in

Jalan Menuju Moksha Dalam Agama Hindu

Jalan Menuju Moksha

Jalan Menuju Moksha


Banyak jalan dapat dilalui oleh seseorang untuk mewujudkan hidup yang
lebih baik dalam hidup ini, Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi beserta
prabhawa-Nya selalu membukakan pintu-Nya bagi orang-orang yang berhati
baik untuk berbuat mulia.

Tujuan terakhir dan tertinggi yang ingin dicapai oleh umat Hindu adalah
Moksha. Berbagai macam cara/jalan dapat dilakukan oleh umat bersangkutan,
gunamewujudkan tujuan utamanya ini, termasuk sembahyang. Dengan
menjalankan sembahyang, bathin seseorang menjadi tenang, dengan Dharana
(menetapkan cipta), Dhyana (memusatkan cipta) dan Samadhi (mengheningkan
cita), manusia berangsur-angsur dapat mencapai tujuan hidupnya yang tertinggi.
Ia adalah bebas dari segala ikatan keduniawian. Guna mencapai penyatuan Atman
dengan Brahman, renungkan, pedomani, dan amalkanlah dalam kehidupan

Mendapatkan seseorang berjiwa besar seperti itu adalah sukar mencarinya.
Banyak makhluk akan keluar/lahir dan mati, serta hidup kembali tanpa
kemampuannya sendiri. Akan tetapi masih ada satu yang tak tampak dan kekal,
tiada masa dan waktu pada saatnya semua makhluk menjadi binasa (pralina).
Yang tak tampak dan kekal itulah harus menjadi tujuannya yang utama, supaya
tidak mengalami penjelmaan ke dunia. Itulah tempat-Ku yang tertinggi, oleh
karenanya haruslah berusaha demi Aku. Jika engkau selalu ingat kepadaKu, tak usah disangsikan engkau akan kembali kepada-Ku. Untuk mencapai
ini orang harus selalu bergulat, berbuat baik sesuai dengan ajaran agamanya.
Kitab suci Veda telah menyediakan dan memfasilitasi bagaimana caranya orang
melaksanakan pelepasan dirinya dari ikatan maya sehingga akhirnya atman dapat
bersatu dengan Brahman. Dengan demikian penderitaan dapat dikikis habis
dan mahkluk hidup yang menderita itu tidak lagi menjelma ke dunia, sebagai
hukuman, tetapi sebagai penolong sesama manusia.
Di dalam ajaran agama Hindu terdapat berbagai macam jalan yang dapat
dilalui untuk mencapai kesempurnaan “Moksha”, dengan menghubungkan diri
dan memusatkan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi. Cara atau jalan yang
demikian itu telah terbiasa disebut dengan nama “Catur Marga”, terdiri dari:


a. Bhakti Marga
Bhakti Marga/Yoga adalah proses atau cara mempersatukan atman dengan


Brahman, berlandaskan rasa dan cinta kasih yang mendalam kepada Tuhan Yang
Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi. Kata “bhakti” berarti hormat, taat, sujud,
menyembah, persembahan, kasih.


Bhakti Marga berarti: jalan cinta kasih, jalan persembahan. Seorang Bhakta
(orang yang menjalani Bhakti Marga) dengan sujud dan cinta, menyembah dan
berdoa dengan pasrah mempersembahkan jiwa raganya sebagai yajna kepada
Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi. Cinta kasih yang mendalam
adalah suatu cinta kasih yang bersifat umum dan mendalam yang disebut maitri.
Semangat Tat Twam Asi sangat subur dalam hati sanubarinya. Sehingga seluruh
dirinya penuh dengan rasa cinta kasih dan kasih sayang tanpa batas, sedikitpun
tidak ada yang terselip dalam dirinya sifat-sifat negatif seperti kebencian,
kekejaman, iri dengki dan kegelisahan atau keresahan.Cinta baktinya kepada
Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi yang sangat mendalam, itu juga
dipancarkan kepada semua makhluk baik manusia maupun binatang.
Tatkala memanjatkan doa umat selalu
menggunakan pernyataan cinta dan kasih
sayang dan memohon kepada Tuhan Yang
Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi agar semua
makhluk tanpa kecuali selalu berbahagia dan
selalu mendapat berkah termulia dari Hyang
Widhi. Jadi, untuk lebih jelasnya seorang
bhakta akan selalu berusaha melenyapkan
kebenciannya kepada semua makhluk.
Sebaliknya ia selalu berusaha memupuk dan
mengembangkan sifat-sifat Maitri, Karuna,
Mudita dan Upeksa (Catur Paramita). Ia selalu berusaha membebaskan dirinya
dari belenggu keakuan (ahamkara).
Sikapnya selalu sama dalam menghadapi suka dan duka, pujaan dan celaan.
Orang yang demikian selalu merasa puas dalam segala-galanya, baik dalam
kelebihan dan kekurangan. Jadi, benar-benar tenang dan sabar selalu. Dengan
demikian baktinya kian teguh dan kokoh kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang
Hyang Widhi. Keseimbangan batinnya sempurna, tidak ada ikatan sama sekali
terhadap apapun. Ia terlepas dan bebas dari hukuman serba dua (dualis) misalnya
suka dan duka, susah senang dan sebagainya. Seluruh kekuatannya dipakai untuk
memusatkan pikiran kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi dan

