in

Nitya dan Naimitika Yadnya

Nitya dan Naimitika Yadnya

Nitya dan Naimitika Yadnya

Nitya Karma atau nitya adalah yajña yang dilaksanakan setiap hari, seperti Tri Sandya dan Yajña Sesa. Yajña Sesa dilaksanakan setelah kita selesai me- masak nasi dan sebelum makan. Yajña sesa diaturkan kepada Bhatara-Bhatari di pemerajan Hyang Wisnu di Sumur (tempat penyimpanan air), Hyang Raditya di atap rumah, Hyang pertiwi dan Bhuta-bhuta di halaman rumah, penunggu karang di tugu, dan tempat- tempat lainnya yang dianggap suci. Sedangkan Naimitika Karma adalah pelaksanaan yajña yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, misalnya berdasarkan sasih maupun pawukon (Adiputra, 2003). Naimitika Karma yang lain berdasarkan adanya peristiwa yang dianggap perlu untuk diadakan pelaksanaan yajña, seperti puja wali, selesai pembangunan Candi, galungan, Kuningan, Saraswati, Nyepi, dan Siwaratri.

Pelaksanaan yajña yang dilakukan setiap hari meliputi banyak hal seperti:

  1. Surya sewana (pemujaan setiap hari kepada Dewa Surya), pemujaan ini dilakukan oleh seorang sulinggih untuk mendapatkan kerahayuan alam semesta.

2jo.tN(ugpeacara            saiban, biasanya setelah memasak hidangan).

Yajña sesa yang dipersembahkan kehadapan Ida Sang Hyang  Widhi  Wasa beserta manifestasinya, setelah memasak atau sebelum menikmati makanan. Tujuannya adalah menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada-Nya.

Adapun tempat–tempat melaksanakan persembahyangan yajña sesa adalah sebagai berikut:

  1. Di atas atap rumah, di atas tempat tidur (pelangkiran),  persembahan  ini ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawa beliau sebagai ether.
    1. Di tungku atau kompor, dipersembahkan kehadapan Dewa Brahma.
    1. Di tempat air dipersembahkan kehadapan Dewa Wisnu.
    1. Di halaman rumah, dipersembahkan kepada Dewi Pertiwi.

Selain tempat-tempat tersebut, ada juga yang menyebutkan mebanten saiban dilakukan di tempat-tempat seperti berikut:

  1. di tempat beras
    1. di tempat sombah
    1. di tempat menumbuk beras
    1. di tungku dapur
    1. di pintu keluar pekarangan (lebuh)
  • Melaksanakan Puja Tri Sandya (tiga kali sehari), yaitu tiga kali meng- hubungkan diri (sembahyang) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Puja Tri Sandya merupakan bentuk yajña yang dilaksanakan setiap hari, dengan kurun waktu pagi hari, tengah hari, dan pada waktu senja hari untuk memohon anugerah-Nya.
  • Jnana yajña, persembahan ini dalam bentuk pengetahuan. Jñana yajña merupakan bagian dari panca maha yajña. Persembahan ini di- tujukan kehadapan para maha rsi yang menerima wahyu Veda dari Tuhan dan beliau yang menyebarkan ajaran-ajaran-Nya kepada umat ma- nusia.

Adalah persembahan atau yajña yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu berdasarkan tempat, waktu, dan keadaan “desa, kala dan patra.” Naimitika yajña merupakan yajña yang dipersembahkan atau yang dilakukan oleh umat Hindu, hanya pada hari atau waktu-waktu tertentu saja. Adapun jenisnya antara lain:

1.  Berdasarkan Perhitungan Sasih atau Bulan

Yajña yang dilaksanakan atau dipersembahkan berdasarkan per- hitungan sasih atau bulan keha- dapan Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasinya antara lain: purnama tilem, siwaratri, nyepi atau tahun baru saka, hari raya Kasodho bagi umat Hindu yag ada di lereng Gunung Bromo.

2.   Berdasarkan Adanya Peristiwa atau Kejadian yang Dipandang Perlu untuk Melaksanakan Yajña.

Peristiwa   atau   kejadian dalam hal ini adalah suatu kejadian yang terjadi

dengan keanehan-keanehan terten- tu, sangat tidak diharapkan, lalu semua itu terjadi. Dalam bentuk dan kehidupan ini banyak peristiwa- peristiwa penting yang sulit di ha- rapkan bisa terjadi. Adapun bentuk- bentuk pelaksanaan yajña yang di persembahkan antara lain: upacara ngulapin untuk orang jatuh, yajña

rsi gana, yajña sudiwadani dan yang lainnya. Untuk upacara Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah

ada ritual penting yang disebut dengan upacara Tiwah, yaitu ritual kematian tahap akhir dan upacara Basarah bertujuan untuk menghantarkan arwah ke surga.

3.  Berdasarkan Perhitungan Wara

Perpaduan antara tri wara dengan panca wara, seperti hari kajeng kliwon. Kemudian perpaduan antara sapta wara dengan panca wara, seperti buda wage, buda kliwon, dan anggara kasih. Kliwon datang 5 hari sekali ketika beryoganya Sang Hyang Siva. Kajeng Kliwon dilaksanakan 15 hari sekali dengan memuja Hyang siwa, segehan dihaturkan kepada hyang Durgha dewi. Di bawah pada sang hyang buchari, sang kala buchari dan sang durgha bucar.

