in

Kewajiban Suami, Istri, dan Anak dalam Keluarga Agama Hindu

Kewajiban Suami, Istri, dan Anak dalam Keluarga


Kita sebagai umat Hindu perlu kiranya memperkokoh jati diri dan
memperkuat kepribadian melalui nilai-nilai agama, karena nilai-nilai luhur ini
dapat menjalin dan mengharmoniskan ikatan pengabdian kehadapan Brahman
beserta semua manifestasinya, kepada suami, kepada anak dalam rangka
pengabdian dan bukan sebagai pengorbanan.

Kewajiban Suami, Istri, dan Anak dalam Keluarga

Oleh karena keadaan zaman yang
menuntut, sehingga seringkali swadharma seorang istri mengalami pergeseran,
seperti para istri terlalu banyak melakukan tugas-tugas di luar rumah. Padahal
istri sangat menentukan keberhasilan keluarga itu, dan istri merupakan saktinya
dari suami. Suami tidak akan berdaya dalam suatu keluarga apabila saktinya
(istrinya) dibohongi, dipermainkan, tidak dihargai, dan tidak dihormati, bahkan
dipastikan kekuatan misteri menghancurkan keluarga itu. Seperti halnya para
dewa akan mampu menjalankan fungsinya apabila didukung oleh saktinya.
Bagaimakah kewajiban keluarga sukhinah? berikut ini adalah paparannya;Swadharma Istri


Swadharma istri menurut Kitab Suci Veda sebagai berikut:


a. Memenuhi Doa dan Harapan Orang Tua
Setelah pawiwahan, orang tua mengharapkan anaknya di rumah suami agar
selalu dapat memberi kedamaian, dapat memberi kasih sayang, tidak menyakiti,
memberi kesejukan dan membiasakan diri selalu hidup sehat. Jika hal ini dapat
dilakukan, maka keberuntungan akan selalu dirasakan. Seorang istri seperti
inilah yang disebut istri yang bijaksana dan pengertian.

b. Memenuhi Harapan Suami
Kesetian istri terhadap suami seyogyanya selalu dijaga dengan berbagai
cara, seperti selalu memberi kepuasan, melayani, bersikap lemah lembut, sopan
dan ramah, serta memiliki rasa pengabdian yang tulus kepada suaminya. Kalau
kita renungkan kalimat tadi, betapa mulianya swadharma seorang istri kepada
suaminya.


Semestinya seorang istri harus selalu taat dan setia kepada satu suami, seperti
profil kesetian “Dewi Savitri” di dalam kitab Suci Purana “Kisah Dewi Savitri”
yang sejak awal sudah tidak diperkenankan melakukan pawiwahan dengan
Setiawan, karena telah diramal oleh Dewa Narada, bahwa Setiawan berumur
pendek, dari sejak melakukan pawiwahan, umurnya tinggal 1 tahun lagi, tetapi
Sawitri tidak ingin berubah pikiran dan terus saja mengadakan pawiwahan.
Setahun berlalu, ramalan mulai menjadi kenyataan, Setiawan meninggal, rohnya
dijemput dan dibawa pergi oleh Dewa Yama. Dewi Savitri diperintahkan oleh
Dewa Yama agar membuat upacara kematian suaminya, dan engkau dewi tidak
perlu mengikuti-Ku. Namun Dewi Savitri tetap tidak mau mengikuti perintah
Dewa Yama, dengan mengatakan Oh Dewa, kemanapun suami hamba dibawa,
hamba tetap menyertainya. Dewi engkau boleh meminta apapun dari-Ku,
asalkan jangan meminta suamimu hidup kembali, suamimu meninggal karena
sudah waktunya.


