in

Pahala Bagi Anak-anak yang Berbhakti Kepada Orang Tua Agama Hindu

Pahala Bagi Anak-anak yang Berbhakti Kepada Orang Tua Agama Hindu


Kehadiran seorang putra (anak yang baik) dalam kehidupan berumah-tangga sangat diharapkan. Dalam rumah tangga sebagai anak yang berbudi pekerti baik, akan selalu dituntut untuk dapat melaksanakan ajaran agama yang dianutnya secara baik
dan benar. Melaksanakan ajaran-Nya berarti harus meninggalkan segala laranganNya. Sifat dan sikap yang demikian adalah merupakan wujud dari salah satu
swadharma anak yang berbhakti kepada orang tuanya. Dalam arti luas anak-anak
yang berbhakti kepada orang tuanya berarti berbuat sesuatu yang baik terhadap
sesama manusia, masyarakat, bangsa dan negara serta lingkungan alam sekitar
kita. Sedangkan dalam arti sempit anak-anak yang berbhakti kepada orang tuanya
dapat diartikan anak yang dengan sungguh-sungguh melaksanakan petuah dan
petunjuk-petunjuk orang tuanya.

Permasalahan yang sering dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat tidaklah
demikian adanya. Kadang-kadang seorang anak sulit untuk menghindarkan
diri dari pengaruh teman, bahkan seringkali malah ikut-ikutan terbujuk untuk
berbuat negatif. Mabuk-mabukan, merokok, menyalah-gunakan narkotika dan
yang lainnya adalah perilaku yang negatif.

Sifat dan sikap munafik itu masih
mewarnai anak-anak bangsa ini dalam hidup dan kehidupannya. Misalnya yang
bersangkutan seolah-olah dengan sungguh-sungguh melaksanakan swadharma
agamanya, namun sejatinya dalam kehidupan sehari-hari segala perbuatan dan
tindak-tanduknya sangat bertentangan dengan ajaran Ketuhanan. Pengamatan
sementara yang kita dapatkan melalui media baik cetak maupun elektronik
ternyata masih ada anak-anak bangsa ini yang nampak rajin melakukan ibadah
agamanya lalu bersikap anarkis yang nyata-nyata dapat menyesatkan dan
menyengsarakan kelangsungan hidupnya di kemudian hari. Di mana hati nurani
anak orang yang berprilaku demikian? Ingatlah bahwa:


Kelahiran sebagai manusia ini adalah neraka bagi Dewa-dewa,
neraka bagi manusia biasa ialah kelahiran menjadi binatang ternak,
neraka bagi binatang ternak ialah kelahiran menjadi binatang hutan,

neraka bagi binatang hutan/buas ialah kelahiran menjadi bangsa
burung, neraka bagi bangsa burung ialah kelahiran menjadi binatang
busuk, neraka bagi binatang busuk ialah kelahiran menjadi binatang
penyengat, neraka binatang penyengat ialah kelahiran menjadi binatang
berbisa, karena binatang berbisa ini sangat berbahaya dan kejam.

Bila perbuatan seperti itu yang dilakukan, maka sudah jelas anak yang
bersangkutan tidak dapat lagi disebut taat dan patuh dengan ajaran agamanya
dan berbhakti kepada orang tuanya. Agar sikap taat dan kepatuhan itu tertanam
dalam diri seorang anak serta dapat terus-menerus bersikap bhakti kepada orang
tuanya maka perlu ada upaya yang harus dilakukan. Upaya yang dimaksud
adalah dengan meningkatkan swadharma hidup sesuai dengan ajaran agamanya
masing-masing. Agama yang kita pelajari bukan hanya sebagai pengetahuan,
namun harus disertai keyakinan dan keimanan untuk mengamalkannya. Semakin
banyak mempelajari agama, semakin bertambahlah pengetahuan keagamaan
kita. Oleh sebab itu, hendaknya semakin meningkat swadharma atau ibadahnya
dan rasa sosial serta kesetia-kawanannya.

