in

Kepemimpinan Dalam Agama Hindu

Kepemimpinan

Istilah pemimpin berasal dari kata dasar “pimpin,” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai “bimbing atau tuntun.” Kata kerja dari kata dasar ini, yaitu “memimpin”  yang  berarti  “membimbing atau menuntun.” Dari kata dasar ini pula lahirlah istilah “pemimpin” yang berarti “orang yang memimpin” (Tim Penyusun, 2005:874). Kata pemimpin mempunyai padanan kata dalam Bahasa Inggris “leader.” Sementara itu kata “pemimpin” mempunyai kaitan yang sangat erat dengan kata “kepemimpinan.” Kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki dari seorang pemimpin. Dengan kata lain, kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membimbing dan menuntun seseorang. Jika kata pemimpin mempunyai padanan kata dalam Bahasa Inggris (leader), maka kepemimpinan juga mempunyai padanan kata dalam Bahasa Inggris, yaitu leadership. Kata ini berasal dari kata dasar “lead” yang dalam Oxford Leaner’s Pocket Dictionary (Manser, et all.,1995 : 236)  diartikan  sebagai  “show  the  way,  especially by going in front.” Sementara itu, kata “leadership” diartikannya sebagai “qualities of a leader”.

Secara umum, kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan untuk mengoordinir dan mengerahkan orang-orang serta golongan-golongan un- tuk tujuan yang diinginkan (Tim Penyusun, 2004:78). Menurut William H.Newman (1968), kepemimpinan adalah kegiatan untuk memengaruhi pe- rilaku orang lain atau seni memengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok.  Bahasan  mengenai  pemimpin  dan  kepemimpinan  pada umumnya menjelaskan bagaimana serta syarat-syarat apa yang perlu dimiliki untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Menyimak pengertian

tersebut, maka terkait dengan kepemimpinan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikut. Kedua, dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dan yang dipimpin. Ketiga, kepemimpinan merupakan kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan untuk mem- engaruhi perilaku orang lain. Keempat, kepemimpinan adalah suatu nilai (values), suatu proses kejiwaan yang sulit diukur.

Kepemimpinan adalah proses memimpin, mengatur, menggerakkan, dan menjalankan suatu organisasi, lembaga, birokrasi, dan sebagainya. Kepe- mimpinan juga bermakna suatu values atau nilai yang sulit diukur karena berhubungan dengan proses kejiwaan, hal ini berhubungan dengan kepe- mimpinan sebagai kewibawaan. Dalam kepemimpinan selalu ada

pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dengan yang dipimpin. Oleh karena itu seorang pemimpin harus memiliki sesuatu yang lebih daripada yang dipimpin. Pemimpin adalah teladan, panutan, yang pantas dicontoh oleh anggotanya. Hindu mengajarkan da- lam Kautilya Arthasastra tentang tujuan proses kepemimpinan sebagai berikut. “apa yang membuat Raja senang bukanlah kesejahteraan, tetapi yang membuat rakyat se- jahtera itulah kesenangan seorang Raja” (L.N Rangarajan 1992).

Implikasi dari pernyataan ini bah- wa tujuan dan makna kesuksesan sebuah proses kepemimpinan adalah

apabila tercipta kesejahteraan bagi seluruh anggota organisasi, bahkan lebih luas hingga kebahagiaan dunia.

Sejarah kepemimpinan Hindu selalu menampilkan sosok seorang pemimpin sebagai keturunan dari Dewa. Hal ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin selayaknya memiliki sifat-sifat kedewataan. Sifat-sifat kedewataan adalah menerangi (dev = sinar), melindungi (bhatara: pelindung),

dan pemelihara (visnu:pemelihara). Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika para Raja terdahulu di Jawa misalnya, Sri Airlangga digambarkan sebagai perwujudan Wisnu yang menaiki burung Garuda (Garuda Wisnu Kencana). Garuda adalah simbol pembebasan, simbol kemerdekaan, bahwa seorang pemimpin harus dapat membebaskan rakyatnya dari segala ke-papa-an dan ke-duka-an. Wisnu adalah simbol pelindung, pemelihara Maha  Agung,  yang mampu melindungi seluruh rakyat dari segala ancaman dan gangguan, menciptakan rasa aman dan tenteram bagi masyarakat (Titib, 2000: 384). Hal yang sama seperti Prabhu Siliwangi dalam memerintah kerajaan Padjajaran. Sementara itu, Kencana adalah simbol kewibawaan, kemegahan, kekayaan. Kelebihan-kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang raja dalam memimpin, yaitu bala (kekuatan), kosa (kekayaan) dan wahana (fasilitas). Jika seorang pemimpin tidak memiliki semua kelebihan ini, maka dia akan ditinggalkan oleh rakyatnya. Untuk itu, dalam materi ini akan dibahas sifat-sifat dewa, Asta Brata, yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sebagai etika kepemimpinan.

