in

Mewujudkan Tujuan Hidup Manusia dan Tujuan Agama Hindu

Mewujudkan Tujuan Hidup Manusia dan Tujuan
Agama Hindu

Mewujudkan Tujuan Hidup Manusia dan Tujuan Agama Hindu
  1. Tujuan Hidup manusia
    “Ùrddhvabàhurviraumyeûa na ca
    kacciûchrnoti me,
    dharmàdarthaûca kàmaûca sa
    kimartham na sevyate”.
    Nihan mata kami mangke, manawai, manguwuh, mapitutur, ling mami, ikang
    artha, kàma, malamaken Dharma juga ngulaha, haywa palangpang lawan
    Dharma mangkana ling mami, ndatan juga angrëngo ri haturnyan ewëh sang
    makolah Dharmasadhàna, apa kunang hetunya.
    Terjemahan:
    Itulah sebabnya hamba, melambai-lambai: berseru-seru memberi ingat:
    kata hamba: “dalam mencari artha dan kama itu hendaklah selalu dilandasi
    oleh Dharma: jangan sekali-kali bertindak bertentangan dengan Dharma”
    demikian kata hamba: namun demikian, tidak ada yang memperhatikannya: oleh
    karena katanya, adalah sukar berbuat atau bertindak bersandarkan Dharma, apa
    gerangan sebabnya? (Sarasamuçcaya,11).
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 125
    Manusia yang dilahirkan dan hidup di dunia ini dilengkapi dengan tujuan,
    yang disebut dengan istilah tujuan hidup manusia. Manusia tidak sekedar
    dilahirkan dan setelah lahir dibiarkan begitu saja. Manusia dilahirkan, dipelihara,
    dibesarkan, dan dididik dalam lingkungan yang berbeda-beda. Pengalaman yang
    didapat dari pengaruh lingkungan sekitar manusia hidup dapat mengembangkan
    sikap mental dan cita-citanya. Sifat-sifat pribadi manusia, kemampuan dan
    kecendrungan, agama yang dianutnya, kebiasaan, ideologi dan politik bangsa,
    memberikan pengaruh besar terhadap tingkah laku manusia dalam mewujudkan
    tujuan hidupnya.
    Tujuan hidup manusia di dalam agama Hindu disebut “Purusartha”.
    “Purusa” berarti manusia, utama, dan “artha” berarti tujuan. Purusartha berarti
    tujuan hidup manusia yang utama. Kitab suci Veda menjelaskan sebagai berikut:
    “Yatnah kàmàrthamokûaóam
    krtopi hi vipadyate,
    dharmmàya punararambhah
    sañkalpopi na niûphalah”.
    Ikang kayatnan ri kagawayaning kama, artha, mwang Moksha, dadi ika tan
    paphala, kunang ikang kayatnan ring Dharmasàdhana, niyata maphala ika,
    yadyapin angena-ngenan juga, maphala atika.
    126 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Terjemahan:
    Usaha tekun pada kerja mencari kama, artha dan Moksha, dapat terjadi
    ada kalanya tidak berhasil: akan tetapi usaha tekun pada pelaksanaan Dharma,
    tak tersangsikan lagi, pasti berhasil sekalipun baru hanya dalam angan-angan,
    (Sarasamuçcaya,15).
    Berdasarkan uraian di atas tentang tujuan hidup manusia, dapat dinyatakan
    bahwa ada 4 (empat). Empat tujuan hidup manusia yang utama disebut “catur
    purusartha”. Catur purusartha terdiri dari: Dharma, artha, kama, dan Moksha.
    Bagaimana dengan tujuan agama “Hindu”? Manusia adalah mahkluk individu
    dan juga sebagai mahkluk sosial. Sebagai makhluk individu manusia bertanggung
    jawab pada dirinya sendiri, sedangkan sebagai mahkluk sosial manusia selalu
    berkeinginan untuk berinteraksi dengan sesamanya. Keinginan manusia berakar
    pada pikirannya. Dengan pikirannya manusia memiliki beraneka macam
    keinginan, seperti: ingin makan, minum, berteman, berkumpul, beragama dan
    yang lainnya. Mengapa kita berkeinginan untuk memeluk agama Hindu? Apa
    tujuan agama Hindu?
    Tujuan agama Hindu dirumuskan dalam satu kalimat singkat yaitu
    “Mokshartham jagadhita yasca iti Dharma” artinya “Dharma itu untuk
    mewujudkan Moksha (kebahagiaan) dan jagadhita (kebaikan/kesejahtraan
    dunia) masyarakat. Untuk mewujudkan tujuan hidup manusia dan tujuan agama
    Hindu, umat seDharma dapat mencapainya dengan melaksanakan catur marga.
    Catur marga adalah empat cara atau jalan untuk mewujudkan kesejahtraan dan
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 127
    kebahagiaan hidup ini. Catur marga, terdiri dari: Karma marga, Bhakti marga,
    Jnana marga, dan Raja marga.
    Catur Purus¢rtha merupakan landasan dasar ajaran bagi umat Hindu untuk
    berupaya mewujudkan tujuannya beragama. Segala sesuatu yang menjadi tujuan
    umat beragama patut dipedomani dengan ajaran “Catur Purusa Artha”. Dengan
    demikian maka cita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan hidup jasmani dan
    kebahagiaan hidup rohaninya dengan sendirinya dapat tercapai. Mencapai
    kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani (kebahagian yang kekal)
    hendaknya dijadikan komitmen dalam hidup ini. Ajaran Catur Purusa Artha
    adalah merupakan ajaran yang bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman.
    Banyak inteprestasi yang terjadi di lapangan terkait dengan ajaran tersebut,
    namun demikian hakekat ajarannya tetap sama. Apakah yang dimaksud dengan
    catur Purus¢rtha?
    Di dalam kitab Brahma Purana mengenai Catur Purusa Artha ada dijelaskan
    sebagai berikut:
    “Dharmãrtha kama Moksharam sariram
    sadhanam” (Brahma Purana 228, 45).
