
Akroda artinya tidak marah, atau tidak mempunyai sifat marah atau
mampu mengendalikan sifatsifat marah (Tim Sabha Pandita, 2011: 20). Mudah tersinggung adalah salah satu
dari sifat-sifat marah. Sifat
inilah yang harus dikendalikan
sehingga manusia tidak mudah marah. Manusia yang
mampu menahan sifat marah,
maka manusia akan mempunyai jiwa yang sabar. Kesabaran adalah sifat yang mulia.
Orang sabar tidak mudah tersinggung, sehingga akan di
senangi oleh teman-teman. Orang yang diajak bicara akan merasa senang.
Ia akan selalu tenang dalam menghadapi segala masalah. Pekerjaan
dikerjakan dengan rasa tenang sehingga akan menghasilkan yang baik.
Tumbuhnya kemampuan seseorang mengendalikan kemarahan menyebabkan tumbuhnya kebijaksanaan pada orang tersebut.

Advertisement

b. Guru Susrusa
Guru Susrusa artinya hormat, melaksanakan tuntunan dan bakti terhadap
guru (Oka, 2009: 69). Guru Susrusa juga berarti mendengarkan atau menaruh
perhatian terhadap ajaranajaran dan nasihat guru.
Siswa yang baik akan selalu berbakti dan memperhatikan sikap hormat
terhadap gurunya, serta
mem-pelajari apa yang di
ajarkan. Anak yang hormat
dan bakti terhadap Guru diberikan gelar anak yang suputra. Anak yang
menentang terhadap Guru di sebut Alpaka Guru, hukumannya sangat berat
dalam alam neraka nantinya. Anak yang suputra akan mendapatkan tempat
yang baik di surga maupun di masyarakat, karena sangat berguna bagi nusa
dan bangsa.

c. Sauca
Sauca berasal dari kata “suc“ yang artinya bersih, murni atau suci secara
lahir dan batin (Oka, 2009: 69). Oleh
karena itu, yang dimaksud Sauca
adalah kesucian dan kemurnian lahir
batin. Banyak yang dapat kita lakukan
untuk mencapai kesucian lahir mau
pun batin. Kesucian lahir (jasmani)
dapat kita capai dengan selalu membiasakan hidup bersih, misalnya mandi yang teratur dan membuang sampah
pada tempatnya.
Sedangkan kesucian batin (rohani) dapat dilakukan dengan rajin
sembahyang, menghindari pikiran
dari hal-hal negatif.

Untuk menjaga kesucian lahir batin menurut Kitab Manawa Dharma
Sastra V.109 (Sudharta dan Puja, 2002) dapat dilakukan dengan:
a) Mandi untuk membersihkan badan.
b) Kejujuran untuk membersihkan pikiran.
c) Ilmu Pengetahuan dan Tapa untuk membersihkan roh atau jiwa.
d) Kebijaksanaan digunakan untuk membersihkan akal.
Selain itu, yang perlu disucikan adalah Kayika (perbuatan), Wacika
(perkataan) dan Manacika (pikiran) sebagai pangkal dari segala yang ada
untuk menciptakan keseimbangan baik jasmani maupun rohani.
d. Aharalagawa
Aharalagawa berasal dari kata Ahara artinya makan, dan Lagawa
artinya ringan. Aharalagawa artinya makan yang serba ringan, tidak
berfoya-foya dan tidak berlebihan (Oka, 2009: 69). Makan yang sesuai
dengan kemampuan tubuh. Aharalagawa berarti juga mengatur cara
makan dan makanan yang sebaik-baiknya. Lawan dari Aharalagawa
adalah kerakusan. Kerakusan akan menghalangi dan merintangi kesucian
batin.

sederhana
Untuk menjaga badan
tetap sehat, makanlah makanan yang banyak mengandung gizi. Orang yang
makan teratur dan bergizi,
badannya menjadi sehat dan
pikirannya menjadi segar
dan cerdas. Orang yang makan dan minum berlebihan, tidak teratur dan suka
minum minuman keras, seperti arak, bir dan sejenisnya, maka badannya menjadi sakit dan sarafnya terganggu, serta pikiranpun menjadi kacau.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 25
e. Apramada
Apramada artinya tidak bersifat ingkar atau mengabaikan kewajiban
dan mempelajari serta mengamalkan ajaran suci (Oka, 2009: 69). Hal ini