Dalam agama Hindu, banyak ditemukan istilah yang menunjuk pada pengertian pemimpin. Ajaran atau konsep kepemimpinan (leadership) dalam agama Hindu dikenal dengan istilah Adhipatyam atau Nayakatvam. Kata “Adhipatyam” berasal dari kata “Adhipati” yang berarti “raja tertinggi” (Wojo- wasito, 1977:5). Sedangkan “Nayakatvam” dari kata “Nayaka” yang berarti “pe-mimpin, terutama, tertua, kepala” (Wojowasito, 1977:177). Di samping kata Adhipati dan Nayaka yang berarti pemimpin, terdapat juga beberapa istilah atau sebutan untuk seorang pemimpin dalam menjalankan dharma negaranya, yaitu: Raja, Maharaja, Prabhu, Ksatriya, Svamin, Isvara dan Natha. Disamping   istilah-istilah   tersebut,   di   Indonesia    kita    kenal    isti-    lah Ratu atau Datu, Sang Wibhuh, Murdhaning Jagat dan sebagainya yang

mempunyai arti yang sama dengan kata pemimpin, namun secara termi-nologis terdapat beberapa perbedaan (Titib, 1995 : 3).

Asal-usul seorang pemimpin se- benarnya telah ditegaskan dalam ki-  tab suci Veda (Yajurveda XX.9). Hal tersebut telah disebutkan di awal pembahasan bab 7, yang secara jelas menyatakan bahwa seorang pemimpin berasal dari warga negara atau rakyat. Tentunya yang dimaksudkan oleh ki- tab suci ini adalah benar-benar memiliki kualifikasi atau kemampuan seseorang. Hal ini adalah sejalan dengan bakat dan kemampuan atau profesi seseorang yang dalam ba-hasa Sansekerta disebut dengan Varna. Kata Varna dari urat kata “Vr” yang artinya pilihan bakat dari seseorang (Titib, 1995 : 10).

Bila bakat kepemimpinannya menonjol dan mampu memimpin sebuah organisasi dengan baik di sebut ksatriya, karena kata ksatriya artinya yang memberi perlindungan. Orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi,  senang terjun di bidang spiritual, ia adalah seorang Brahmana. Demikian pula profesi-profesi masyarakat seperti pedagang, pengusaha, petani, dan nelayan. Dalam sejarah Hindu banyak contoh pemimpin yang perlu dijadikan suri teladan. Di setiap zaman dalam sejarah Hindu selalu muncul tokoh yang menjadi pemimpin, seperti Airlangga, Sanjaya, Ratu Sima, Sri Aji Jayabhaya, Jayakatwang, Kertanegara, Hayam Wuruk, dan Gajah Mada. Di era sekarang banyak tokoh Hindu yang juga dapat dijadikan sebagai panutan/pimpinan, seperti: Mahatma Gandhi, Svami Vivekananda, Ramakrsna, dan Sri Satya Sai. Selain itu, contoh kepemimpinan Hindu yang ideal dapat ditemukan dalam cerita Itihasa dan Purana. Banyak tokoh dalam cerita tersebut yang diidealkan menjadi pemimpin Hindu, misalnya: Dasaratha, Sri Rama, Wibhisana, Arjuna Sasrabahu, Pandudewanata, dan Yudisthira. Tokoh-tokoh kepemimpinan ini sebagai teladan untuk pemimpin yang akan datang untuk mewujudkan ke- harmonisan dunia.

Pada umumnya dalam cerita Itihasa  dan  Purana  antara  pemimpin  (Raja) tidak bisa dipisahkan dengan Pandita sebagai Purohito (penasehat Raja). Brahmana ksatriya sadulur artinya penguasa dan pendeta sejalan. “Raja tanpa Pandita lemah, Pandita tanpa Raja akan musnah.” Misalnya, Bhatara Guru dalam memimpin Kahyangan Jonggring Salaka dibantu oleh Maharsi Narada sebagai penasihatnya, Maharaja Dasaratha ketika memimpin Ayodya dibantu oleh Maharsi Wasistha, Maharaja Pandu dalam memimpin Astina dibantu oleh Krpacharya. Kemudian, seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman, banyak tokoh bermunculan untuk memajukan Hindu, baik itu di Indonesia maupun di negara lain.