    Artinya:
    Tubuh adalah alat (untuk mendapat) Dharma, Artha, Kama dan Moksha.
    Selanjutnya dalam kitab Astha Dasa Parwa pada bagian UdYoga Parwa kita
    temukan ajaran yang berkaitan dengan hakekat Dharma, sebagai berikut:
    128 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    “Ikang Dharma ngaranya, hetuning mara ring swarga ika, kadi gatining
    perahu, an hetuning banyaga nentasing tasik (UdYoga Parwa).
    Artinya:
    Yang disebut Dharma, adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga, sebagai
    halnya perahu, sesungguhnya adalah merupakan alat bagi pedagang dalam
    mengarungi lautan.
    Sloka suci tersebut di atas menjelaskan kepada kita bahwa manusia harus
    menyadari apa yang menjadi tujuan hidupnya. Apa yang harus dicarinya dengan
    badan yang dimiliki-nya. Semuanya itu tak lain adalah sebagai pengamalan dari
    ajaran Dharma sebagai salah satu bagian dari ajaran Catur Purus¢rtha. Yang
    manakah bagian-bagian dari ajaran Catur Purus¢rtha itu?
    Sesuai dengan beberapa penjelasan tersebut di atas yang termasuk bagianbagian dari catur purus¢rtha antara lain:
    a. Dharma
    Dharma adalah tingkah laku mulia dan budhi luhur, suci, senantiasa
    berpegang teguh pada ajaran-ajaran kebijaksanaan yang mulia (Dharma) sebagai
    landasan utama untuk mencapai kebahagiaan abadi, sukha tan pewali duka yang
    disebut Moksha.
    b. Artha
    Artha adalah artha benda untuk memenuhi keperluan hidup seperti bhoga,
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 129
    upabhoga, dan paribhoga (tri bhoga). Artha adalah tujuan yang ingin diwujudkan
    yakni tercapainya kesejahteraan (jagadhita) dan kebahagiaan (Moksha) hidup
    yang abadi.
    c. Kama
    Kama adalah keinginan, dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup baik
    jasmani maupun rohani.
    d. Moksha
    Moksha adalah kebebasan abadi, sukha tan pawali dukha, yaitu bersatunya
    atman dengan Brahman. Penjelasan lebih lanjut tentang bagian-bagian ajaran
    catur purusartha, secara singkat dapat diikuti pada uraian hubungan catur
    asrama dengan catur purusartha sebagaimana terurai berikutnya setelah uraian
    singkat dari hubungan catur warna dengan catur asrama. Bagaimana hubungan
    antara catur warna dengan catur asrama itu?
  2. Tujuan Agama Hindu
    Dalam ajaran agama Hindu terdapat suatu prinsip ajaran yang berbunyi
    “Moks¢rtham jagadhita ya ca iti Dharma” yang berarti tujuan umat manusia
    beragama adalah untuk mencapai “Jagadhita” atau sejahtra dan “Moksha” atau
    kebahagiaan. Jagadhita adalah tercapainya kesejahtraan jasmani, sedangkan
    Moksha adalah terwujudnya ketentraman batin, kehidupan abadi yakni
    menunggalnya Sang Hyang Atma (roh) dengan Sang Hyang Widhi Wasa.
    Sebagaimana yang diajarkan Sarasamuscaya, 15. Supaya diperhatikan dengan
    130 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    diingat-ingat dalam mengusahakan kama, artha, dan Moksha, sebab tidak
    ada pahalanya. Adapun yang harus diusahakan dengan jalan Dharma, tujuan
    itu pasti tercapai, walaupun hanya dalam angan-angan saja akhirnya akan
    berhasil.“Moks¢rtha jagadhita ya ca iti Dharma” adalah merupakan ajaran
    tentang tujuan hidup umat manusia. Ajaran tersebut selanjutnya dijabarkan dalam
    konsepsi “Catur Purusa Artha” atau “Catur warga”. Catur berarti empat, Purusa
    berarti jiwa atau manusia, dan Artha berarti tujuan hidup. Catur Purusa Artha
    berarti empat tujuan hidup manusia yang utama. Sedangkan Catur warga, yang
    terdiri dari kata catur berarti empat, dan warga berarti jalinan erat atau golongan.
    Catur warga berarti empat tujuan hidup umat manusia yang utama yang terjalin
    erat antara yang satu dengan yang lainnya Ajaran “Moks¢rtha jagadhita ya ca iti
    Dharma” sudah sepatutnya untuk selalu dipedomani dalam pengabdian hidup ini.
    Bila kita tidak ingin mendapatkan tantangan yang lebih berat lagi, kenapa harus
    menunggu lebih lama lagi. Tidak ada waktu terlambat untuk belajar memulai
    membiasakan diri berbuat baik. Bukankah Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan
    Yang Maha Esa bersifat maha pemahaf, maha pemurah, maha pelindung dan
    maha kasih? Pahami, pedomani dan wujudkanlah dalam setiap langkah hidup
    kita ini dengan ajaran catur purusartha sebagai satu kesatuan yang utuh. Yang
    manakah bagian-bagiannya?
    Berikut ini adalah bagian-bagian dan penjelasan singkat dari masing-masing
    bagian ajaran Catur Purusa Artha.
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 131
  3. Dharma
    Dharma berasal dari urat kata “dhr” yang berarti menjinjing, memelihara,
    memangku atau mengatur. Jadi, kata Dharma dapat berarti sesuatu yang mengatur
    atau memelihara dunia beserta semua makhluk. Hal ini dapat pula berarti ajaranajaran suci yang mengatur, memelihara, atau menuntun umat manusia untuk
    mencapai kesejahtraan jasmani dan ketenteraman batin (rohani). Dalam Santi
    Parwa (109,11) dapat ditemui keterangan tentang arti Dharma sebagai berikut :
    “Dharanad Dharman ityahur, dharmena widhrtah
    prajah (Santi Parwa (109,11).
