in

Kedudukan Mahabrata dalam Veda

Kedudukan Mahabrata dalam Veda

Kedudukan Mahabrata dalam Veda

Itihǎsa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisah-kisah epik atau kepahlawanan para Raja dan ksatria Hindu pada masa lampau. Di dalamnya berisi ajaran filsafat agama, mitologi, dan makhluk supernatural. Iti hǎsa berarti “kejadian yang nyata” (Titib,  1998:137), dalam hal ini itihǎsa yang terkenal ada dua, ya-

itu Ramayana dan Mahǎbhǎrata. Kitab Itihǎsa disusun oleh para Rsi dan pujangga India masa lampau, misalnya Rsi Walmiki (Ramayana) dan Rsi Vyǎsa (Mahǎbhǎrata). Cerita dalam Kitab Itihǎsa tersebar di seluruh daratan

India sampai ke wilayah Asia Tenggara. Pada zaman kerajaan di Indonesia, kedua Kitab Itihǎsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuno dan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal. Cerita dalam Kitab Itihǎsa diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi kakawin.

Mahǎbhǎrata (Sanskerta: : B\7å7]]) adalah sebuah karya sastra yang ditulis oleh Bhagawan Vyasa dari India yang dibantu oleh Dewa Ganesha. Buku ini terdiri atas delapan belas kitab, maka dinamakan astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = bagian). Namun demikian, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula ter-pencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi. Di Indonesia, salinan berbagai bagian dari epos besar Mahǎbhǎrata banyak ragamnya, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa, Arjunawiwǎha.

Parwa-parwa dalam kitab mahabharata

Beberapa parwa yang lain yang diketahui telah terjemahkan  dalam  bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi, dan kemudian pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh (991- 1016 M) dari Kadiri (Suhardi, 2011). Oleh karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa. Dalam masa-masa kemudian , yang terlebih populer adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwǎha (perkawinan Arjuna) gubahan Mpu Kanwa. Karya yang di perkirakan ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk Raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu Raja Dharmawangsa.

Karya sastra lain yang juga terkenal adalah kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh Mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh Mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan Raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, Mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangsa yang berisi silsilah Wisnu atau Hari yang ditulis pada masa Jayabaya dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacǎsraya pada masa Raja Kertajaya (1194-1222

M) dari Kediri. Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kşşnǎyana (karya Mpu Triguna) dan Bhomǎntaka (pengarang tak dikenal), keduanya dari zaman Kerajaan Kediri, dan Pǎrthayajña (Mpu Tanakung) di akhir zaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali (Zoetmulder, 1985: 396).

Di samping itu, mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan inspirasi bagi berbagai bentuk  budaya  dan  seni  pengungkapan,  terutama di Jawa dan Bali. Bentuk budaya dan seni pengungkapan tersebut mulai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi, seni tari, seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. Di masa yang lebih lampau, ditulis kakawin Bhǎratayuddha yang telah disalin pula oleh pujangga keraton Surakarta, Yasadipura, ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18 yang kemudian dikenal seperti saat ini.

Dalam perkembangannya Mahǎbhǎrata merupakan epos besar selain Ramǎyana yang di dalamnya terdapat berbagai nilai-nilai pendidikan yang sejalan dengan perkembangan zaman yang terjadi. Dari pembahasan tersebut, bahwa kedudukan Mahǎbhǎrata sebagai kitab itihǎsa yang merupakan tu- runan dari smrti sebagai sumber Veda yang kedua selain sruti. Untuk itu, proses belajar tentang Itihǎsa yang di dalamnya ada Kitab Ramǎyana dan Mahǎbhǎrata, harus dipelajari terlebih dahulu agar ketika belajar tentang Veda baik sruti maupun smrti, pemaknaannya tidak disalahartikan pada hal- hal di luar kebenaran Veda itu sendiri.