Kata Tipologi dalam KBBI adalah ilmu watak bagian manusia golongan- golongan menurut corak watak masing-masing (KBBI, 2003). Jadi, tipologi kepemimpinan Hindu disini adalah jenis-jenis kepemimpinan dalam ajaran Hindu. Dalam konsep kepemimpinan Barat yang lebih banyak dijadikan dasar adalah sikap dan tingkah laku dari para pemimpin-pemimpin besar di dunia. Oleh karena itu, mereka banyak mengemukakan jenis-jenis kepemimpinan yang sesuai dengan tokoh personalnya (Sutedja, 2007: 12), seperti: kepemimpinan Karismatik, Paternalistik, Maternalistik, Militeristik, Otokrasi, Lassez Faire, Populistik, Eksekutif, Demokratik, Personal, dan Sosial.

Lain halnya dengan konsep kepemimpinan dalam ajaran Hindu. Selain dasar tersebut, yang terutama sekali kepemimpinan Hindu bersumber dari kitab suci Weda dan diajarkan oleh para orang-orang suci. Kepemimpinan Hindu juga banyak mengacu pada tatanan alam semesta yang merupakan ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Adapun konsep-konsep kepemimpinan Hindu yang banyak diajarkan dalam sastra dan susastranya antara lain: Sad Warnaning Rajaniti, Catur Kotamaning Nrpati, Tri Upaya Sandi, Pañca Upaya Sandi, Asta Brata, Nawa Natya, Pañca Dasa Paramiteng Prabhu, Sad Upaya Guna, dan Pañca Satya (Ngurah, 2006: 194). Berikut ini rincian dari konsep-konsep kepemimpinan Hindu.

1.    Sad Warnaning Rajaniti

Sad Warnaning Rajaniti atau Sad Sasana adalah enam sifat utama dan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang raja (Ngurah, 2006: 196). Kon- sep ini ditulis oleh Candra Prkash Bhambari dalam buku “Substance of Hindu Politiy.” Adapun bagian-bagian Sad Warnaning Rajaniti sebagai berikut.

  1. Abhigamika, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu menarik perhatian positif dari rakyatnya.
    1. Prajña, artinya seorang raja atau pemimpin harus bijaksana.
    1. Utsaha, artinya seorang raja atau pemimpin harus memiliki daya kreatif yang tinggi.
    1. Atma Sampad, artinya seorang raja atau pemimpin harus bermoral yang luhur.
  • Sakya samanta, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu mengontrol bawahannya dan sekaligus memperbaiki hal-hal yang di anggap kurang baik.
    • Aksudra Parisatka, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu memimpin sidang para menterinya dan dapat menarik kesimpulan  yang bijaksana sehingga diterima oleh semua pihak yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda.

2.    Catur Kotamaning Ncpati

Catur Kotamaning Nrpati merupakan konsep kepemimpinan Hindu pada zaman Majapahit sebagaimana ditulis oleh M. Yamin dalam buku “Tata Negara Majapahit” (Ngurah, 2006: 196). Catur Kotamaning Nrpati adalah empat syarat utama yang harus dimiliki seorang pemimpin. Adapun keempat syarat utama tersebut adalah:

  1. Jñana Wisesa Suddha, artinya raja atau pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luhur dan suci. Dalam hal ini ia harus memahami kitab suci atau ajaran agama (agama agëming aji).
    1. Kaprahitaning Praja, artinya raja atau pemimpin harus menunjukkan belas kasihnya kepada rakyatnya. Raja yang mencintai rakyatnya akan dicintai pula oleh rakyatnya. Hal ini sebagaimana perumpamaan singa (raja hutan) dan hutan dalam Kakawin Niti Sastra I.10 berikut ini:

Singa adalah penjaga hutan, akan tetapi juga selalu dijaga oleh hutan. Jika singa dengan hutan berselisih, mereka marah, lalu singa itu meninggalkan hutan. Hutannya dirusak manusia, pohon-pohonnya ditebangi sampai menjadi terang, singa yang lari bersembunyi dalam curah, di tengah-tengah ladang, diserbu dan dibinasakan (Darmayasa, 1995).