    Terjemahannya:
    “Dharma dikatakan datangnya dari kata dharana (yang berarti memangku
    atau mengatur).
    Makna yang terkandung dalam kata “Dharma” sebenarnya sangat luas
    dan dalam. Bagi mereka yang menekuni ajaran-ajaran agama akan memberi
    perhatian yang pokok pada pengertian Dharma tersebut. Kutipan dari salah
    satu sloka kitab Santi Parwa di atas telah menggambarkan bahwa semua yang
    ada di dunia ini telah memiliki Dharma, dan juga diatur oleh Dharma. Manusia
    yang memelihara dan mengatur hidupnya untuk mencapai jagadhita dan Moksha
    adalah telah melaksanakan Dharma. Melaksanakan kewajiban-kewajiban hidup
    sebagai manusia tak lain adalah pelaksanaan Dharma. Kitab Sarasamuccaya
    menjelaskan sebagai berikut:
    132 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    “Yan paramãrthanya, yan artha kama sadhyan, Dharma juga leka sekena
    rumuhun, riyata katemwaning artha kama mepe tan paramãrtha wi
    katemwaning artha kama dening anasar sakeng Dharma (Saramuccaya.12)
    Terjemahannya:
    Kalau Artha dan Kama yang dituntut, maka seharusnya Dharma dilakukan
    lebih dahulu, tak tersangsikan lagi, pasti akan diperoleh Artha dan Kama itu
    nanti, tidak akan ada artinya jika Artha dan Kama itu diperoleh menyimpang
    dari Dharma.
    Petikan sloka di atas menekankan bahwa Dharma mesti dilaksanakan, maka
    Artha dan Kama datang dengan sendirinya. Bila petunjuk suci itu dapat kita
    lakoni dalam hidup ini berarti kita telah dapat memungsikan Dharma dalam
    kehidupan ini. Sehubungan dengan fungsi Dharma, didalam “Manu Samhita”
    disebutkan sebagai berikut ini:
    “Weda” pramanakah Gryah sadhanani Dharma.”
    Terjemahannya:
    Di dalam ajaran suci Weda “Dharma” dikatakan sebagai alat untuk mencapai
    kesempurnaan (Moksha).
    Selanjutnya di dalam kitab UdYoga Parwa khususnya bagian dari Asta Dasa
    Parwa dijumpai ucapan sebagai berikut:
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 133
    “Ikang Dharma ngaranya, hetuning mara ring swarga ika, kadi
    gatining perahu, an hetuning banyaga nentasing tasik.
    Terjemahannya:
    Yang disebut Dharma, adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga, sebagai
    halnya perahu, sesungguhnya adalah merupakan alat bagi pedagang dalam
    mengarungi lautan.
    Berdasarkan sloka di atas yang dimaksud dengan Dharma adalah
    kebenaran yang abadi (agama), atau sebagai hukum guna mengatur hidup dari
    segala perbuatan manusia yang berdasarkan pada pengabdian keagamaan. Di
    samping itu Dharma juga merupakan suatu tugas sosial di masyarakat. Untuk
    mengamalkan ajaran ini dipakai pedoman “Catur Dharma” yang terdiri dari :
    a. Dharma Kriya.
    b. Dharma Santosa.
    c. Dharma Jati.
    d. Dharma Putus.
    a. Dharma Kriya
    Dharma Kriya berarti manusia harus berbuat, berusaha dan bekerja untuk
    kebahagiaan keluarga pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, dengan
    menempuh cara: peri kemanusiaan sesuai dengan ajaran-ajaran agama Hindu.
    Setiap pekerjaan dan usaha akan berhasil dengan baik apabila dilandasi dengan
    Sad Paramita, yaitu:
    134 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    a. Dana Paramita: suka berbuat Dharma, amal dan kebajikan.
    b. Ksanti Paramita: suka mengampuni orang lain.
    c. Wirya Paramita: mengutamakan kebenaran dan keadilan.
    d. Prajna Paramita: selalu bersikap tenang, cakap dan bijaksana dalam
    menghadapi segala sesuatu hal/persoalan.
    e. Dhiyana Paramita: merasa bahwa segalanya ini adalah ciptaan Tuhan
    Yang Maha Esa dan oleh karenanya wajib menyayangi sesama makhluk
    hidup.
    f. Sila Paramita: selalu bertingkah laku yang baik (Tri Kaya Parisuda)
    dalam pergaulan.
    b. Dharma Santosa
    Dharma Santosa berarti berusaha untuk mencapai kedamaiaan lahir
    bathin dalam diri sendiri, dilanjutkan kemudian ke dalam lingkungan keluarga,
    masyarakat, bangsa dan negara. Tanpa adanya kebahagiaan dan kedamaian dalam
    diri sendiri akan sangat sukar untuk mewujudkan kedamaian dan kesentosaan
    dalam keluarga, bangsa dan negara.
    c. Dharma Jati
    Dharma Jati berarti kewajiban yang harus dilakukan untuk menjamin
    kesejahteraan dan ketenangan keluarga serta selalu mengutamakan kepentingan
    umum disamping kepentingan diri sendiri (golongan).
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 135
    d. Dharma Putus
    Dharma Putus berarti melakukan kewajiban dengan penuh keikhlasan
    berkorban serta bertanggung jawab demi terwujudnya keadilan sosial bagi umat
    manusia dan selalu mengutamakan penanaman budhi baik untuk menjauhkan
    diri dari noda dan dosa yang menyebabkan moral menjadi rusak. Secara singkat
    Dharma itu dapat dilaksanakan dengan
    mengamalkan ajaran “Tri Kaya Parisadha”
    yaitu tiga usaha dan jalan utama dalam
    seluruh kehidupan untuk mencapai tujuan
    agama yang terdiri dari:
  4. Kayika artinya tingkah laku dan
    perbuatan yang baik.
  5. Wacika artinya perkataan dan
    pembicaraan yang jujur dan benar.