dilandasi jiwa penyerahan total. Dengan demikian seorang Bhakti Marga dapat
mencapai moksha.


b. Karma Marga


Karma Marga adalah jalan atau usaha untuk mencapai kesempurnaan atau
Moksha dengan perbuatan, bekerja tanpa terikat oleh hasil atau kebajikan tanpa
pamrih. Hal yang paling utama dari karma Yoga ialah melepaskan semua hasil
dari segala perbuatan. Dalam Bhagavadgita tentang Karma Marga dinyatakan
sebagai berikut:

Pekerjaan yang dilakukan tanpa pamerih dinyatakan lebih baik dilakukan
dalam semangat pengorbanan, daripada kegiatan kerja sebagai kegiatan yang
muncul dengan sendirinya. Yogav¢sistha menyatakan: yang mengetahui atman
telah tidak mengharapkan sesuatu pun yang harus dicapai, baik dengan melakukan
kerja maupun tidak. Oleh karena itu. ia melaksanakan kegiatan kerja tanpa
keterikatan apapun.


Bagi seorang pengikut Karma Marga,
penyerahan hasil pekerjaan kepada Tuhan
Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi
bukan berarti kehilangan, bahkan akan
datang berlipat ganda. Hal ini merupakan
rahasia spiritual yang sulit dimengerti,
mendapatkan sesuatu yang diperlukan secara
mengagumkan dan membahagiakan dirinya.
Berkaitan dengan ajaran Karma Marga
renungkanlah cerita berikut:
Pada suatu hari Devi Laksmi mengadakan sayembara, di mana beliau akan
memilih suami. Semua Deva dan para Danawa datang berduyun-duyun dengan
harapan yang membumbung tinggi. Devi Laksmi belum mengumumkan janjinya,
kemudian datanglah beliau di hadapan pelamarnya dan berkata demikian: saya
akan mengalungkan bunga kepada pria yang tidak menginginkan diri saya. Tetapi
mereka yang datang itu semua lobha, maka mulailah Devi Laksmi mencari orang
yang tiada berkeinginan untuk dikalungi. Terlihatlah oleh Devi Laksmi wujudnya
Deva Wisnu dengan tenangnya di atas ular Sesa yang sedang melingkar. Kalung
perkawinan kemudian diletakkan di lehernya dan sampai kinilah dapat kita lihat
simbolis Devi Laksmi berada di samping kaki Deva Wisnu. Devi Laksmi datang
pada orang yang tidak mengidam-idamkan dirinya, inilah suatu keajaiban.

Dari cerita di atas dapat dikemukakan bahwa orang yang selalu asyik dalam
pikirannya menginginkan buah dari kerjanya, akan kehilangan buah itu yang
sebenarnya adalah miliknya, tetapi bagi Karma Yogi walaupun ia berbuat sedikit,
tetapi tanpa pamrih, ia akan mendapatkan hasil yang tidak ternilai. Kesusahan
orang duniawi akan mendapat hasil yang sedikit, karena terikat. Sedangkan bagi
Karma Yogi sebaliknya. Maka dari itu ajaran suci selalu menyarankan kepada
umatnya agar menjadi seorang Karma Yogi yang selalu mendambakan pedoman
rame inggawe sepi ing pamrih.