  • Kawiryan, artinya seorang raja atau pemimpin harus berwatak pemberani dalam menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan pengetahuan suci yang dimilikinya.
    • Wibawa, artinya seorang raja atau pemimpin harus berwibawa terhadap bawahan dan rakyatnya. Raja yang berwibawa akan disegani oleh rakyat dan bawahannya.

3.    Tri Upaya Sandhi

Di dalam Lontar Raja Pati Gundala disebutkan bahwa seorang raja harus memiliki tiga upaya agar dapat menghubungkan diri dengan rakyatnya. Ada- pun bagian-bagian Tri Upaya Sandi adalah:

  1. Rupa, artinya seorang raja atau pemimpin harus  mengamati  wajah dari para rakyatnya. Dengan demikian, ia akan mengetahui kondisi rakyatnya, apakah sedang dalam kesusahan atau tidak.
    1. Wangsa, artinya seorang raja atau pemimpin harus mengetahui susunan masyarakat (stratifikasi sosial) agar dapat menentukan pendekatan apa yang harus digunakan.
    1. Guna, artinya seorang raja atau pemimpin harus mengetahui tingkat peradaban atau kepandaian dari rakyatnya sehingga ia bisa mengetahui apa yang diperlukan oleh rakyatnya.

4.    Pañca Upaya Sandhi

Dalam Lontar Siwa Buddha Gama Tattwa disebutkan ada lima tahapan upaya yang harus dilakukan oleh seorang raja dalam menyelesaikan persoalan- persoalan yang menjadi tanggung jawab raja (Ngurah, 2006: 196). Adapun bagian-bagian dari Pañca Upaya Sandi ini adalah:

  1. Maya, artinya seorang pemimpin perlu melakukan upaya dalam me- ngumpulkan data atau permasalahan yang masih belum jelas duduk perkaranya.
    1. Upeksa, artinya seorang pemimpin harus meneliti dan menganalisis semua data-data tersebut dan mengodifikasikan secara profesional dan proporsional.
    1. Indra Jala, artinya seorang pemimpin harus bisa mencarikan jalan keluar dalam memecahkan persoalan yang dihadapi sesuai dengan hasil analisisnya.
    1. Wikrama, artinya seorang pemimpin harus melaksanakan semua upaya penyelesaian dengan baik sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
    1. Logika, artinya seorang pemimpin harus mengedepankan pertimbangan- pertimbangan logis dalam menindaklanjuti penyelesaian permasalahan yang telah ditetapkan.

5.    Asta Brata

Asta Brata adalah ajaran kepemimpinan yang diberikan oleh Sri Rama kepada Gunawan Wibhisana. Ajaran ini diberikan sebelum Gunawan Wibhisana memegang tampuk kepemimpinan Alengka Pura pasca kemenangan Sri Rama melawan keangkaramurkaan Rawana. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Pustaka Suci Manu Smrti IX.303 berikut ini, “Hendaknya raja berbuat seperti perilaku yang sama dengan dewa-dewa, Indra, Surya, Wayu, Yama, Waruna, Candra, Agni dan Prthiwi (Pudja dan Sudharta, 2002: 607).” Hal itu kemudian ditegaskan dalam Kakawin Ramayana XXIV.52 sebagai berikut: Sang  Hyang Indra, Yama, Surya, Candra dan Bayu, Sang Hyang Kwera, Baruna dan Agni itu semuanya delapan hendaknya semua itu menjadi pribadi sang raja. Oleh karena itulah beliau harus memuja Asta Brata untuk mewujudkan kepemimpinan yang makmur untuk rakyat (Tim Penyusun, 2004: 98).