  6. Manacika artinya pikiran perasaan
    yang baik dan suci serta tresnasih.
    e. Artha
    Artha dalam catur purusartha mempunyai beberapa makna. Di atas telah
    diuraikan bahwa dalam kaitannya dengan kata Purusartha, kata Artha dapat
    berarti tujuan. Demikian pula dalam kaitannya dengan kata Parama Artha (tujuan
    yang tertinggi), Parartha (tujuan atau kepentingan orang lain), dan sebagainya.
    Tetapi sebagai tujuan dari Catur Purusa Artha, kata Artha berarti harta atau
    kekayaan. Artha berarti benda-benda materi atau kekayaan sebagai sumber
    Gambar : 3.9 Arca Rambut Sedana
    Sumber ; http://unikahidha.
    ub.ac.id (11-7-2013)
    136 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    kebutuhan duniawi yang merupakan alat untuk mencapai kepuasan hidup.
    Secara singkatnya Artha disamping berarti harta benda, materi atau kekayaan
    yang dapat dirasakan, dimiliki dan dinikmati. Artha (dalam arti artha benda)
    memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan beragama. di antaranya adalah:
  7. Fungsi Artha dalam kehidupan beragama, adalah untuk berYajña seperti
    melaksanakan Panca Yajña yaitu :
    a. Dewa Yajña: korban suci yang ditujukan untuk melakukan pemujaan
    kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya.
    b. Manusa Yajña: korban suci yang ditujukan untuk kesejahteraan umat
    manusia.
    c. Pitra Yajña: korban suci yang ditujukan kehadapan para leluhur atau
    pitara baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal/disucikan.
    d. Rsi Yajña: korban suci atau penghormatan yang ditujukan terhadap
    para Rsi atau para guru dengan ilmu-ilmunya.
    e. Bhuta Yajña: korban yang tulus ikhlas terhadap yang ditujukan
    kehadapan para Bhuta Kala, makhluk-makhluk bawahan dan unsurunsur Panca Maha Bhuta yang lainnya.
  8. Fungsi Artha dalam Mewujudkan Jagadhita. Di samping fungsi Artha dalam
    kepentingan agama, Artha juga mempunyai peranan dalam mewujudkan
    Jagadhita atau kebahagiaan di dunia seperti:
    a. Untuk kemakmuran dan kesejahteraan, Artha dapat dibagi:
  9. Bhoga yakni kebutuhan primer bagi perkembangan hidup jasmani
    dari segala makhluk yaitu makanan, minuman (pangan).
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 137
  10. Upabhoga yakni kebutuhan hidup yang perlu dimiliki oleh
    manusia seperti pakaian, perhiasan dan sebagainya (sandang).
  11. Paribhoga yakni kebutuhan sosial lainnya, seperti perumahan,
    istri, anak dan lain-lainnya (papan).
    b. Untuk “dana-dana” sosial atau punia yakni tanda terima kasih dan
    pertolongan fakir miskin. Terutama sekali artha itu digunakan
    disalurkan di samping untuk kepentingan Yajña juga untuk kemajuan
    pendidikan. Secara singkat “Artha” itu harus dimanfaatkan, untuk :
  12. Maha Don Dharma Karya yaitu untuk Dharma(dana, sosial).
  13. Maha Don Artha Karya yaitu untuk kemakmuran dan
    kesejahteraan (dagang, perusahaan dan lain-lain).
  14. Maha Don Kama Karya yaitu kenikmatan, makanan, pendidikan
    (kesenian, olah raga) dan sebagainya.
    Pemanfaatan artha yang sesuai dengan petunjuk “Dharma” itu berarti umat
    Hindu telah melaksanakan “Dharma” agama. Kebahagiaan lahir bathin akan
    tercapai, kehidupan rumah tangga, masyarakat jadi rukun harmonis damai dan
    sentosa, tidak ada pengisapan antara manusia dengan manusia, karena umat
    manusia telah menggunakan artha itu sesuai dengan ajaran Dharma. Di dalam
    Brahma Purana dan Santi Parwa disebutkan sebagai berikut:
    “Dharmo Dharma nuban dharto dharmo natmantha
    pidakah (Brahmana Purana 221,16).
    138 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Terjemahannya:
    Dharma bertalian erat dengan Artha dan Dharma tidak menentang Artha itu
    sendiri (tetapi mengendalikan).
    Selanjutnya dalam kitab Santhi Parwa, didapat penjelasan tentang fungsi
    artha sebagai berikut:
    “Dharma mulah sadaiwartah, Dharma sadai wartah,
    Kamartha phalam utyata (Canti Parwa 123.4).
    Artinya:
    Walaupun “Artha” dikatakan alat untuk Kama, tetapi Artha selalu sebagai
    sumber untuk “Dharma”.
    Sedangkan dalam kitab suci Sarasamuccaya juga ada disebutkan sebagai
    berikut:
    “Apan ikang Artha, yan Dharma luirning karjanaya, ya ika labba ngaranya
    paramatrha ning amanggih sukha sang tumemwaken ika, kuneng yan aDharma
    luirning karjanya, kasmala ika, sininggahan de sang sai jana, matangnya
    haywa anasar sangkeng Dharma, yan tangarjana” (Sarasamuccaya 263).
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 139
    Terjemahannya:
    Sebab Artha itu, jika Dharma landasannya memperoleh, laba atau untung
    namanya, sungguh-sungguh mengalami kesenangan orang yang memperoleh
    Artha tersebut, namun jika Artha itu diperoleh dengan jalan Dharma, maka Artha
    itu adalah merupakan noda, hal itu dihindari oleh orang yang berbudhi utama,
    oleh karenanya janganlah bertindak menyalahi Dharma, jika hendak berusaha
    menuntun sesuatu.