Pada hakikatnya seorang Karma Yogi dengan menyerahkan keinginan
akan pahala, ia dapat menerima pahala yang berlipat ganda. Hidupnya akan
berlangsung dengan tenang dan ia akan memancarkan sinar dari tubuhnya
maupun dari pikirannya. Bahkan masyarakat tempatnya hidup pun dapat
menjadi bahagia, sejahtera dan suci, mereka dapat mencapai kesucian batin dan
kebijaksanaan.


Masyarakat yang telah suci jasmani dan rohaninya akan menjauhkan diri dari
sifat-sifat munafik dan kepalsuan dan cita-cita yang sempurna akan dapat dicapai
oleh penduduk masyarakat itu. Semua ini telah terbukti dalam pengalaman dari
kebebasan jiwa seorang Karma Yogi.


c. Jnana Marga
Jnana Marga adalah jalan yang ke tiga setelah Karma Marga untuk
menyatukan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi. Jnana
artinya kebijaksanaan filsafat (pengetahuan). Marga berarti jalan yang dilalui
oleh sang diri. Jadi, Jnana Marga berarti jalan, usaha, dan atau cara untuk
mempersatukan Atman dengan Paramãtman yang dicapai dengan jalan
mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat pembebasan diri dari ikatan-ikatan
keduniawian.
Tiada ikatan yang lebih kuat dari
pada maya, dan tiada kekuatan yang lebih
ampuh dari pada Yoga untuk membasmi
ikatan-ikatan maya itu. Untuk melepaskan
ikatan-ikatan ini haruslah kita mengarahkan
segala pikiran kita, memaksanya kepada
kebiasaan-kebiasaan suci, akan tetapi bila
kita ingin memberi suatu bentuk kebiasaan
suci pada pikiran kita, akhirnya pikiran pun
menerimanya, sebaliknya bila pikiran tidak
mau menerimanya maka haruslah kita akui bahwa segala pendidikan yang kita
ingin biasakan itu tidak ada gunanya. Proses tumbuh dan berkembangnya pikiran
ke arah kebaikan merupakan hal yang mutlak patut dilakukan. Sebagai jalan
pertumbuhannya pikiran, perbuatan lahir, pelaksanaan swadharma dan sikap
bathin (wikarma) sangat diperlukan di mana perbuatan lahir adalah penting,
karena jika tidak berbuat, maka pikiran kita tidak dapat diuji kebenarannya.
Perbuatan lahir menunjukkan kualitas sebenarnya dari pada pikiran kita. Ada
tiga hal yang penting dalam hal ini yaitu kebulatan pikiran, pembatasan pada
kehidupan sendiri dan keadaan jiwa yang seimbang atau tenang maupun
pandangan yang kokoh tentram damai. Ketiga hal tersebut di atas merupakan
dhyana Yoga. Untuk tercapainya perlu dibantu dengan abhyasa yaitu latihan
latihan dan vairagya yaitu keadaan tidak mengaktifkan diri. Adapun kekuatan
pikiran kita lakukan di dalam hal kita berbuat apa saja, pikiran harus kita
pusatkan kepadanya. Dalam urusan-urusan keduniawian pun pemusatan pikiran
ini mutlak diperlukan. Bukanlah sifat yang diperlukan hanya untuk suksesnya
di dunia berlainan dengan sifat-sifat yang dibutuhkan untuk kemajuan spiritual
atau batin. Usaha untuk menjernihkan kegiatan kita sehari-hari ialah kehidupan
rohaniah. Apapun kita laksanakan, berhasil atau tidaknya tergantung kepada
kekuatan pemusatan pikiran kita kepada-Nya.


d. Raja Marga
Raja Marga adalah suatu jalan mistik (rohani) untuk mencapai kelepasan
atau Moksha. Melalui Raja Marga/Yoga seseorang akan lebih cepat mencapai
Moksha, tetapi tantangan yang dihadapinya pun lebih berat, orang yang mencapai
Moksha dengan jalan ini diwajibkan mempunyai seorang guru Kerohanian yang
sempurna untuk dapat menuntun dirinya ke arah pemusatan pikiran.
Ada tiga jalan pelaksanaan yang ditempuh oleh para Yogi sebagai pengikut
ajaran Raja Marga yaitu melakukan tapa-brata, Yoga, dan samadhi. Tapa dan
brata merupakan suatu latihan untuk mengendalikan emosi atau nafsu yang ada
dalam diri kita ke arah yang positif sesuai dengan petunjuk ajaran kitab suci.
Sedangkan Yoga dan samadhi adalah latihan untuk dapat menyatukan Atman
dengan Paramatman (Brahman) dengan melakukan meditasi atau pemusatan
pikiran. Setelah yang bersangkutan menjalani tapa, brata, Yoga dan samadhi
dengan sungguh-sungguh, maka pribadinya menjadi suci, tenang, tentram dan
terlatih. Renungkanlah sloka berikut dengan baik!