Ada perbedaan sedikit antara konsep Asta Brata dalam Pustaka Suci Manu Smrti dan Kakawin Ramayana. Pada Pustaka Suci Manu Smrti konsep Asta Brata disebut Prthiwi Brata. Sementara itu, pada Kakawin Ramayana konsep Asta Brata disebut Kwera Brata. Semua raja harus memuja Asta Brata ini. Asta Brata merupakan delapan landasan sikap mental bagi seorang pemimpin. Adapun delapan bagian Asta Brata tersebut adalah:

  1. Indra Brata, kepemimpinan bagaikan Dewa Indra atau Dewa Hujan; Di mana hujan itu berasal dari air laut yang menguap. Dengan demikian, seorang pemimpin berasal dari rakyat harus kembali mengabdi untuk rakyat.
  2. Yama Brata, kepemimpinan yang bisa menegakkan keadilan tanpa pandang bulu bagaikan Sang Hyang Yamadipati yang mengadili Sang Suratma.
  3. Surya Brata, kepemimpinan yang mampu memberikan penerangan kepada warganya bagaikan Sang Surya yang menyinari dunia.
  4. Candra Brata, mengandung maksud pemimpin hendaknya mempunyai tingkah laku yang lemah lembut atau menyejukkan bagaikan Sang Candra yang bersinar di malam hari.
  5. Bayu Brata, mengandung maksud pemimpin harus mengetahui pikiran atau kehendak (bayu) rakyat dan  memberikan  angin  segar  untuk  para kawula alit atau wong cilik sebagimana sifat Sang Bayu yang berhembus dari daerah yang bertekanan tinggi ke rendah.
  • Baruna Brata, mengandung maksud pemimpin harus dapat menang- gulangi kejahatan atau penyakit masyarakat yang timbul sebagaimana Sang Hyang Baruna membersihkan segala bentuk kotoran di laut.
  • Agni Brata, mengandung maksud pemimpin harus bisa mengatasi musuh yang datang dan membakarnya sampai habis bagaikan Sang Hyang Agni.
  • Kwera atau Prthiwi Brata, mengandung maksud seorang pemimpin harus selalu memikirkan kesejahteraan rakyatnya sebagaimana bumi memberikan kesejahteraan bagi umat manusia dan bisa menghemat dana sehemat-hematnya seperti Sang Hyang Kwera dalam menata kesejahteraan di kahyangan.

6.    Nawa Natya

Dalam Lontar Jawa Kuno yang berjudul “Nawa Natya” dijelaskan tentang seorang raja dalam memilih pembantu-pembantunya (menterinya). Ada sem- bilan kriteria yang harus diperhatikan oleh seorang raja dalam memilih para pembantunya (Ngurah, 2006: 197). Sembilan kriteria inilah yang dikenal sebagai Nawa Natya. Adapun kesembilan kriteria itu adalah:

  1. Prajña Nidagda (bijaksana dan teguh pendiriannya).
    1. Wira Sarwa Yudha (pemberani dan pantang menyerah dalam setiap medan perang).
    1. Paramartha (bersifat mulia dan luhur)
    1. Dhirotsaha (tekun dan ulet dalam setiap pekerjaan)
    1. Wragi Wakya (pandai berbicara atau berdiplomasi)
    1. Samaupaya (selalu setia pada janji)
    1. Lagawangartha (tidak pamrih pada harta benda)
    1. Wruh Ring Sarwa Bastra (bisa mengatasi segala kerusuhan)
    1. Wiweka (dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk).

7.    Pañca Dasa Pramiteng Prabhu

Dalam Lontar Negara Kertagama, Rakawi Prapañca menuliskan keutamaan sifat-sifat Gajah Mada sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit (Ngurah, 2006: 196). Sifat-sifat utama itu pula yang mengantarkan Majapahit mencapai

puncak kejayaannya. Sifat-sifat utama tersebut ada 15 yang disebut sebagai Pañca Dasa Pramiteng Prabhu. Adapun kelima belas bagian dari Pañca Dasa Pramiteng Prabhu tersebut adalah:

  1. Wijayana (bijaksana dalam setiap masalah).
    1. Mantri Wira (pemberani dalam membela negara).
    1. Wicaksananengnaya (sangat bijaksana dalam memimpin).
    1. Natanggwan (dipercaya oleh rakyat dan negaranya).
    1. Satya Bhakti Prabhu (selalu setia dan taat pada atasan).
    1. Wagmiwak (Pandai bicara dan berdiplomasi).
    1. Sarjawa Upasama (sabar dan rendah hati).
    1. Dhirotsaha (teguh hati dalam setiap usaha).
    1. Teulelana (teguh iman dan optimistis).
    1. Tan Satrsna (tidak terlihat pada kepentingan golongan atau pribadi). 11.Dibyacita (lapang dada dan toleransi).

12.Nayakken Musuh (mampu membersihkan musuh-musuh negara). 13.Masihi Samasta Bawana (menyayangi isi alam).