Secara singkat, Mahǎbhǎrata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah Negara Astina. Puncaknya adalah Perang Bhǎratayuddha di Medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari. Kitab Mahǎbhǎrata merupakan salah satu itihǎsa yang terkenal. Kitab Mahǎbhǎrata berisi lebih dari 100.000 sloka. Mahǎbhǎrata berarti cerita keluarga besar Bharata. Kitab Mahǎbhǎrata memiliki delapan belas bagian yang disebut astadasaparwa (Subramanyam, 2003). Selayaknya Ramǎyana, setiap parwa merupakan buku tersendiri, namun saling berhubungan dan melengkapi dengan parwa yang lain. Kitab Mahǎbhǎrata disusun oleh Rsi Vyǎsa.

The  Russian  Academy   di   Moskow   telah   menerbitkan   terjemah-   an Adiparwa atau buku pertama epos Mahǎbhǎrata dalam bahasa Rusia di masa Perang Dunia II. Episode dan bagian-bagian tertentu epos Mahǎbhǎrata juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Perancis, Inggris, dan Jerman serta bahasa lainnya. Dalam Aswalayana Srautasutra disebutkan bahwa epos Mahǎbhǎrata versi awal terdiri dari 24.000 sloka. Versi tersebut terus berkembang hingga dalam bentuknya yang sekarang terdiri dari 100.000 sloka. Berikut ini merupakan ringkasan dari delapan belas bagian (parwa) dari epos Mahǎbhǎrata:

  1. Adiparwa (Buku Pengantar): memuat asal-usul dan sejarah keturunan keluarga Kaurawa dan Pandawa; kelahiran, watak, dan sifat Dritarastra dan Pandu, juga anak-anak mereka; timbulnya permusuhan dan pertentangan di antara dua saudara sepupu, yaitu Kaurawa dan Pandawa; dan berhasilnya Pandawa memenangkan Dewi Draupadi, putri kerajaan Panchala, dalam suatu sayembara.
    1. Sabhaparwa (Buku Persidangan): melukiskan persidangan antara kedua putra mahkota Kaurawa dan Pandawa; kalahnya Yudhistira dalam per- mainan dadu, dan pembuangan Pandawa ke hutan.
    1. Wanaparwa (Buku Pengembaraan di Hutan): menceritakan kehidupan Pandawa dalam pengembaraan di Hutan Kamyaka. Buku ini buku ter- panjang; antara lain memuat episode kisah Nala dan Damayanti dan pokok- pokok cerita Ramayana .
  • Wirataparwa (Buku Pandawa di Negeri Wirata): mengisahkan kehidupan Pandawa dalam penyamaran selama setahun di Negeri Wirata, yaitu pada tahun ketiga belas masa pembuangan mereka.
    • Udyogaparwa (Buku Usaha dan Persiapan): memuat usaha dan persiapan Kaurawa dan Pandawa untuk menghadapi perang besar di padang Kurukshetra.
    • Bhismaparwa (Buku Mahasenapati Bhisma): menggambarkan bagaimana balatentara Kaurawa di bawah pimpinan Mahasenapati Bhisma bertempur melawan musuh-musuh mereka.