    Menurut penjelasan dari beberapa kitab-kitab agama tersebut di atas dapat
    disimpulkan, bahwa Artha itu memang benar-benar sangat dibutuhkan dalam
    kehidupan di dunia ini, sebagai sarana baik dalam melaksanakan ajaran agama
    maupun dalam kebutuhan hidup sehari-hari fungsi dan manfaat artha sangat
    penting sekali, namun semuanya tidak boleh bertentangan dengan Dharma.
    f. Kama
    Kama berarti nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau
    kesejahteraan hidup. Kepuasan atau kenikmatan tersebut memang merupakan
    salah satu tujuan atau kebutuhan manusia. Biasanya Kama itu diartikan dengan
    kesenangan, cinta dan juga berarti sperma.
    Kama adalah suatu tujuan kebahagiaan, kenikmatan yang didapat melalui
    indra, tetapi harus berlandaskan Dharma dalam memenuhinya. Pengertian
    “Kama” yang berarti kesenangan dan cinta kasih yang penuh keikhlasan terhadap
    sesama makhluk hidup dan yang penting memupuk cinta kasih, kebenaran,
    keadilan dan kejujuran untuk mencapai kesenangan dan kebahagiaan itu.
    140 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Sehubungan dengan cinta kasih ini Kama itu dapat dibagi atas tiga bagian
    yang disebut “Tri Parartha” yakni:
  15. Asih: menyayangi dan mengasihi sesama makhluk sebagai mengasihi
    diri sendiri. Kita harus saling asah (harga menghargai), asih (cinta
    mencintai) asuh (hormat menghormati), dan mewujudkan ajaran Tat
    Twam Asi terhadap sesama makhluk agar terwujudnya kerukunan,
    kedamaian, dan keharmonisan dalam kehidupan serta tercapainya
    masyarakat Jagadhita (tat tentram kerta raharja).
  16. Punya: dana Punya cinta kasih kepada orang lain diwujudkan dengan
    selalu menolong dengan memberikan sesuatu (harta benda) yang kita
    miliki dan berguna bagi orang yang kita berikan.
  17. Bhakti: cinta kasih pada Hyang Widhi dengan senantiasa sujud
    kepadanya dalam bentuk pelaksanaan agama. Kebahagiaan berupa
    bersatunya “Atma” dengan “Brahmana” (Tuhan) dimana dapat timbul
    “Sat Cit Ananda” (kesadaran, ketentraman, dan kebahagiaan abadi)
    akan tercapai dengan hanya ketekunan sujud bhakti dan sembahyang
    yang sempurna.
    Kama atau kesenangan atau kenikmatan menurut ajaran agama, tidak
    akan ada artinya jika diperoleh menyimpang dari Dharma. Karenanya Dharma
    menduduki tempat di atas dari Kama, dan menjadi pedoman dalam pencapaian
    Kama. Dalam hal ini dikemukakan suatu contoh, bagaimanakah tindakan seorang
    Raja dalam pencapaian Kama tersebut. Dalam kekawin Ramayana disebutkan :
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 141
    “Dewa ku sala-sala mwang Dharma ya pahayun mas ya ta paha wre
    ddhim bya ya ring kayu kekesan bhukti sakaharep tedwehing bala kasukhan
    Dharma mwang artha mwang kama ta ngaran ika (Ramayana I.3.54).
    Terjemahannya:
    Tempat-tempat suci hendaknya dipelihara, kumpulkanlah emas yang banyak
    serta diabadikan untuk pekerja yang baik, nikmati kesenangan dengan memberi
    kesempatan bersenang-senang kepada rakyatmu, itulah yang disebut Dharma,
    Artha dan Kama.
    Dalam bait kekawin Ramayana di atas telah dinyatakan bahwa kenikmatan
    (Kama) hendaknya terletak dalam kemungkinan yang diberikan pada orang
    lain untuk merasakan kenikmatannya. Jadi pekerjaan yang sifatnya ingin
    menguntungkan diri sendiri dalam memperoleh Kama (kenikmatan) itu harus
    dihindari.
    g. Moksha
    Moksha berarti ketenangan dan kebahagiaan spiritual yang kekal abadi (suka
    tan pewali duka). Moksha adalah tujuan terakhir dari umat Hindu. Kebahagiaan
    bathin yang terdalam dan langgeng ialah bersatunya “Atma dengan Brahmana”
    itu yang disebut Moksha. Moksha atau Mukti berarti kebebasan, kemerdekaan
    yang sempurna, ketenteraman rohani sebagai dasar kebahagiaan abadi, kesucian
    dan bebasnya roh dari penjelmaan dan menunggal dengan Tuhan yang sering
    disebut dengan “Kelepasan”.
    142 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Manusia harus menyadari bahwa perjalanan hidupnya pada hakekatnya
    adalah perjalanan mencari Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa,
    lalu bersatu dengan beliau. Perjalanan seperti
    itu adalah perjalanan yang penuh dengan
    rintangan, bagaikan mengarungi samudra
    yang bergelombang. Sudah dikatakan di atas
    bahwa ajaran agama telah menyiapkan
    sebuah perahu untuk mengarungi samudra
    itu, yaitu Dharma. Hanya dengan berbuat
    berdasarkan Dharma manusia akan dapat
    dengan selamat mengarungi samudra yang
    luas dan ganas itu.
    Dengan bersatunya Atma pada sumbernya yaitu Brahmana (Ida Sang Hyang
    Widhi) maka berakhirlah proses atau lingkaran Punarbhawa atau Samsara bagi
    Atma. Selesailah pengembaraan atma itu yang mungkin telah berulang kali lahir
    di dunia ini, dan tercapailah kebahagiaan yang kekal abadi. Berdasarkan petunjuk
    kitab-kitab suci agama kita “Moksha” sebagai kebebasan abadi, dinyatakan
    memiliki beberapa tingkatan, antara lain :
    a. Samipya
    Samipya adalah Moksha atau kebebasan yang dapat dicapai semasih
    hidupnya ini, terutama oleh para Rsi saat melaksanakan Yoga, samadhi, disertai
    dengan kemekaran antusiasnya, sehingga beliau dapat menerima wahyu dari
    Tuhan. Samipya sama sifatnya dengan Jiwan Mukti.