  1. Sumantri (menjadi abdi negara yang baik).
  2. Gineng Pratigina (senantiasa berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk).

8.    Sad Upaya Guna

Dalam Lontar Rajapati Gondala dijelaskan ada enam upaya yang harus dilakukan oleh seorang raja dalam memimpin negara. Keenam upaya ini disebut juga sebagai Sad Upaya Guna (Sutedja, 2007). Adapun keenam upaya tersebut adalah: Siddhi (kemampuan bersahabat); Wigrha (memecahkan setiap persoalan yang ada dalam kehidupan); Wibawa (menjaga kewibawaan diri sendiri dan rakyatnya); Winarya (cakap dalam memimpin); Gascarya (mampu menghadapi lawan yang kuat), dan Stanha (menjaga hubungan baik). Dalam lontar yang sama disebutkan pula ada 10 macam orang yang bisa dijadikan sahabat oleh Raja pemimpin. Kesepuluh macam tersebut adalah orang yang:

  1. Satya, artinya kejujuran
    1. Arya, artinya orang besar
    1. Dharma, artinya kebajikan
  • Asurya, artinya orang yang dapat mengalahkan musuh
    • Mantri, artinya orang yang dapat mengalahkan kesusahan
    • Salyatawan, artinya orang yang banyak sahabatnya
    • Bali, artinya orang yang kuat dan sakti
    • Kaparamarthan, artinya kerohanian
    • Kadiran, artinya orang yang tetap pendiriannya 10.Guna, artinya orang yang pandai

9.   Pañca Satya

Selain upaya, sifat dan kriteria sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, masih ada satu lagi landasan bagi pemimpin Hindu dalam me- laksanakan tugasnya sehari-hari. Landasan ini ada lima yang dikenal sebagai Pañca Satya. Lima satya ini harus dijadikan sebagai landasan bagi seorang pemimpin Hindu di manapun dia berada. Kelima landasan itu adalah :

  1. Satya Hrdaya (jujur terhadap diri sendiri/setia dalam hati)
    1. Satya Wacana (jujur dalam perkataan/setia dalam ucapan)
    1. Satya Samaya (setia pada janji)
    1. Satya Mitra (setia pada sahabat)
    1. Satya Laksana (jujur dalam perbuatan)

Kelima landasan ini juga harus dijadikan pedoman dalam hidupnya, sehingga ia akan menjadi seorang pemimpin yang hebat, berwibawa, disegani dan sebagainya. Tingkat keberhasilan dari seorang pemimpin  dalam memimpin ditentukan oleh dua faktor, yaitu: faktor usaha manusia (Manusa atau jangkunging manungsa)  dan  faktor  kehendak  Tuhan  (Daiwa atau jangkaning Dewa). Sementara tingkat keberhasilannya bisa berupa penurunan (Ksaya), tetap atau stabil (Sthana), dan peningkatan atau kemajuan (Vrddhi) (Kautilya, 2004: 392-393).

Sifat dan sikap yang dimiliki oleh seorang pemimpin merupakan pe- nentu berhasil atau tidaknya seorang pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahan. Sifat dan sikap yang dimiliki oleh pemimpin dapat di sempurnakan dengan mendalami, memedomani, dan mengamalkan ajaran- ajaran, serta berbagai ilmu pengetahuan yang dipelajari. Menurut Arifin Abdul Rachman (1971: 102) dalam bukunya yang berjudul “Kerangka Pokok-pokok

Mengenai Manajemen Umum” menyebutkan bahwa terdapat tiga golongan sifat-sifat para pemimpin, antara lain:

  1. Sifat-sifat pokok, yaitu sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh setiap pemimpin, antara lain adil, suka melindungi/mengayomi, penuh inisiatif, penuh daya tarik, dan penuh kepercayaan pada diri sendiri.
  2. Sifat-sifat khusus karena pengaruh tempat, yaitu sifat-sifat yang pada pokoknya sesuai dengan kepribadian bangsa, seperti bangsa Indonesia dengan Pancasila sebagai kepribadiannya, sebagai dasar negara, dan cita- cita bangsa.
  3. Sifat-sifat khusus karena pengaruh dari berbagai macam atau golongan pemimpin, seperti pemimpin partai politik, pemimpin keagamaan, dan pemimpin serikat buruh.