Keyakinan kepada Tuhan Yang Maha
Esa dan ajaran agama mendorong manusia dan masyarakat untuk berbuat baik
dan benar. Kebaikan dan kebenaran adalah anugrah Tuhan yang wajib kita
jalankan. Beribadah kepada Tuhan merupakan kewajiban kita sebagai makhluk,
insan, dan hamba Tuhan. Ikut serta dalam berbagai kegiatan-kegiatan sosioal
merupakan kepedulian kita sebagai pencerminan orang yang taat melaksanakan
swadharma. Perbuatan yang dapat dikatakan sebagai pencerminan seorang
anak yang berbhakti kepada orang tuanya dan taat serta patuh terhadap ajaran
agamanya, meliputi;


a. Bhakti dan Taat Kepada Orang Tua, Guru, dan Orang yang Lebih Tua
Berbhakti kepada orang tua, guru, dan orang yang dituakan berarti kita mau
mendengarkan dan mampu melaksanakan nasehat-nasehatnya, menghormati,
menyayangi, dan tidak pernah berpikir, berkata serta berperilaku menyakiti
perasaan mereka. Hal semacam ini penting dilakukan kepada mereka yang patut
kita hormati.


b. Membiasakan Diri Mengoreksi Diri Sendiri serta Perbuatan yang
Selaras dengan Ketentuan-ketentuan Agama dan Negara
Selalu mengusahakan dan mengupayakan mawas diri serta koreksi diri adalah
perbuatan yang terpuji. Mawas diri dimaksudkan agar kita tidak terpengaruh
oleh berbagai desas-desus yang membawa ke arah kehancuran. Kita tidak boleh
gegabah dalam bertindak sebelum tahu betul sesuatu apa yang seharusnya
diperbuat. Koreksilah diri kita terlebih dahulu apakah perbuatan-perbuatan kita
sudah sesuai dengan ketentuan agama maupun ketentuan negara. Untuk dapat
mengoreksi diri diperlukan kejujuran dan keberanian. Apabila tingkah laku
kita memang belum sesuai dengan ketentuan itu, maka segeralah kita berusaha
memperbaikinya. Dengan mawas diri dan koreksi diri dapat membawa kita
selalu berada di jalan yang benar dan terhindar dari perbuatan tercela.
c. Membiasakan Diri untuk Selalu Berpikir, Berucap dan Berprilaku
yang Baik
Dalam kehidupan sehari-hari kita harus berpikir, berucap dan berprilaku yang
baik. Merendahkan diri kepada orang lain, tidak suka membanggakan diri sendiri,
sabar dalam menghadapi gangguan dan cobaan serta tidak marah, mengeluh serta
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 399
berputus asa. Hindarkan diri dari perbuatan memutus tali persahabatan sesama
teman. Tidak suka bertengkar apalagi berkelahi atau tawuran. Setiap orang harus
merasa malu untuk melakukan perbuatan yang buruk walaupun tidak ada yang
melihatnya. Ajaran agama mengajarkan bahwa Tuhan maha melihat.


d. Menyelenggarakan Kegiatan Keagamaan dalam Berbagai Macam
Kehidupan
Kegiatan keagamaan bukan hanya dapat dilaksanakan dengan mengadakan
perayaan-perayaan keagamaan, tetapi dapat juga dilakukan dengan selalu mawas
diri atau mulat sarira.

e. Melakukan Bhakti Sosial
Bhakti sosial adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar sukarela dan penuh
keihklasan untuk kepentingan bersama maupun untuk menolong orang lain.
Kegiatan ini dapat dilakukan dengan memberikan bantuan material maupun
spiritual ke panti-panti asuhan, panti jompo maupun tempat-tempat penampungan
korban bencana alam. Bhakti sosial bersama masyarakat dapat diwujudkan
dengan kerja bhakti bersama membersihkan lingkungan, memperbaiki jalanjalan kampung yang rusak, dan ikut mendirikan rumah bagi penduduk yang
sedang ditimpa bencana alam.