Karena kesetiaanmu terhadap suami, Aku beri anugrah 100 anak yang
berumur panjang dengan kerajaan yang “tata tentram kerta raharja gemah ripah
lohjinawi”. Tetapi, Dewi Savitri tetap tidak mau sambil mengeluarkan katakata: bagaimana mungkin hamba bisa mempunyai 100 anak, sedangkan suami

saja tidak punya, agar hamba tentram mohon hidupkan kembali suami hamba.
Karena rasa pengabdiannya yang setia, tulus, dan suci, akhirnya suami Dewi
Savitri dihidupkan kembali oleh Dewa Yama, dan umurnya diperpanjang sampai
100 tahun. Dari dialog tadi, mencerminkan arti kesetiaan seorang istri sebagai
pendamping suami yang mampu membangkitkan semangat dan keyakinan.
Mengenai tugas istri terhadap suami tercantum dalam kitab suci Manawa

c. Sebagai Ibu Rumah Tangga.
Istri berkewajiban mengatur rumah menjadi bendahara rumah tangga dan
urusan rumah tangga yang lain. Selain sebagai ibu rumah tangga, istri juga tidak
kalah pentingnya yaitu sebagai penerus keturunan, melahirkan putra suputra
yang merupakan kodrat seorang istri guna menyelamatkan leluhur yang masih
terhalang perjalanan akhirnya. Banyak perubahan fisik dan mental yang dialami
seorang istri mulai dari ngidam, hamil, melahirkan, menyusui, membimbing dan
mendidik anak, oleh karena itu seorang istri harus bersabar dan selalu menjaga
kehamilannya agar dapat menurunkan anak bergenetika bagus.
Genetika seorang anak dominan ditentukan oleh gen ibunya, karena bagian
tubuh bayi yang terdiri dari darah, daging, kelenjar dan otak, dibentuk oleh
gen ibu, sedangkan gen ayah menurunkan atau membentuk tulang, kuku, dan
rambut. Setelah lahir, perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan
keluarga. Ibulah yang menimang, memberi makan, menanamkan nilai-nilai
luhur agama. Mendidik anak harus disesuaikan dengan usianya, hal ini tersurat dalam “Nitisastra sargah IV, 20”: Tingkahing sutaçàsaneka kadi ràja-tanaya ri sédéng limang tahun, Sapta ng warûa warà hulun sapuluhing tahun ika wuruken ring akûara,
Yapwan ûoðaçawarûa tulya wara mitra tinaha-taha denta mìðana,
yan wus putra suputra tinghalana solahika wurukén ing nayenggita.
Terjemahannya:
Anak yang sedang berumur lima tahun, hendaknya diperlakukan seperti anak
raja, jika sudah berumur tujuh tahun, dilatih supaya suka menurut, jika sudah
sepuluh tahun, dipelajari membaca, jika sudah enam belas tahun diperlakukan
sebagai sahabat, kalau kita mau menunjukkan kesalahannya, harus dengan
hati-hati sekali, jika ia sendiri sudah beranak, diamat-amati saja tingkahnya,
kalau hendak memberi pelajaran kepadanya, cukup dengan gerak dan alamat
(Nitisastra sargah IV, 20).
Demikianlah ucap sastra yang mengamanatkan tentang tatacara memelihara
keturunan agar menjadi baik adanya, orang tua berkewajiban memperlakukan
anaknya dengan baik dan penuh hati-hati. Kewajiban mulia orang tua hendaknya
ditanamkan sejak dini.


a. Usia 0-6 tahun, anak harus diperlakukan sebagai seorang raja, yang
selalu dilayani. Anak selalu diingatkan agar tidak berbohong.
b. Usia 7-15 tahun, anak dilatih supaya menurut sebagai seorang abdi
(pelayan), anak dilatih secara bertahap, dan selalu disuruh-suruh. Anak
selalu diingatkan agar tidak berbohong.
c. Usia 16-20 tahun, anak diperlakukan sebagai teman atau sahabat,
diajak bertimbang terima, dimintai pendapat, sehingga anak berani
mengemukan keluh kesah apa saja kepada orang tuanya. Anak selalu
diingatkan agar tidak berbohong.
d. Usia 21 tahun ke atas, anak harus diajari ilmu kepemimpinan, sebab
pada usia ini anak sudah tergolong dewasa yang mempunyai pemikiran
matang. Anak selalu diingatkan agar tidak berbohong.
e. Jika anak-anak tersebut sudah bersuami-istri “sudah memiliki
keturunan” kewajiban orang tua hanya memberikan perhatian,
atau memberikan pembelajaran hanya dengan mencontoh “sebagai
panutan.”
d. Sebagai Penyelenggara Agama
Walau bukan sebagai warisan, kenyataannya sebagian besar pekerjaan
yang berkaitan dengan aktivitas agama dilaksanakan oleh kaum wanita, karena
wanita merupakan pendukung keluarga dalam mewujudkan pelaksanaan
upacara, namun harus terus ditingkatkan kemampuan ini dengan dibarengi
peningkatan pemahaman terhadap tattwa/maknanya dan etika/aturan-aturan
dalam pelaksanaan upacara. Dalam susastra juga disebutkan tingkatan spiritual
kaum wanita sesungguhnya sangat utama dan sejajar dengan kaum laki-laki yang
terbaik sebagai kepala rumah tangga. Nitisastra menjelaskan sebagai berikut:

Di antara wanita-wanita yang ditakdirkan untuk mengandung bayi, yang
menjamin rakhmat yang layak untuk dipuja dan yang menyemarakkan tempat
tinggalnya di antara dewi-dewi yang merakhmati terhadap rumah seorang lakilaki tak ada bedanya di antara mereka (Manawadharmasastra, IX 26).

Swadharma Suami Terhadap Istrinya
Dalam kitab suci “Manawa Dharmasastra IX. 3, swadharma seorang suami
terhadap istrinya dalam keluarga adalah:


a. Wajib Melindungi Istri dan Anak-anaknya
Pitaraksati kaumare
bharta raksati yauwane,
raksanti sthawire putra na
stri swatantryam arhati.
Terjemahan:
Selagi ia masih kecil, seorang ayahlah yang melindungi dan setelah dewasa
suamilah yang melindunginya, dan setelah ia tua, putra-putrinyalah yang
melindungi, wanita tidak pernah layak bebas.

b. Wajib Menghargai dan Menghormati Istri
Bila istri tidak dihormati, maka keluarga itu akan hancur. Wanita sebagai
seorang ibu wajib dihormati dan dihargai dalam hidup dan kehidupan ini.

c. Wajib Memelihara Kesucian Istri dan Keturunannya
Seorang suami dari keluarga sukinah berkewajiban untuk menjadikan dan
memelihara kesucian, ketenangan, dan kedamaian hati istri, anak dan keluarga
yang lainnya. Dengan demikian maka tumbuh dan berkembang keluarga yang
dicita-citakan.

d. Wajib Memberikan Harta Kepada Istri untuk Keperluan Rumah
Tangga dan Kegiatan Keagamaan
Urusan rumah tangga adalah sudah menjadi kebiasaan ditangani oleh sosok
seorang ibu rumah tangga. Biasanya sosok ibu lebih bisa mengatur kondisi
rumah tangga yang dibangun, sehingga semua kebutuhan dan keperluan rumah
tangga dapat berjalan sesuai dengan tatanannya.