Pengikut ajaran Raja Marga berkewajiban untuk mengimplementasikan
Astangga Yoga guna mewujudkan tujuannya. Mereka dapat menghubungkan
diri dengan kekuatan rohaninya melalui Astangga Yoga. Astangga Yoga adalah
delapan tahapan Yoga untuk mencapai Moksha. Astangga Yoga diajarkan oleh
Maha Rsi Patanjali dalam bukunya yang disebut dengan Yoga Sutra Patañjali.
Adapun bagian-bagian dari ajaran Astangga Yoga yang patut dipedomani dan
dilaksanakan oleh praktisi ajaran Raja Marga adalah sebagai berikut:


a. Yama
Yama (Yama bratha) adalah ajaran pengendalian diri yang wajib dipedomani
dan dilakukan oleh pengikut Raja Marga yang berhubungan dengan tindakan
jasmani, misalnya, tidak menyiksa/menyakiti/membunuh mahkluk sesamanya
(ahimsa), dilarang berbohong (satya), pantang mengingini sesuatu yang bukan
miliknya (asteya), pantang melakukan hubungan seksual (brahmacari) dan
tidak menerima pemberian dari orang lain (aparigraha). Kitab Sarasamuscaya
menguraikan pahala/hasil yang patut dinikmati oleh pengikut Raja Marga adalah:


b. Nyama
Nyama yaitu bentuk pengendalian diri yang lebih bersifat rohani, di antara
unsur-unsurnya adalah: 1. Sauca (tetap suci lahir batin), 2. Santosa (selalu puas
dengan apa yang datang), 4. Swadhyaya (mempelajari kitab-kitab keagamaan)
dan 5.


Nyang brata sapuluh kwehnya, ikang niyama ngaranya, pratyekanya,
dàna, ijya, tapà, dhyana, swàdhyàya, upasthanigraha, brata, upawàsa, mauna,
snàna, nahan ta awakning niyama, dàna weweh, annadànàdi: ijyà, Devapujà,
pitrpujàdi, tapa kàyasangcosana, kasatan ikang ûarira, bhucarya, jalatyagàdi,
dhyana, ikang siwaûmarana, swàdhyàya, wedàbhyasa, upasthanigraha,
kahrtaning upastha, brata annawarjàdi, mauna wàcangyama, kahrtaning
ujar, haywàkeceng kuneng, snàna, trisangdhyàsewana, madyusa ring kàlaning
sandhya.


Terjemahan:
Inilah brata sepuluh banyaknya yang disebut niyama, perinciannya: dàna,
ijya, tapà, dhyana, swàdhyàya, upasthanigraha, brata, upawàsa, mauna,

snàna, itulah yang merupakan niyama, dàna, pemberian makanan-minuman
dan lain-lain: ijya, pujaan kepada Deva, kepada leluhur dan lain-lain sejenis
itu: tapà, pengekangan nafsu jasmaniah, badan yang seluruhnya kurus kering,
layu, berbaring di atas tanah, di atas air dan di atas alas-alas lain sejenis itu:
dhyana, tepekur merenungkan Çiwa: swàdhyàya, yakin mempelajari Veda:
upasthanigraha, pengekangan upastha, singkatnya pengendalian nafsu sex:
brata/upawàsa, pengekangan nafsu terhadap makanan dan minuman: mauna/
mona, itu wacanyama berarti menahan, tidak mengucapkan kata-kata yaitu tidak
berkata-kata sama sekali tidak bersuara: snàna, trisandhyasewana, mengikuti
trisandhya, mandi membersihkan diri pada waktu pagi, tengah hari dan petang
hari, (Sarasamuçcaya, 260).