    • Dronaparwa (Buku Mahasenapati Drona): menceritakan berbagai per- tempuran, strategi dan taktik yang digunakan oleh balatentara Kaurawa di bawah pimpinan Mahasenapati Drona untuk melawan balatentara Pandawa.
    • Karnaparwa  (Buku  Mahasenapati  Karna):  menceritakan  peperangan  di medan Kurukshetra ketika Karna menjadi mahasenapati balatentara Kaurawa sampai gugurnya Karna di tangan Arjuna.
    • Salyaparwa (Buku Mahasenapati Salya): menceritakan bagaimana Salya sebagai mahasenapati balatentara Kaurawa yang terakhir memimpin pertempuran dan bagaimana Duryodhana terluka berat diserang musuhnya dan kemudian gugur.
    • Sauptikaparwa (Buku Penyerbuan di waktu malam): menggambarkan penyerbuan dan pembakaran perkemahan Pandawa di malam hari oleh tiga kesatria Kaurawa.
    • Striparwa (Buku Janda): menceritakan tentang banyaknya janda dari kedua belah pihak yang bersama dengan Dewi Gandhari, permaisuri Raja Dritarastra, berduka cita karena kematian suami-suami mereka di medan perang.
    • Shantiparwa (Buku Kedamaian Jiwa): berisi ajaranajaran Bhisma kepada Yudhistira mengenai moral dan tugas kewajiban seorang raja dengan maksud untuk memberi ketenangan jiwa kepada kesatria itu dalam menghadapi kemusnahan bangsanya.
    • Anusasanaparwa (Buku Ajaran): berisi lanjutan ajaran dan nasihat Bhisma kepada Yudhistira dan berpulangnya Bhisma ke surgaloka.
    • Aswamedhikaparwa (Buku Aswamedha): menggambarkan jalannya upa- cara Aswamedha dan bagaimana Yudhistira dianugerahi gelar Maharaja Diraja.
  1. Asramaparwa (Buku Pertapaan): menampilkan kisah semadi Raja Dritarastra, Dewi Gandhari, dan Dewi Kunti di hutan dan kebakaran hutan yang memusnahkan ketiga orang tersebut.
    1. Mausalaparwa (Buku Senjata Gada): menggambarkan kembalinya Balarama dan Krishna ke alam baka, tenggelamnya Negeri Dwaraka ke dasar samudera, dan musnahnya bangsa Yadawa karena mereka saling membunuh dengan senjata gada ajaib.
    1. Mahaprashthanikaparwa (Buku Perjalanan Suci): menceritakan bagai- mana Yudhistira meninggalkan takhta kerajaan dan menyerahkan singga- sananya kepada Parikeshit, cucu Arjuna, dan bagaimana Pandawa melakukan perjalanan suci ke puncak Himalaya untuk menghadap Batara Indra.
    1. Swargarohanaparwa (Buku Naik ke Surga): menceritakan bagaimana Yudhistira, Bhima,  Arjuna,  Nakula,  Sahadewa,  dan  Draupadi  sampai di pintu gerbang surga, dan bagaimana ujian serta cobaan terakhir harus dihadapi Yudhistira sebelum memasuki surga (Titib, 1998: 143).