Swadharma Anak Terhadap Orang Tua
Anak atau disebut putra merupakan aset bagi orang tua dan leluhur. Anak
bukan hanya bertanggung jawab atas perihal urusan kehidupan di dunia nyata
bagi orang tua, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap orang tua maupun
leluhurnya. Anak memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan roh orang tua
dari api neraka. Oleh karena itu, anak disebut putra.
Anak keturunan merupakan kelanjutan dari kehidupan atau eksistensi
keluarga. Anak dalam Bahasa Kawi disebut “Putra” asal kata dari “Put”
(berarti neraka) dan “Ra” (berarti menyelamatkan). Jadi Putra artinya: “yang
menyelamatkan dari neraka” (Bhagawan Dwija, 2010).Seorang anak/putra yang
suputra (anak yang baik/mulia) merupakan cahaya keluarga, seperti dinyatakan
di dalam Canakya Nitisastra
374 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
Kitab Canakya Nitisastra menyatakan sebagai berikut:
Sang hyang candra taràngganà pinaka dipa memadangi ri kàla ning wéngi.
sang hyang surya sédéng prabhasa maka dipa memadangi ri bhómi maóðala.
widyà çàstra sudharma dipanikanang tri-bhuwana suméne’ prabhàswara.
yan ing putra suputra sàdhu gunawàn memadangi kula wandhu wandhawa.
Terjemahannya:
Bulan dan bintang memberi penerangan di waktu malam, Matahari bersinar
menerangi bumi, ilmu pengetahuan, pelajaran dan peraturan-peraturan yang
baik menerangi tiga jagat dengan sempurna, Putra yang baik, saleh dan pandai
membahagiakan kaum keluarganya (Nitisastra, IV.1).
“Bagaikan bulan menerangi malam dengan cahayanya yang terang dan
sejuk, demikianlah seorang anak yang suputra yang memiliki pengetahuan
rohani, insyaf akan dirinya dan bijaksana. Anak suputra yang demikian itu
memberi kebahagiaan kepada keluarga dan masyarakat” (Canakya Nitisastra
III.16). Sebuah keluarga tanpa anak bagaikan sayur tanpa garam, kehidupan
pasangan suami istri menjadi hambar tanpa kehadiran seorang anak.
Anak yang suputra akan menjadi sumber kebahagian bagi orang tuanya
tetapi sebaliknya anak yang kuputra (anak yang jahat) akan menjadi sumber
penderitaan bagi keluarga. Seperti untaian sloka kitab suci yang menyatakan
“Seluruh hutan terbakar hangus hanya karena satu pohon kering yang terbakar.
Begitulah seorang anak yang kuputra menghancurkan dan memberikan aib bagi
seluruh keluarga” (Canakya Niti Sastra Bab III. 15). Oleh karena anak merupakan
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 375
asset masa depan bagi keluarga, baik semasih di dunia nyata maupun nanti di
dunia rohani, maka peliharalah sang anak sejak baru berada dalam kandungan.
Kitab Nitisastra menjelaskan sebagai berikut:
Paðaning ku-putra taru çuûka tumuwuh i ri madhyaning wana.
maghasàgérit matémah agni sahana-hananing halas géséng.
ikanang su-putra taru candana tumuwuh i ring wanàntara.
Plawagoragà mréga kaga bhramara mara riyà padaniwi.
Terjemahannya:
Anak yang jahat sama dengan pohon kering ditengah hutan, Karena
pergeseran dan pergesekan, keluar apinya, lalu membakar seluruh hutan, Akan
tetapi anak yang baik sama dengan pohon cendana yang tumbuh di dalam
lingkungan hutan, Kera, ular, hewan berkaki empat, burung dan kumbang datang
mengerubungnya (Nitisastra XII.1).
Sebuah keluarga yang tidak memiliki anak, maka kelak keluarga/orang
tuanya tersebut tidak akan memperoleh surga. Ada banyak kisah di dalam cerita
kuno yang berkaitan dengan hal ini. Di mana dikatakan orang tua yang tidak
memiliki keturunan digantung di atas bambu di bawahnya terdapat berbagai
binatang yang mengerikan. Seperti diceritakan di dalam Mahabharata bagian
Adi Parwa versi Jawa Kuno.
Dalam Adi Parwa (Bab. V) diceritakan pertemuan Sang Jaratkaru dengan