Demikianlah sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat memimpin masyarakatnya dengan baik sehingga tercapai tujuan bangsa dan negara yang dipimpinnya. Konsep kepemimpinan yang ada ini sebagai pandangan untuk membangun mental manusia seutuhnya dalam bidang materiil dan spiritual berdasar Pancasila. Kita sebagai warga negara Indonesia yang menganut paham demokrasi, menjadikan rakyat sebagai hal yang utama, artinya segala keputusan, saran, dan pendapat dijadikan landasan dalam me- nentukan kebijakan yang akan ditempuh pada masa mendatang. Pedoman kepemimpinan ini akan melahirkan pemimpin yang bukan semata-mata di nilai dari kepandaian dalam membangkitkan semangat emosi masyarakat untuk memenangkan dalam pertarungan politik demi kepentingan pribadi atau golongan. Melainkan pemimpin yang menyentuh semangat dan jiwa terdalam masyarakat yang dipimpinya. Sifat dalam me-mimpinnya selalu mengutamakan kepentingan rakyat demi kesejahteraan dalam segala segi kehidupan. Pemimpin inilah yang tidak hanya berani secara intelektual dan emosional, melainkan oleh faktor jiwa yang terdalam.

Memahami Teks


Cerita Kepemimpinan Yudhistira Pada suatu hari, Pandu mengutarakan niatnya ingin memiliki anak. Kunti yang menguasai mantra Adityah- redaya, atas anugerah rsi Durvasa segera mewujudkan keinginan sua- minya            tesebut.            Mantra tersebut adalah ilmu untuk pemanggil  de-  wa                untuk            mendapatkan               putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil mendatangkan Dewa Dharma. Kunti pun mendapatkan anugerah putera darinya tanpa me- lalui hubungan badan. Putra tersebut diberi nama Yudhistira.

Dengan demikian, Yudhistira menjadi putera sulung Pandu, sebagai hasil pemberian Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan. Sifat Dharma itulah yang kemudian diwarisi oleh Yudhistira sepanjang hidupnya. Yudhistira alias Dharmawangsa, merupakan seorang raja yang memerintah kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Ia adalah yang tertua di antara lima Pandawa, atau para putra Pandu. Nama Yudhistira dalam bahasa Sanskerta bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan.” Ia juga dikenal dengan sebutan Dharmaraja, yang bermakna “Raja Dharma,” karena ia selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidup-nya. Delapan nama Yudhistira atau julukan yang dikenal dalam cerita Mahǎbhǎrata adalah sebagai berikut:

  1. Ajatasatru, yaitu tidak memiliki musuh.
  2. Bharata, ialah keturunan Maharaja Bharata.
  3. Dharmawangsa atau Dharmaputra, “keturunan Dewa Dharma.”
  4. Kurumukhya, “pemuka bangsa Kuru.”
  5. Kurunandana, “kesayangan Dinasti Kuru.”
  • Kurupati, “raja Dinasti Kuru.”
  • Pandawa, “putra Pandu”.
  • Partha, “putra Prita atau Kunti”.

Selain delapan nama julukan tersebut, ada empat nama julukan yang dikenal dalam cerita pewayangan antara lain:

  1. Puntadewa, “derajat keluhurannya setara para dewa,”
  2. Yudhistira, “pandai memerangi nafsu pribadi,”
  3. Gunatalikrama, “pandai bertutur bahasa,”
  4. Samiaji, “menghormati orang lain bagai diri sendiri.”

Selanjutnya, terjadi pernikahan antara Pandawa dengan Drupadi. Setelah itu para Pandawa kembali ke Hastinapura dan memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari pihak Duryodana. Persaingan antara Pandawa dan Korawa atas tahta Hastinapura kembali terjadi. Para sesepuh akhirnya sepakat untuk memberi Pandawa sebagian dari wilayah kerajaan tersebut. Korawa yang licik mendapatkan Istana Hastinapura, sedangkan Pandawa mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai tempat untuk membangun istana baru.

Meskipun daerah tersebut sangat gersang dan angker, namun para Pandawa mau menerima wilayah tersebut. Selain wilayahnya yang luas hampir setengah wilayah Kerajaan Kuru, Kandawaprastha juga merupakan ibu kota Kerajaan Kuru yang dulu, sebelum Hastinapura. Para Pandawa dibantu sepupu mereka, yaitu Kresna dan Baladewa berhasil membuka Kandawaprastha menjadi pe- mukiman baru.