    Gambar : 3.10 Semedi
    Sumber ; http://unikahidha.
    ub.ac.id (11-7-2013)
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 143
    b. Sarupya
    Sarupya adalah Moksha atau kebebasan yang dicapai semasih hidup di mana
    kedudukan atma mengatasi unsur-unsur maya. Kendati pun atma mengambil
    perwujudan tertentu namun tidak akan terikat oleh segala sesuatunya seperti
    halnya awatara seperti Budha, Sri Kresna, Rama dan lain sebagainya.
    c. Salokya (Karma Mukti)
    Salokya (Karma Mukti) merupakan kebebasan yang dicapai oleh atma itu
    sendiri telah berada dalam posisi kesadaran sama dengan Tuhan akan tetapi
    belum dapat bersatu dengan Tuhan itu sendiri. Dalam keadaan ini dapat dikatakan
    bahwa atma itu telah mencapai tingkat “Dewa” yang merupakan manifestasinya
    dari sinar sucinya Tuhan itu sendiri.
    d. Sayujya (Purna Mukti)
    Sayujya (Purna Mukti) ini merupakan suatu tingkatan kebebasan yang paling
    tinggi dan sempurna di mana atma telah dapat bersatu atau bersenyawa dengan
    Tuhan dan tidak terbatas oleh apapun juga sehingga benar-benar telah mencapai
    “Brahma Atma Aikyam” yaitu atman dengan Tuhan betul-betul bersatu.
    Walaupun ada beberapa aspek atau tingkatan daripada Moksha itu
    berdasarkan, atas keadaan atma dalam hubungannya dengan Tuhan yang
    terpenting dan patut menjadi kunci pemikiran untuk mencapai Moksha itu adalah
    agar kita dapat melenyapkan pengaruh “Awidya (maya)” dalam alam pikiran itu,
    sehingga atma akan mendapat kebebasan yang sempurna. Kitab Bhagawadgita
    menyebutkan, sebagai berikut:
    144 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    “Anta kale ca mameva, smaran muktva kalevaran, yah prayate sa
    madhavam, yati nasty atra sam sayah” (Bhagawadgita VIII, 5).
    Terjemahannya:
    Dan siapa saja pada waktu meninggal, melepaskan badannya dan berangkat
    hanya memikirkan Aku, ia mencapai tingkat Aku. Tentang ini tidak ada keraguraguan lagi.
    Dalam pustaka suci Manawa Dharmasastra disebutkan, bahwa untuk
    mencapai rahmat yang tertinggi (nicreyasa) yakni Moksha itu sendiri, antara lain
    dapat dicapai dengan cara sebagai berikut :
  18. Mempelajari Weda.
  19. Melakukan tapa.
  20. Mempelajari / mencari pengetahuan yang benar.
  21. Menunduk (mengendalikan Panca Indriya).
  22. Tidak menyakiti makhluk lain.
  23. Melayani/menghormati guru.
    Ke enam hal tersebut di atas serentak harus dilaksanakan, jadi tidak hanya
    memilih salah satu. Di samping hal tersebut di atas kita juga mengenal jalan atau
    cara yang dapat dilalui untuk menuju kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa, yakni
    untuk mempertemukan atman dengan atman. Cara seperti itu disebut dengan
    Yoga. Yoga itu ada empat macam yang disebut Catur Yoga, yaitu :
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 145
  24. Karma Yoga.
  25. Bhakti Yoga.
  26. Jnana Yoga.
  27. Raja Yoga.
    Kata “Yoga” berasal dari urat kata “yuj” yang artinya menghubungkan diri.
    Setiap Yoga tersebut di atas mempunyai cara dan sifat tersendiri, yang dapat
    diikuti atau dilaksanakan oleh setiap orang. Dan setiap orang dalam memilih
    Yoga itu disesuaikan dengan sifat, bakat, dan kemampuannya. Dengan demikian
    cara yang ditempuh berbeda, namun sasaran atau tujuan yang ingin dicapai
    adalah satu dan sama yaitu Moksha atau mukti. Untuk jelasnya akan diuraikan
    tentang Yoga itu satu persatu sebagai berikut :
  28. Karma Yoga
    Karma Yoga yaitu proses mempersatukan
    atman atau jiwatman dengan paramatma
    (Brahman) dengan jalan berbuat kebajikan
    (subha-karma) untuk membebaskan diri
    dari ikatan duniawi. Adapun “karma”
    yang dimaksud adalah perbuatan baik
    (subhakarma), suatu perbuatan baik tanpa
    mengikat diri dengan mengharapkan
    hasilnya. Semua hasil (phala) perbuatan
    harus diserahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan perbuatan yang bebas
    dari harapan hasil itu disebut “Karma Nirwritta”. Sedangkan perbuatan (karma)
    Gambar 3.11 Ilustrasi Karma Marga
    Sumber : http://unikahidha.
    ub.ac.id (11-7-2013)
    146 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    yang masih mengharapkan hasilnya disebut “Karma Prawritta”. Jadi dengan
    mengabdikan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa berlandaskan subhakarma yang tanpa pamrih itu, seseorang akan dapat mencapai kesempurnaan itu
    secara bertahap. Dengan bekerja tanpa terikat orang akan dapat mencapai tujuan
    tertinggi itu.
    Dengan demikian Karma Yoga yang mengajarkan bahwa setiap orang yang
    menjalani cara ini bekerja dengan baik tanpa terikat dengan hasil, sesuai dengan
    kewajibannya (SwaDharmanya). Adalah salah kalau orang beranggapan bahwa
    dengan tidak bekerja kesempurnaan akan dapat dicapai. Karena pada hakekatnya
    dunia inipun dikuasai dan diatur oleh hukum karma sehingga, seorang Karma
    Yoga berYajña dengan kerja (karma). Karena itu bekerjalah selalu dengan
    tidak mengikatkan diri pada hasilnya, sehingga tujuan tertinggi pasti akan
    dapat dicapai dengan cara yang demikian. Dengan menyerahkan segala hasil
    pekerjaan itu sebagai Yajña kepada Sang Hyang Widhi dan dengan memusatkan
    pikiran kepada-Nya dan kemudian melepaskan diri dari segala pengharapan
    serta menghilangkan kekuatan, maka kesempurnaan itu dapat dicapai. Dengan
    demikian, ajaran Karma Yoga yang pada pokoknya menekankan kepada setiap
    orang agar selalu bekerja sesuai dengan SwaDharmanya dengan tidak terikat
    pada hasilnya serta tidak mementingkan diri sendiri.