roh leluhurnya yang hampir jatuh ke neraka. Leluhumya berkata:
376 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
“Nahan ta hetu mami n pegat sangkeng tibeng narakolaka;
tattwanikang petung sawilih, hana wangsa mami sakiki, jaratkaru,
ngaranya, ndan moksa wih taya, mahyun lupeteng sarwa
janmabandhana, ta tan pastry, ya Sukla Brahmacari”
Terjemahan:
Beginilah sebabnya mengapa saya putus hubungan dengan dunia roh, kini
tergantung pada sebilah bambu, hampir-hampir jatuh ke dalam neraka. Adanya
sebilah bambu ini ialah bahwa saya masih mempunyai seorang keturunan yang
bernama Jaratkaru, (tetapi) ia berkepentingan untuk mencari moksha melepaskan
diri dari ikatan hidup kemanusiaan, la tidak mau kawin, ia menjalankan Sukla
Brahmacari. Kata-kata leluhurnya ini dijawab, oleh Sang Jaratkaru: Hana n pwa
marganta muliheng swarga, tan sangsaya rahadyan sanghulun kabeh, marya
nghulun brahmacarya, ametanakbi panaka ni nghulun.
Maksudnya: Ada jalan untuk tuan pergi ke sorga. Janganlah tuan ragu dan
takut. Hamba akan berhenti menjalankan brahmacari. Hamba akan kawin dan
mempunyai anak.
Dari penggalan cerita di atas dapat diartikan, bahwa seorang yang tidak
memiliki keturunan kelak leluhurnya terancam masuk neraka. Seperti petikan
cerita di atas roh leluhur Sang Jarat Karu terancam masuk neraka, karena ia tidak
memiliki putra/anak karena Sang jarat Karu melakukan Sukla Brahmacari. Oleh
karena roh leluhurnya terancam masuk neraka, maka Sang Jaratkaru memutuskan
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 377
untuk tidak melakukan Sukla Brahmacari dan bersedia untuk menikah untuk
mempunyai anak.
Di dalam kisah Mahabharata salah satu tokoh yang melakukan Sukla
Brahmacari adalah Rsi Bhisma atau Bhagawan Bhisma, sehingga beliau bisa
hidup lama. Saudara (tiri) Rsi Bhisma adalah Citr¢nggada dan Wicitrawirya
yang melahirkan Pandu, ayah Panca Pandawa dan Drestarastra, ayah Korawa.
Menurut cerita Mahabharata, Sang Pandu (di Indonesia sering disebut Pandu
Dewanata) ia pernah bermimpi ditolak masuk surga, karena sang baginda tidak
memiliki anak. Hal ini akibat kutukan Rshi Kindama. Diceritakan ketika Sang
Pandu sedang berburu, tanpa sengaja membunuh seorang Rsi. Ketika itu Rshi
Kindama yang sedang bersenggama bersama istrinya yang menyamar menjadi
sepasang kijang dipanah oleh Sang Pandu. Sebelum wafat, Rshi Kindama
mengutuk Sang Pandu bahwa apabila ia hendak bersenggama dengan salah satu
istrinya, maka ia akan meninggal.
Oleh karena kutukan tersebut, Sang Pandu tidak lagi memerintah Hastina
Pura, pemerintahan diserahkan kepada Sang Drestarastra, kakak sang Pandu.
Setelah menyerahkan pemerintahan kepada kakaknya, sang Pandu melakukan
yoga semadi untuk pergi ke sorga bersama para Brahmana. Namun sayang ketika
di dalam perjalanan menuju ke surga sang Pandu tidak di izinkan ikut serta
ke surga.“Wahai kau anakku, akan kemanakah engkau?” tanya salah seorang
Brahmana, Pandu Menjawab “Hamba mau ikut bersama pendeta”, “Kami akan
pergi ke surga, engkau tidak boleh ikut pergi bersama kami, karena engkau tidak
memiliki putra,” kata sang Brahmana. Setelah mendapat jawaban seperti itu sang
Pandu amat sedih hatinya, kemudian sang baginda kembali lagi ke kediamannya.
378 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
Setelah sampai di kediamannya sang Pandu ragu-ragu mengingat dirinya tidak
akan bisa masuk surga, karena tidak memiliki anak. Sang Pandu meminta janji
kepada kedua istrinya yang pernah mereka ungkapkan ketika awal pernikahan
mereka. Prtha (Dewi Kunti) anak Raja Kuntibhoja berjanji memberi 3 bagian dan
dewi Madri adik Salya (Narasoma) anak seorang raja dari kerajaan Madrapati