Selain delapan  belas  parwa  tersebut,  sebuah  suplemen  yang  di  se-  but Hariwangsa ditambahkan kemudian. Suplemen ini memuat asal-usul kelahiran dan sejarah kehidupan Krishna secara panjang lebar. Tetapi ber- dasarkan penelitian, buku ini ternyata mengacu pada data yang masanya jauh sekali dari masa kehadiran parwa-parwa itu. Dilihat dari segi kesusastraan, epos Mahǎbhǎrata memiliki sifat-sifat dramatis. Tokoh-tokohnya seolah- olah nyata karena perwatakan mereka digambarkan dengan sangat hidup, konflik antara aksi dan reaksi yang berkelanjutan akhirnya selalu mencapai penyelesaian dalam bentuk kebajikan yang harmonis. Nafsu melawan nafsu merupakan kritik terhadap hidup, kebiasaan, tata cara, dan cita-cita yang berubah-ubah. Menurut Mahatma Gandhi, konflik abadi yang ada dalam jiwa kita diuraikan dan dicontohkan dengan sangat jelas dan membuat kita berpikir bahwa semua tindakan yang dilukiskan di dalam Mahǎbhǎrata seolah-olah benar-benar dilakukan oleh manusia (Mehta, 2007: 56).

Pentingnya epos Mahǎbhǎrata dapat kita ketahui dari peranan yang te-  lah dimainkannya dalam kehidupan manusia. Lima belas abad lamanya Mahǎbhǎrata memainkan peranannya dan dalam bentuknya yang sekarang, epos ini menyediakan kata-kata mutiara untuk persembahyangan dan me- ditasi; untuk drama dan hiburan; untuk sumber inspirasi penciptaan lukisan dan nyanyian. Epos ini juga menyediakan imajinasi puitis untuk petuah-petuah dan impian-impian, dan menyajikan suatu pola kehidupan bagi manusia yang mendiami negeri-negeri yang terbentang dari Lembah Kashmir sampai Pulau Bali di negeri tropis. Epos Mahǎbhǎrata telah meletakkan doktrin dharma yang menyatakan bahwa kebenaran bukan hanya milik satu golongan. Epos ini juga menyatakan bahwa ada banyak jalan serta cara untuk melihat atau mencapai kebenaran karena adanya toleransi. Epos Mahǎbhǎrata mengajarkan bahwa kesejahteraan sosial harus ditujukan bagi seluruh dunia dan setiap orang harus berjuang untuk mewujudkannya tanpa mendahulukan kepentingan pribadi. Itulah dharma yang diungkapkan epos Mahǎbhǎrata sebagai sumber kekayaan rohani atau dharmasastra yang bersifat universal.

Cerita Kelahiran Bhisma

Ketika di Sorgaloka diadakan perjamuan besar-besaran, Raja Mahabima yang dapat naik ke Sorgaloka karena kesaktiannya juga datang berkunjung. Dewi Gangga pun ikut hadir dalam perjamuan tersebut. Selagi pesta, tiba- tiba angin besar bertiup menyingkapkan pakaian Dewi Gangga. Para hadi- rin tertunduk supaya Dewi Gangga tidak malu. Akan tetapi, tidak demikian dengan raja Mahabima. Hyang Brahma sangat murka melihat kelakuan Raja Mahabima, lalu menghukumnya turun ke dunia, demikian pula Dewi Gangga. Akan tetapi, dijanjikan kepadanya bahwa ia akan lepas dari hukuman jika telah melepaskan amarahnya.

Suatu hari, Raja Pratipa pulang dari bertapa. Tiba-tiba datanglah putri yang amat cantik menghadap baginda. Putri itu memohon agar Baginda sudi memperistri dirinya. Baginda tidak dapat mengabulkan permohonan tersebut, tapi berjanji bila kelak punya putra, sang putri akan diambil sebagai menantu. Putri itu berterima kasih dan memohon jika kelak menjadi menantunya, janganlah dicegah segala perbuatannya sekalipun yang sangat buruk. Jika putra raja mencegah, maka dengan terpaksa putri akan meninggalkannya. Baginda berjanji akan memenuhi permohonan itu. Setelah itu, sang putri menghilang dari pandangan. Siapakah putri itu? Ia adalah Dewi Gangga, yang dihukum oleh Hyang Brahma turun ke dunia. Setelah Raja Pratipa bertemu dengan dewi tersebut, maka Baginda bertapa untuk memohon seorang putra kepada Dewa.

Singkat cerita, permohonan Baginda dikabulkan. Tak lama Baginda memperoleh seorang putra dan diberi nama San- tanu. Setelah Santanu dewasa, bersabdalah Baginda Pratipta kepada Santanu bahwa kelak akan datang seorang bidadari, yang akan dijadikan istri putra raja. Baginda menyampaikan permohonan Dewi Gangga kepada Santanu.

Santanu menerima segala titah dan kemudian dinobatkan menjadi raja. Setelah beberapa lama menjadi Raja, suatu hari Santanu berada di tepi Sungai Gangga. Tiba-tiba muncul seorang putri yang cantik jelita. Karena terpesona, Raja Santanu lalu menghampiri dan berbincang dengan sang putri. Setelah bertemu sekian lama, Raja Santanu menanyakan apakah putri tersebut mau menjadi permaisurinya. Sang putri bersedia dan mengajukan persyaratan. Raja Santanu mendengar persyaratan itu dan terdiam. Ia teringat apa yang telah diwasiatkan oleh ayahanda Raja Pratipta kepadanya. Raja Santanu mengabulkan persyaratan yang diajukan oleh Sang Putri tersebut.