  29. Bhakti Yoga
    Bhakti Yoga yaitu proses atau cara mempersatukan atman dengan Brahman
    dengan berlandaskan atas dasar cinta kasih yang mendalam kepada Ida Sang
    Hyang Widhi Wasa. Kata “bhakti” berarti hormat, taat, sujud, menyembah,
    persembahan, kasih.

Bhakti Yoga artinya: jalan cinta kasih, jalan persembahan. Seorang Bhakta
(orang yang menjalani Bhakti Marga) dengan sujud dan cinta, menyembah dan
berdoa dengan pasrah mempersembahkan jiwa raganya sebagai Yajña kepada
Sang Hyang Widhi. Cinta kasih yang mendalam adalah suatu cinta kasih yang
bersifat umum dan mendalam yang disebut maitri. Semangat Tat Twam Asi
sangat subur dalam hati sanubarinya. Sehingga seluruh dirinya penuh dengan
rasa cinta kasih dan kasih sayang tanpa batas, sedikitpun tidak ada yang terselip
dalam dirinya sifat-sifat negatif seperti kebencian, kekejaman, iri dengki dan
kegelisahan atau keresahan. Cinta baktinya kepada Hyang Widhi yang sangat
mendalam, itu juga dipancarkan kepada semua makhluk baik manusia maupun
binatang.
Dalam doanya selalu menggunakan pernyataan cinta dan kasih sayang dan
memohon kepada Yang Widhi agar semua makhluk tanpa kecuali selalu berbahagia
dan selalu mendapat berkah termulia dari Hyang Widhi. Jadi untuk lebih jelasnya
seorang bhakta akan selalu berusaha melenyapkan kebenciannya kepada semua
makhluk. Sebaliknya ia selalu berusaha memupuk dan mengembangkan sifatsifat Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa (Catur Paramita). Ia selalu berusaha
membebaskan dirinya dari belenggu keakuannya (ahamkara).
Sikapnya selalu sama menghadapi suka dan duka, pujaan dan celaan. Dan
selalu merasa puas dalam segala-galanya, baik dalam kelebihan dan kekurangan.
Jadi, benar-benar tenang dan sabar selalu. Dengan demikian baktinya kian teguh
dan kokoh kepada Hyang Widhi Wasa. Keseimbangan batinnya sempurna, tidak
ada ikatan sama sekali terhadap apapun. Ia terlepas dan bebas dari hukuman
serba dua (dualis) misalnya suka dan duka, susah senang dan sebagainya.
148 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
Seluruh kekuatannya dipakai untuk memusatkan pikirannya kepada Hyang
Widhi dan dilandasi jiwa penyerahan total. Dengan begitu seorang Bhakti Yoga
dapat mencapai Moksha.

  1. Jnana Yoga
    Jnana Yoga ialah pengetahuan suci yang dilaksanakan untuk mencapai
    hubungan atau persatuan antara atma dengan Brahman. Kata “Jnana” artinya
    pengetahuan sedangkan kata Yoga berarti berhubungan. Jadi dengan jalan
    menggunakan ilmu pengetahuan suci (Jnana) seorang (jnanin) menghubungkan
    dirinya (atmanya) dengan Hyang Widhi untuk mencapai kesempurnaan dan
    kebahagiaan yang kekal abadi.
    Seorang Jnana akan memusatkan bayu, sabda
    dan idepnya untuk mendalami dan menekuni
    isi pustaka suci Weda, terutama bidang filsafat
    (tattwa). Dengan demikian lenyaplah ketidak
    tahuannya (awidya) dan kekhayalannya (maya),
    sehingga dapat menembus jalan bebas dari ikatan
    karma dan samsara. Kebijaksanaan tertinggi
    itu sesungguhnya ada pada Hyang Widhi yang
    bergelar Sang Hyang Saraswati. Tuhan (Hyang
    Widhi) adalah serba tahu. Pengetahuan suci yang
    merupakan anugrah-Nya itu, patutlah dipakai
    sarana berYajña dan memusatkan pikiran kepada Beliau. Karena disebutkan bahwa
    Yajña berupa pengetahuan (Jnana) adalah lebih utama sifatnya dibandingkan
    Gambar : 3.12 Ilustrasi Jnana Marga
    Sumber ; Dok. Pribadi (11-8-2014)
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 149
    dengan Yajña (korban) benda yang berupa apapun. Segala pekerjaan tanpa
    kecuali memuncak atau berpusat dalam kebijaksanaan. Disebutkan pula dengan
    berbidakan ilmu pengetahuan seseorang dapat menyebrangkan diri untuk
    mengarungi lautan dosa sekalipun.
    Dengan ilmu pengetahuan suci itu orang sanggup melepaskan diri dari ikatan
    karma. Semua hasil karma akan habis terbakar oleh apinya ilmu pengetahuan.
    Seperti halnya kayu api terbakar menjadi abu. Sehingga terhapuslah dualisme
    (suka-duka). Orang yang memiliki kebijaksanaan akan segera menemukan
    kedamaian yang abadi. Semua kebimbangan dan keraguan lenyap dan dengan
    demikian atma dapat bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi). Akhirnya hukum
    Karma dan Punarbawa dapat ditebus dan sampailah pada Moksha.