belajar mengajar
berarti melaksanakan tugas
dan kewajiban yang telah
menjadi tugasnya. Tugas tersebut dijadikan sebagai sarana
melakukan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat.
Tugas ini digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup
baik secara jasmani maupun
untuk kepentingan rohani.
Dengan berusaha melaksanakan kewajiban sendiri (Swa-dharma) dan menghormati
kewajiban orang lain (para dharma), maka keharmonisan akan dapat
dicapai. Pada akhirnya, kebahagiaan secara lahir dan batin juga akan dapat
dicapai.
Pembagian tugas dan kewajiban ini dalam Hindu disebut dengan
catur warna yang terdiri dari Brahma (cendikiawan), ksatria (pembela
kebenaran, tentara, polisi), waisya (pedagang), dan sudra (pelayan).
Pembagian tugas ini berdasarkan atas keahlian dan bakat yang dimiliki
dalam mendukung pelaksanaan roda kehidupan di dunia ini.
Kegiatan Siswa
Petunjuk:
Kerjakan pada lembaran lain!
Buatlah portofolio dengan mengumpulkan artikel majalah, koran dan internet tentang perbuatan yang termasuk 3DxFƗ<DPƗdan1\DPƗ%UDWD dengan
ketentuan:

  1. Tertulis nama kelompok dan anggota kelompok.
  2. Berisi berita yang terkini.
  3. Jumlah halaman minimal 7 halaman.
  4. Dilengkapi dengan daftar bacaan, rujukan, baik sumber buku maupun
    internet.
  5. Setelah selesai, demonstrasikan di depan kelompok lain.

Memahami Teks
C. Perilaku dalam Pañcā Yamā dan Nyamā Brata

  1. Contoh-contoh Perilaku Panca Yama Brata:
    Contoh Perilaku Ahimsa:
    a. Merawat binatang peliharaan,
    b. Menyayangi keluarga,
    c. Tidak menyinggung perasaan orang lain,
    d. Tidak membunuh binatang selain untuk kepentingan yadnya,
    e. Menghormati sesama.
    Contoh Perilaku Brahmacari
    a. Rajin belajar,
    b. Tidak malas masuk sekolah,
    c. Rajin bertanya kepada guru akan hal yang belum dimengerti,
    d. Melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi,
    e. Tidak bosan belajar,
    f. Selalu ingin tahu akan informasi terbaru.
    Contoh Perilaku Satya:
    a. Selalu berkata jujur,
    b. Berpendirian teguh,
    c. Tidak melakukan perbuatan yang menyakiti orang lain,
    d. Menyayangi teman,
    e. Selalu menepati janji.
    Contoh Perilaku Awywaharika:
    a. Melakukan perbuatan sesuai Dharma,
    b. Tidak bertengkar dengan orang lain,
    c. Menghormati agama dan kepercayaan orang lain,
    d. Tidak menghina orang lain.

Contoh Perilaku Astainya:
a. Tidak mencuri harta milik orang lain,
b. Menjaga harta benda yang dimiliki,
c. Menyimpan harta benda dengan baik.

  1. Contoh-contoh Perilaku Panca Nyama Brata:
    Contoh-contoh PErilaku Akhrodha:
    a. Tidak cepat marah,
    b. Mengendalikan keinginan,
    c. Mengendalikan pikiran,
    d. Menghadapi masalah dengan tenang.
    Contoh-contoh Perilaku Guru Susrusa:
    a. Berbakti kepada orang tua,
    b. Mematuhi nasihat orang tua dan guru di sekolah,
    c. Melaksanakan kegiatan kebersihan di sekolah,
    d. Melaksanakan ajaran guru dengan penuh tanggung jawab,
    e. Mematuhi dan taat terhadap tata tertib sekolah,
    f. Melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan.
    Contoh-contoh Perilaku Sauca:
    a. Mandi dengan teratur,
    b. Rajin sembahyang,
    c. Selalu berkata jujur,
    d. Selalu bersikap tenang dan bijaksana,
    e. Rajin berlatih memusatkan pikiran dengan cara pranayama dan samadi,
    f. Bersikap jujur dan setia pada kebenaran.
    Contoh-contoh Perilaku Aharalaghawa:
    a. Selalu bersyukur dengan apa yang dimakan,
    b. Makan secukupnya sesuai kebutuhan,
    c. Tidak minum-minuman beralkohol.
    Contoh-contoh Perilaku Apramada:
    a. Melaksanakan kewajiban dengan baik dan ikhlas,
    b. Melaksanakan tugas yang diberikan dengan sungguh-sungguh,
    c. Melihat kembali pekerjaan yang telah dilakukan,
    d. Teliti dalam melaksanakan tugas.
Advertisement

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dasa Mala : Pengertian , Bagian Dan Ramayana

Asta Aiswarya :Pengertian ,Bagian Dan Sloka Terkait