4.    Berdasarkan atas Perhitungan Wuku

Pelaksanaan hari raya, seperti Ga- lungan, Kuningan, Saraswati, dan Pagerwesi.

Perlu juga diketahui bahwa pada prinsipnya yajña harus dilandasi oleh Sraddhǎ, ketulusan, kesucian. Pelaksanaannya harus sesuai dengan sastra agama serta dilaksanakan sesuai dengan desa, kala, dan patra (tempat, waktu, dan keadaan).

Dilihat dari kuantitasnya, maka yajña dibedakan menjadi:

  1. Nista, artinya yajña tingkatan kecil, dibagi menjadi 3, yaitu:
    1. Nistaning nista adalah terkecil di antara yang kecil
    1. Madyaning nista adalah sedang di antara yang kecil
    1. Utamaning nista adalah terbesar di antara yang kecil
  2. Madya, artinya sedang, yang terdiri dari 3 tingkatan:
    1. Nistaning madya adalah terkecil di antara yang sedang
    1. Madyaning madya adalah sedang di antara yang sedang
    1. Utamaning madya adalah terbesar di antara yang sedang
  3. Utama, artinya besar, yang terdiri dari 3 tingkatan:
    1. Nistaning utama adalah terkecil di antara yang besar
    1. Madyaning utama adalah sedang di antara yang besar
    1. Utamaning utama adalah yang paling besar

Keberhasilan sebuah yajña bukan dari besar kecilnya materi yang dipersembahkan, namun sangat ditentukan oleh kesucian dan ketulusan hati. Selain itu, juga ditentukan oleh kualitas dari yajña itu sendiri. Dalam Kitab Bhagavadgitǎ, XVII. 11, 12, 13 disebutkan ada tiga pembagian yajña yang dilihat dari kualitasnya, yaitu:

  1. Tamasika yajña adalah yajña yang dilaksanakan tanpa mengindahkan

petunjuk-petunjuk sastra, mantra, kidung suci, daksina, dan sradha.

  • Rajasika yajña adalah yajña yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan

hasilnya dan bersifat pamer serta kemewahan.

  • Satwika yajña adalah yajña yang dilaksanakan beradasarkan sraddhǎ,

lascarya, sastra agama, daksina, mantra, gina annasewa, dan nasmita.

Pelaksanaan yajña tersebut merupakan tingkatan korban suci yang dalam hal ini tergantung dari orang yang melakukan korban suci tersebut. Pada materi ini kita telah memahami macam-macam yajña tersebut, untuk itulah kita akan bahas sloka yang mendukungnya.

Berdasarkan kutipan sloka Bhagavadgitǎ tersebut dapat dipahami bahwa pelaksanaan yajña berdasarkan kualitasnya yang terdiri atas satvam, rajas, dan tamas. Korban suci yang dilakukan oleh seseorang sangat tergantung dari keikhlasannya, bukan atas kemewahan atau mahalnya pelaksanaan korban suci tersebut. Sastra Veda membenarkan yajña yang dilakukan dengan perasaan tulus ikhlas. Pada cerita Mahǎbhǎrata ketika pandawa melaksanakan upacara rajasunya maupun aswamedha, karena pelaksanaan yajña dilaksanakan dengan tulus ikhlas, maka para dewa berkenan untuk memberikan anugerah- Nya.

Pelaksanaan korban suci ketika di Indonesia menyesuaikan dengan daerah masing-masing, sehingga bentuk pelaksanaannya berbeda antara daerah satu dengan daerah yang lain. Namun demikian, yang harus diingat bahwa yajña yang dilakukan ini menyesuaikan aturan sesuai dengan sastra Veda, bukan atas dorongan keinginan individu atau kelompok tertentu.

Dari tiga kualitas pelaksanaan yajña di atas, dijelaskan ada tujuh syarat yang wajib dilakasakan untuk mewujudkan sattwika yajña, yaitu:

  1. Sraddhǎ, artinya melaksanakan yajña dengan penuh keyakinan.
  2. Lascarya, artinya yajña yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan.
  • Sastra, artinya melaksanakan yajña dengan berlandaskan sumber sastra, yaitu Sruti, Smrti, Sila, Acara, dan Atmanastuti.
  • Daksina, artinya pelaksanaan yajña dengan sarana upacara (benda dan

uang).

  • Mantra dan gita artinya yajña yang dilaksanakan dengan melantunkan

lagu-lagu suci untuk pemujaan.

  • Annasewa, artinya yajña yang dilaksanakan dengan persembahan jamuan

makan kepada para tamu yang menghadiri upacara.

  • Nasmita, artinya yajña yang dilaksanakan dengan tujuan bukan untuk

memamerkan kemewahan dan kekayaan.

Dari unsur sarana atau upakara juga telah dijelaskan dalam kitab

Bhagavadgitǎ, IX. 26, sebagai berikut:

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Asta Aiswarya :Pengertian ,Bagian Dan Sloka Terkait

Kitab-Kitab Suci Agama Hindu