Para Pandawa kemudian memperoleh bantuan dari Wiswakarma, yaitu ahli bangunan dari kahyangan, dan juga Anggaraparna dari Bangsa Gandharwa. Dengan bantuan tersebut, sehingga terciptalah sebuah istana megah dan indah bernama Indraprastha, yang bermakna “Kota Dewa Indra”. Dalam versi pewayangan Jawa, nama Indraprastha lebih terkenal dengan sebutan Kerajaan Amarta. Menurut versi ini, hutan yang dibuka para Pandawa bukan bernama Kandawaprastha, melainkan bernama Wanamarta. Versi Jawa mengisahkan, setelah sayembara Dropadi, para Pandawa tidak kembali ke Hastinapura melainkan menuju kerajaan Wirata, tempat kerabat mereka yang bernama Prabu Matsyapati berkuasa. Matsyapati yang bersimpati pada pengalaman Pandawa menyarankan agar mereka membuka kawasan hutan tak bertuan bernama Wanamarta menjadi sebuah kerajaan baru. Hutan Wanamarta dihuni oleh berbagai makhluk halus.

Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami banyak rintangan. Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para makhluk halus merelakan Wanamarta kepada para Pandawa. Prabu Yudhistira kemudian memindahkan istana Amarta dari alam jin ke alam nyata untuk dihuni para Pandawa. Setelah itu, ia dan keempat adiknya menghilang. Salah satu versi menyebut kelimanya masing-masing menyatu ke dalam diri lima Pandawa. Puntadewa kemudian menjadi Raja Amarta setelah didesak dan dipaksa oleh keempat adiknya. Untuk mengenang dan menghormati raja jin yang telah memberinya istana, Puntadewa pun memakai gelar Prabu Yudhistira.

Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa atau Yudhistira berusaha keras untuk memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita bahwa barang  siapa yang dapat menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang bernama Dewi Kuntulwinanten, maka negeri tempat ia tinggal akan menjadi makmur dan sejahtera. Puntadewa sendiri telah memutuskan untuk memiliki  seorang  istri saja. Namun karena Dropadi mengizinkannya menikah lagi demi ke- makmuran negara, maka ia pun berangkat menuju Kerajaan Slagahima. Di istana Slagahima telah berkumpul sekian banyak raja dan pangeran yang datang melamar Kuntulwinanten. Namun sang puteri hanya sudi menikah dengan seseorang yang berhati suci, dan ia menemukan kriteria itu dalam  diri Puntadewa. Kemudian Kuntulwinanten tiba-tiba musnah dan menyatu  ke dalam diri Puntadewa. Sebenarnya Kuntulwinanten bukan manusia asli, melainkan wujud penjelmaan anugerah dewata untuk seorang raja adil yang hanya memikirkan kesejahteraan negaranya (Subramanyam, 2007).

Dari cerita di atas, kita dapat melihat bahwa Yudhistira adalah seorang pemimpin yang mengutamakan kepentingan umum. Yudhistira merupakan salah satu dari sedikit Raja yang mendapatkan gelar Maharaja, yaitu rajanya para raja. Gelar ini diperoleh setelah saudaranya, Bima, berhasil menaklukan Maharaja Jasaranda dalam duel sengit. Yudhistira dapat dikatakan jarang ikut turun dalam medan laga dibanding saudara-saudaranya, namun kemampuannya dalam memimpin pemerintahan tidak diragukan lagi. Indraprasta kerajaan yang dipimpinnya (setelah Destarata membagi Hastinapura menjadi dua bagian untuk Pandawa dan Kurawa), menjadi negeri yang melimpah kekayaannya. Yudhistira memiliki kemampuan, pemikiran, dan perencanaan yang sangat baik dalam membangun pemerintahan maupun strategi perang. Yudhistira juga seorang yang berpikir singkat namun pemikirannya tersebut memiliki efek jangka panjang. Hal ini tak lepas dari segala pengetahuan yang sangat luas yang dimiliki olehnya.

Uji Kompetensi

Kerjakan secara mandiri.

  1. Jelaskan pendapatmu tentang pengertian kepemimpinan Hindu!
  • Jelaskan pendapatmu tentang tipologi kepemimpinan Hindu!
  • Tuliskan pendapatmu tentang nilai-nilai kepemimpinan yang terkandung dalam cerita “Kepemimpinan Yudhistira.”

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagian-Bagian Ajaran Bhakti Sejati

Kedudukan Mahabrata dalam Veda