berjanji memberi 2 bagian kepada suaminya Sang Pandu. Dalam suasana yang
membingungkan, Dewi Kunti teringat akan sebuah anugrah Mantra Sakti yang
diberikan oleh Rsi Durwasa, anugrah Mantra Sakti tersebut diberikan kepada
Dewi Kunti ketika masih gadis. Fungsi mantra itu untuk mengarad/memanggil
para dewa. Digunakanlah mantra sakti itu untuk memanggil Bhatara Dharma,
maka dianugrahi seorang anak ahli agama (dharma), diberi nama Yudistira
(Dharmawangsa). Kemudian selanjutnya Dewi Kunti memanggil Bhatara
Bayu, maka dianugrahi anak yang kuat laksana gunung yang diberi nama
Bhima. Kemudian yang terakhir Dewi Kunti memanggil Bhatara Indra, maka
dianugerahilah anak ahli perang yang diberi nama Arjuna. Mantra sakti yang
dimiliki oleh Dewi Kunti juga diberikan kepada Dewi Madri, kemudian Dewi
Madri memanggil Dewa Aswin (dewa kembar) maka, dianugrahilah anak yang
cerdas dan tampan yang diberi nama Nakula dan Sahadewa.
Meskipun kembar, Nakula dikisahkan memiliki wajah yang lebih tampan
daripada Sahadewa, sedangkan Sahadewa lebih pandai daripada kakaknya itu.
Terutama dalam hal perbintangan atau astronomi, kepandaian Sahadewa jauh di
atas murid-murid Resi Drona lainnya. Selain itu ia juga pandai dalam hal ilmu
peternakan sapi. Sebenarnya yang tampan dari kelima putra sang Pandu bukanlah
Arjuna melainkan Nakula. Apa yang pernah dijanjikan oleh kedua istrinya, maka
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 379
telah terpenuhi, sehingga berbahagialah Sang Pandu. Suatu ketika sang Pandu
lupa akan kutukan Rshi Kindama kemudian ia memeluk istrinya Dewi Madri oleh
karena tidak kuat menahan nafsu asmara yang sedang bergelora, maka seketika
itulah sang Pandu mangkat, sedangkan Dewi Madri ikut menceburkan diri ke
dalam api pembakaran mayat suaminya sebagai bukti kesetiannya. Menceburkan
diri ke dalam api sang suami dalam tradisi Hindu kuno hal itu disebut Sati (ritual
sati). Tradisi ini di Bali dihapuskan oleh Belanda dan di India dihapuskan oleh
Inggris pada tahun 1829 karena dianggap bertentangan dengan kemanusiaan.
Berkaca pada Panca Pandawa, untuk memajukan suatu bangsa dan negara
kelima karakter yang dimiliki oleh Panca Pandawa tersebut harus ada dalam
sebuah negara. Di mana harus ada ahli hukum (agama), ahli perang, sumber
kekuatan, wibawa pemerintah dan ahli ekonomi. (kebajikan, ketangkasan,
kekuatan, wibawa, kecerdasan).
Demikianlah mengapa anak dikatakan sebagai anugrah atau kekayaan
yang tak ternilai yang akan menyelamatkan orang tua di dunia nyata dan di
dunia rohani. Oleh karena demikian berartinya seorang anak, sehingga ada
yang beranggapan bahwa banyak anak banyak rezeki. Anak yang memenuhi
kewajibannya dengan baik maka keluarga harmonis dan sukinah dapat terwujud.
Lakukanlah! Sebelumnya kerjakanlah soal-soal uji kompetensi berikut ini
dengan baik!
380 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
Uji Kompetensi:

Siapakah yang dimaksud dengan suami dan istri dalam keluarga?
Jelaskanlah!

Yang mana sajakah di antara aktivitas hidup ini menjadi suatu
kewajiban bagi seseorag yang sudah bersetatus pasangan suami-istri?
Jelaskanlah!

Jelaskanlah langkah-langkah yang wajib dilakukan oleh pasangan
suami-istri untuk menjadi pasangan suami-istri yang harmonis!
Diskusikanlah dengan orang tua anda di rumah!

Buatlah peta konsep yang dapat menunjukkan seseorang sebagai
pasangan suami-istri yang harmonis!

Pahamilah teks tersebut di atas, selanjutnya buatlah rangkuman yang
menggambarkan tentang terbinanya rumah tangga yang harmonis oleh
pasangan suami-istri menurut Anda!

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mewujudkan Tujuan Hidup Manusia dan Tujuan Agama Hindu

Syarat Sah Suatu Pawiwahan Menurut Hindu