Dalam kehidupan ini, kita diharapkan dapat bekerja-sama, saling menyayangi,
saling memberi dan menerima, serta saling mengingatkan dan menasehati.
Terkadang kita berbuat suatu kesalahan atau berbuat yang merugikan berbagai
pihak tanpa kita sadari. Kita harus siap menerima teguran dari kawan atau siapa
saja. Kawan yang baik adalah kawan yang mau menunjukkan kesalahan kita,
bukan kawan yang selalu memuji-muji kita saja. Bulan itu lampu di malam hari,
Surya atau matahari lampu dunia di siang hari,
Dharma ialah lampu ke tiga dunia ini, dan
putra yang baik itu cahaya keluarga.

Demikianlah setiap anak hendaknya dapat berbhakti kepada orang tua
sebagai wujud nyata mematuhi dan menaati agamanya masing-masing. Di antara
mereka yang sudah mematuhi dan menaati ajaran agama sesungguhnya adalah
orang-orang yang berbudi pekerti luhur dengan pahala yang baik.

Seorang anak harus melakukan apa yang disetujui oleh kedua orang
tuanya dan apa yang menyenangkan gurunya; kalau ke tiga orang itu senang ia
mendapatkan segala pahala dari tapa bratanya (Manawa Dharmasastra, II.228).
Dalam kitab Taittiriya Upanisad disebutkan bahwa ayah dan ibu itu adalah
ibarat perwujudan Deva dalam keluarga: “Pitri deva bhava, matri deva bhava”.
Vana Parva 27, 214 menyebutkan bahwa ayah dan ibu termasuk sebagai Guru,
di samping Agni, Atman, dan Rsi.
Di Bali ayah dan ibu disebut sebagai Guru Rupaka di samping Hyang Widhi
sebagai Guru Svadyaya, pemerintah sebagai Guru Visesa, dan para pengajar
sebagai Guru Pengajian. Ada lima hal yang menyebabkan anak-anak harus

berbakti kepada ayah dan ibunya, yang dalam kekawin Nitisastra VIII.3 disebut
sebagai Panca Vida, yaitu:

  1. Sang Ametwaken, karena pertemuan (hubungan suami/ istri) ayah dan ibu,
    maka lahirlah anak-anak dari kandungan ibu. Perjalanan hidup ayah dan
    ibu sejak kecil hingga dewasa, kemudian menempuh kehidupan Gryahasta,
    sampai mengandung bayi dan selanjutnya melahirkan, dipenuhi dengan
    pengorbanan-pengorbanan.
  2. Sang Nitya Maweh Bhinojana, ayah dan ibu selalu mengusahakan memberi
    makan kepada anak-anaknya. Bahkan tidak jarang dalam keadaan kesulitan
    ekonomi, ayah dan ibu rela berkorban tidak makan, namun mendahulukan
    anak-anaknya mendapat makanan yang layak. Ibu memberi air susu kepada
    anaknya, cairan yang keluar dari tubuhnya sendiri.
  3. Sang Mangu Padyaya, ayah dan ibu menjadi pendidik dan pengajar
    utama. Sejak bayi anak-anak diajari menyuap nasi, merangkak, berdiri,
    berbicara, sampai menyekolahkan. Pendidikan dan pengajaran oleh ayah
    dan ibu merupakan dasar pengetahuan bagi kesejahteraan anak-anaknya di
    kemudian hari.
  4. Sang Anyangaskara, ayah dan ibu melakukan upacara-upacara manusa
    yadnya bagi anak-anaknya dengan tujuan mensucikan atma dan stula sarira.
    Upacara-upacara itu sejak bayi dalam kandungan sampai lahir, besar dan
    dewasa: Magedong-gedongan, Embas rare, Kepus udel, Tutug Kambuhan,
    Telu bulanan, Otonan, Menek kelih, Mepandes, Pawiwahan.
  5. Sang Matulung Urip Rikalaning Baya, ayah dan ibulah pembela anakanaknya bila menghadapi bahaya, menghindarkan serangan penyakit dan
    menyelamatkan nyawa anak-anaknya dari bahaya lainnya.
    402 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Oleh karena itu, pahala bagi anak-anak yang berbahakti kepada orang tua
    seperti yang dijelaskan dalam kitab suci Sarasamuscaya disebutkan ada empat
    pahala yang diterima oleh anak-anak yang berbakti kepada orang tua:
  6. Kirti
    Selalu dipuji dan didoakan untuk mendapatkan kerahayuan oleh sanak
    keluarga dan orang-orang lain keluarga, karena dipandang terhormat.
    Puji dan doa yang positif seperti itu akan mendorong aktivitas dan
    gairah kehidupan sehingga anak-anak akan menjadi lebih meningkat kualitas
    kehidupannya.
  7. Ayusa. Berumur panjang dan sehat
    Umur panjang dan sehat sangat diperlukan agar manusia dapat menempuh
    tahapan-tahapan kehidupannya dengan sempurnya, yaitu melalui Catur ashrama:
    Brahmacarya, gryahasta, wanaprastha, dan bhiksuka. Brahmacarya adalah
    masa menempuh pendidikan, gryahastha adalah masa berumah tangga dan
    mengembangkan keturunan, wanaprastha adalah masa menyiapkan diri menuju
    kehidupan yang lebih suci, dan bhiksuka adalah masa kehidupan yang suci, lepas
    dari ikatan-ikatan keduniawian.
  8. Bala
    Mempunyai kekuatan yang tangguh dalam menempuh kehidupan baik
    ketangguhan yang berupa pemenuhan kebutuhan hidup, kemampuan untuk
    memecahkan masalah-masalah kehidupan, dan juga ketangguhan dalam arti
    menguatkan kesucian mental/ rohani.
  9. Yasa Pattinggal Rahayu
    Kebaktian pada orang tua akan menjadi contoh bagi keturunan selanjutnya
    dan akan dilanjutkan, sehingga bila anak-anak sudah menjadi tua atau meninggal
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 403
    dunia, secara sambung menyambung para keturunannya-pun akan menghormati
    dan berbakti kepadanya, karena kebaktian itu sudah menjadi tradisi yang baik di
    dalam keluarganya.
    Guru tidak terpaku mengajarkan siswa dari buku siswa tetapi dapat
    mengembangkan materi dari sumber lain yang ada dimasyarakat terutama
    dari pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dapat juga melalui
    dalam kegiatan ekstrakurikuler. memberikan motivasi kepada siswanya untuk
    bertanya, mengerjakan soal-soal latihan, memberikan evaluasi, dan setiap akhir
    pembelajaran memberikan tugas-tugas baik mandiri maupun tugas berkelompok
    untuk mendapatkan imformasi kompetensi peserta didik berkaitan dengan materi
    Wiwaha.
    Uji Kompetensi:
  10. Apakah yang dimaksud dengan berbhakti kepada orang tua?
  11. Sebagai seorang anak mengapa kita harus berbhakti kepada orang tua?
    Jelaskanlah!
  12. Bagaimana bila kita tidak berbhakti kepada orang tua? Jelaskanlah!
    Diskusikanlah dengan orang tua Anda di rumah!
  13. Sifat dan sikap anak yang manakah termasuk sebagai cerminan bahwa
    ia telah berbhakti kepada orang tuanya? Jelaskanlah!
  14. Amatilah gambar berikut ini, tuliskanlah deskripsinya!
    Sebelumnya diskusikanlah dengan orang tua Anda
    masing-masing, apa dan bagaimana pendapatnya?

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Syarat Sah Suatu Pawiwahan Menurut Hindu

Membina Keharmonisan dalam Keluarga Dalam Hindu