Setelah menikah dengan Sang Putri, yang tak lain adalah Dewi Gangga, Raja Santanu memiliki putra-putra yang dilahirkan oleh Dewi Gangga. Namun demikian, walau sudah tujuh orang putra yang lahir, tujuh orang putra itu pula yang telah dibunuh Dewi Gangga dan dibuang ke sungai. Raja Santanu hanya berdiam diri melihat apa yang dilakukan oleh Dewi Gangga karena mengingat sumpah yang telah diucapkannya sebagai syarat pernikahan dengan Dewi Gangga. Hingga pada suatu ketika, putra ke delapan lahir dan Dewi Gangga hendak membunuhnya pula. Raja Santanu mulai mempertanyakan alasan Dewi Gangga membunuh keturunannya. Maka bersabdalah Raja Santanu dengan hati berdebar-debar: “Adinda, katakanlah siapakah engkau sebenarnya? Ke- mudian mengapa engkau sampai hati membunuh putra-putra kita? Kamu tentu berdosa besar kepada Dewa.”

Permaisuri yang tidak lain adalah Dewi Gangga menjawab, “Kakanda, janganlah takut. Putra kakanda ini tidak akan hamba bunuh. Akan tetapi, mengapa kakanda menanyakan hal ini? Lupakah kakanda akan syarat per- kawinan kita? Dengan demikian, maka terpaksa hamba akan meninggalkan kakanda. Tapi sebelum itu, maka hamba akan bercerita mengapa hamba telah membunuh putra-putra sendiri.

Dewi Gangga bercerita: “Pada zaman dahulu, ada delapan orang wasu (golongan dewa) yang telah mencuri sapi kehormatan yang bernama Nandini, milik seorang Maharesi. Di antara mereka hanya satu orang, yaitu yang ber- nama Dyahu. Maharesi tersebut mengetahui perbuatan mereka dan berkata, “Hai para wasu, aku mohonkan kepada Dewa semoga kamu menjelma menjadi bayi manusia!” Mendengar itu mereka mohon ampun dan berjanji takkan mengulangi perbuatannya lagi. Sehingga oleh Dewa, mereka akan menjelma menjadi bayi manusia dan akan terbebas dari hukuman pada saat kelahirannya, kecuali Dyahu yang harus tinggal agak lama di dunia. Ke delapan wasu ini

meminta kepada hamba untuk melahirkan mereka ke dunia jika hamba telah menjadi putri manusia. Oleh karena itu, hamba membunuh tujuh putra hamba dengan membuangnya ke sungai yang merupakan penjelmaan dari tujuh wasu yang memiliki dosa kecil, dan wasu yang terakhir Dyahu harus tinggal lebih lama lagi di dunia.”

Demikian cerita Dewi Gangga kepada Raja Santanu.

“… ya kakanda, hamba adalah Dewi Gangga, putri Batara Janu,” jelas Dewi Gangga.

Setelah menceritakan segala sesuatunya, Dewi pulang ke kahyangan karena hukumannya juga telah usai. Bayi itu pun dibawa oleh Dewi Gangga. Namun, setelah bayi tersebut dewasa diserahkan kembali kepada Raja Santanu dan diberi nama Bisma atau Dewabrata. Singkat cerita, Dewabrata telah tumbuh dewasa dan dikembalikan kepada Prabu Santanu yang saat    itu belum mempunyai permaisuri. Kemudian sang Prabu berusaha mencari pendampingnya. Dikisahkan, pada suatu saat Prabu Santanu jatuh cinta kepada seorang putri nelayan bernama Dewi Durgandini. Dewi Durgandini telah berputra Abyasa atas perkawinan sebelumnya dengan Resi Parasara. Ia hanya mau dijadikan istri oleh Prabu Santanu, apabila putra yang dilahirkannya kelak menjadi putra mahkota. Prabu Santanu sangat bingung, sebab yang berhak menjadi putra mahkota adalah Dewabrata. Kalaupun Dewabrata bersedia mengalah, maka anak keturunan Dewabrata tetap akan menuntut haknya, dan akan terjadi perang saudara pada Dinasti Bharata.