  2. Raja Yoga
    Raja Yoga dilaksanakan dengan cara pengendalian dan penggemblengan
    diri melalui Tapa, Brata dan Samadi. Untuk melaksanakan Yoga itu ada delapan
    langkah atau tahap yang harus dijalankan yang disebut Astangga Yoga. Adapun
    bagian-bagian dari Astangga Yoga tersebut sebagai berikut:
  3. Yama : merupakan pengendalian diri tahap pertama. (Jasmani)
  4. Niyama : pengendalian diri dalam tahap lebih lanjut. (Rohani)
  5. Asana : latihan berbagai sikap badan untuk meditasi.
  6. Pranayama: pengaturan pernafasan untuk mencapai ketenangan
    pikiran. Di dalam pengaturan nafas ada tiga jalan yaitu:
    150 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    a. Puraka (menarik nafas)
    b. Kumbaka (menahan nafas)
    c. Recaka (mengeluarkan nafas) semua ini dilakukan secara teratur.
  7. Pratyahara: mengontrol dan mengembalikan semua indrya, sehingga
    dapat melihat sinar-sinar suci.
  8. Dharana : usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan
    (Hyang Widhi).
  9. Dhyana : usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan
    (Hyang Widhi) tarafnya lebih tinggi daripada Dharana).
  10. Samedi : bersatunya atma dengan Tuhan.
    Dengan melakukan latihan Yoga (Astangga Yoga) seorang pengikut Raja
    Yoga akan dapat menerima wahyu melalui pengamatan intiusinya yang telah
    mekar. Dan juga akan dapat mengalami “Jiwan Mukti” selanjutnya setelah
    meninggal dunia maka atmanya akan dapat bersatu dengan Tuhan. Selanjutnya
    individu yang bersangkutan akan dapat menikmati kebebasan yang tertinggi
    (Moksha). Kitab Bhagawangita Bab VI, sloka 10 disebutkan sebagai berikut:
    “YogÄ yunjÄta sata sida, #tm¢nanam rahasi sthitah, ek¢kÄ
    yatacittatma nirasik aparigrahah (Bhagawangita, VI.10).
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 151
    Terjemahannya:
    Seorang Yogin harus tetap memusatkan pikirannya kepada atma yang Maha
    Besar (Tuhan) tinggal dalam kesunyian dan tersendiri, bebas dari angan-angan
    dan keinginan untuk memilikinya.
    “Prasanta manarasam hy enam, yoginam sukham uttamam,Upaiti
    s¢ntara jasam Brahma-bhutam akalmasam. (BhagawangitaVI, 27)
    Terjemahannya:
    Karena kebahagiaan tertinggi datang pada Yogin, yang pikirannya tenang
    dan hawa nafsunya tidak bergolak yang keadaannya bersih dan bersatu dengan
    Tuhan (Moksha).
    Demikianlah cara atau jalan untuk dapat dituruti, dilaksanakan oleh manusia
    sebagai tuntunan baginya untuk mencapai tujuan hidup rokhani, yakni guna dapat
    menikmati kesempurnaan hidup yang disebut Moksha. Di antara keempat cara
    atau jalan tersebut di atas semuanya adalah sama, tiap-tiap jalan meletakkan dasar
    dan cara-cara tersendiri. Tidak ada yang lebih tinggi, ataupun yang lebih rendah,
    semuanya baik dan utama tergantung pada kepribadian, watak, kesanggupan
    dan bakat manusia masing-masing. Semuanya akan mencapai tujuannya asal
    dilakukan dengan penuh kepercayaan, ketekunan dengan tulus ikhlas, kesujudan,
    keteguhan iman dan tanpa pamrih. Di dalam kitab Bhagawangita dijelaskan
    sebagai berikut:
    152 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    “Ye yath¢ mam prapadyante, t¢ms tathai va bhaj¢my aham,mama vartma
    nuvar tante, manushy¢h partha sarvasah (Bhagawangita IV, 11).
    Terjemahannya:
    Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima dari
    mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Parta.
    Jika kita perhatikan dari semua jalan tersebut di atas semuanya menekankan,
    bahwa syarat untuk mencapai kebebasan (Moksha) ialah lenyapnya pengaruh
    maya dan emosi karena maya inilah yang merupakan perintang dan penghalang
    bagi atma untuk bersatu dengan Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa), seperti halnya
    udara di alam (di luar). Moksha sebagai tujuan spiritual bukanlah merupakan
    suatu janji yang hampa melainkan suatu keyakinan yang tinggi bagi tiap orang
    yang beriman dan merupakan suatu pendidikan rohani untuk menciptakan
    rohani manusia yang beretika dan bermoral serta memberi effek positf. Tif demi
    tercapainya masyarakat yang sejahtera tersebut, bekerja atas dasar kebenaran,
    kebajikan dan pengorbanan dan bebas dari segala macam kecurangan (satyam
    eva jayate na nrtam). Demikianlah Moksha itu dapat ditempuh dengan beberapa
    macam jalan sesuai dengan tingkat kemampuan dari masing-masing orang.
    Uji Kompetensi:
  11. Apakah yang dimaksud dengan catur purusãrtha dalam ajaran agama
    Hindu? Jelaskanlah!
  12. Mengapa usaha untuk mewujudkan catur purusãrtha dinyatakan sulit
    dapat dilaksanakan dalam kehidupan ini?
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 153
  13. Hambatan apa sajakah yang anda alami untuk dapat mewujudkan catur
    purusãrtha itu? Diskusikanlah dengan (Kelompok, teman sebangku
    atau yang lainnya) di kelas! Laporkanlah hasil diskusi tersebut!
  14. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari usaha
    dan upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup
    ini berlandaskan konsep catur purusãrtha? Tuliskanlah pengalaman
    Anda!
  15. Bila seseorang berkeinginan untuk melaksanakan catur purusãrtha
    tanpa mengikuti tahapan-tahapannya, apakah yang akan terjadi?
    Buatlah narasinya 1-3 halaman diketik dengan huruf Times New
    Roman-12, spasi 1,5 cm, ukuran kertas kwarto: 4-3-3-4!

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hambatan Globalisasi Dalam Mencapai Moksha

Kewajiban Suami, Istri, dan Anak dalam Keluarga Agama Hindu