Dewabrata adalah seorang putra yang berjiwa besar. Demi kecintaannya terhadap Negara Hastina, agar tidak terjadi perang saudara di kemudian hari, Dewabrata bersumpah tidak akan kawin selama hidupnya. Sumpah pengorbanan Dewabrata ter- sebut membuat Dewabrata kemudian disebut Bhisma,

yang    (bersumpah)    menge- rikan. Pengorbanan Bhisma

yang begitu besar meningkatkan spiritualnya, sehingga dia diberi anugerah untuk menentukan kapan saatnya meninggalkan jasadnya di dunia di kemudian

hari. Bagi Bhisma, pengabdian dan baktinya hanya untuk Ibu Pertiwi, untuk Hastina. Bhisma tidak melarikan diri ke puncak gunung sebagai pertapa. Dharma baktinya adalah mempersatukan negara.

Dari perkawinannya dengan Dewi Durgandini, Prabu Santanu dikaruniai dua orang putra, Citragada dan Wicitrawirya. Citragada seorang yang sakti, akan tetapi sombong dan akhirnya meninggal sebelum menikah. Wicitrawirya seorang yang lemah dan diperkirakan akan kalah dalam sayembara untuk mendapatkan seorang putri raja. Ketika Raja Kasi mengadakan sayembara bagi tiga putrinya, demi pengabdian kepada Kerajaan Hastina, Bhisma ikut bertanding, dan menang. Ia memboyong ketiga putri tersebut untuk diberikan kepada Wicitrawirya. Dewi Ambalika dan Dewi Ambika menerima kondisi tersebut, akan tetapi Dewi Amba menolak, Dewi Amba hanya mau kawin dengan Bhisma. Bhisma mengatakan bahwa dirinya telah bersumpah tidak akan kawin demi keutuhan Hastina. Sehingga namanya menjadi Bhisma yang artinya bisa meninggal sesuai kehendaknya. Sejak saat itulah ayahnya memberikan sebuah anugerah tentang keabadian dan bisa memenuhi segala keinginannya. Selanjutnya, Bhisma menakut-nakuti Dewi Amba dengan anak panah yang secara tidak sengaja terlepas dan membunuh Dewi Amba. Bhisma tertegun, demi Hastina, tanpa sengaja dia telah membunuh seorang putri, Bhisma sadar dia pun harus terbunuh oleh seorang putri juga nantinya.

Pengabdian Bhisma rupanya hampir sia-sia, karena Wicitrawirya pun meninggal sebelum memberikan putra. Akhirnya Abyasa putera Durgandini dengan Resi Parasara diminta Dewi Durgandini menikahi Dewi Ambalika dan Dewi Ambika. Abyasa patuh terhadap ibunya walau tidak ikhlas memperistri mereka. Singkat cerita, dari pernikahan Abyasa dan Dewi Ambalika lahirlah Destarastra yang buta. Sedangkan dari pernikahan Abyasa dan Dewi Amba lahirlah Pandu yang ‘tengeng’, lehernya miring dan pucat. Resi Shukabrahma mengakhiri kisah tentang kelahiran Bhisma kepada Parikesit. Akhirnya Parikesit menjadi jelas dengan peran Bhisma Yang Agung, leluhurnya yang berjuang untuk mempersatukan negara Hastina sampai titik darah penghabisan (Zoetmulder, 2005).

Merujuk dari cerita kelahiran Bhisma, menunjukan tentang proses hu- kum karmaphala yang akan terus mengikuti dari segala  perbuatan  yang telah dilakukan oleh seseorang yang nantinya akan diterima sesuai dengan perbuatan. Kemudian, tentang kepatuhan Bhisma kepada orang tua yang menjadikannya sebagai insan yang mempunyai kekuatan ksatria yang setara dengan para dewa. Hal lain yang juga diperlihatkan dari tokoh Bhisma, yaitu tentang ketaatannya pada sumpah yang telah dilakukannya. Selain itu, Bhisma

mempunyai sifat kebijaksanaan terhadap segala keputusan yang mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi. Keadilannya pada posisi yang dipegangnya sebagai tokoh dalam kerajaan Hastinapura yang berusaha untuk menyelesaikan segala konflik yang berasal dari dalam maupun luar kerajaan.

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kepemimpinan Dalam Agama Hindu

Pengertian Dan Jenis-Jenis Samskara