c. Asana
Asana yaitu sikap duduk yang menyenangkan, teratur dan disiplin (pada
silasana, padmasana, bajrasana, dan sukhasana).


d. Pranayama
Pranayama, yaitu mengatur pernafasan sehingga menjadi sempurna melalui
tiga jalan yaitu puraka (menarik nafas), kumbhaka (menahan nafas) dan recaka
(mengeluarkan nafas).


e. Pratyahara
Pratyahara, yaitu mengontrol dan mengendalikan indriya dari ikatan
obyeknya, sehingga orang dapat melihat hal-hal suci.


f. Dharana
Dharana, yaitu usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan sasaran yang
diinginkan. Pengendalian pikiran.


g. Dhyana
Dhyana, yaitu pemusatan pikiran yang tenang, tidak tergoyahkan kepada
suatu obyek. Dhyana dapat dilakukan terhadap Ista Devata.


h. Samadhi
Samaddhi, yaitu penyatuan atman (sang diri sejati dengan Brahman). Bila
seseorang melakukan latihan Yoga dengan teratur dan sungguh-sungguh ia akan
dapat menerima getaran-getaran suci dan wahyu Tuhan.

Empat jalan yang ditempuh untuk pencapaian Moksha itu
sesungguhnya memiliki kekuatan yang sama bila dilakukan dengan sungguhsungguh. Setiap orang akan memiliki kecenderungan memilih jalan-jalan
tersebut, maka itu setiap orang memiliki jalan mencapai Mokshanya bervariasi.
Moksha sebagai tujuan hidup spiritual bukanlah merupakan suatu janji yang
hampa melainkan merupakan suatu keyakinan yang berakhir dengan kenyataan.
Kenyataan dalam dunia batin merupakan alam super transendental yang hanya
dapat dibuktikan berdasarkan instuisi yang dalam. Moksha merupakan sesuatu
yang tidak dapat dibantah kebenarannya, demikianlah dijelaskan oleh kitab
suci. Oleh sebab itu, mari kita melatih diri untuk melaksanakan ajaran Astangga
Yoga dengan tuntunan seorang guru yang telah memiliki kemampuan dalam hal
tersebut.


Moksha adalah terlepasnya Atman dari belenggu maya (bebas dari pengaruh
karma dan punarbhawa) dan akhirnya bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam hubungan dengan penyatuan dengan Tuhan, renungkanlah dan amalkanlah
sloka berikut:

Demikianlah ajaran kitab Astangga Yoga yang ditulis oleh Maharsi Patañjali,
mengajarkan umat manusia agar mengupayakan dirinya masing-masing untuk
mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini. Siapapun juga akan dapat
mencapai kesadaran tertinggi ini, apabila yang bersangkutan mau dan mampu
melaksanakannya secara sungguh-sungguh.
Uji kompetensi:

  1. Banyak jalan menuju hidup sejahtera dan bahagia, menurut Anda jalan
    atau cara manakah yang terbaik untuk mewujudkan kesejahtraan dan
    kebahagiaan hidup ini “Moksha”? Narasikanlah pengalaman Anda!
  2. Buatlah peta konsep tentang cara atau jalan untuk dapat mewujudkan
    Moksha, yang Anda ketahui!
  3. Latihlah diri-mu untuk dapat mewujudkan Moksha dalam hidup
    dan kehidupan ini setiap saat menurut cara atau jalan yang diyakini,
    selanjutnya buatlah laporan tentang perkembangan kebahagiaan
    “Moksha” yang Anda rasakan baik secara fisik maupun rohani!
  4. Mengapa kita penting mewujudkan kebahagiaan hidup ini? Diskusikan
    dengan teman sekelompok dan selanjutnya paparkanlah di depan kelas
    sesuai petunjuk bapak/Ibu guru yang mengajar!
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 123
  5. Setelah Anda membaca teks penerapan ajaran Astangga Yoga, apakah
    yang Anda ketahui tentang tujuan hidup manusia dan tujuan agama
    Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah!
  6. Buatlah ringkasan yang berhubungan dengan penerapan ajaran Astangga
    Yoga, guna mewujudkan tujuan hidup manusia dan tujuan agama Hindu,
    dari berbagai sumber media pendidikan dan sosial yang anda ketahui!
    Tuliskan dan laksanakanlah sesuai dengan petunjuk dari bapak/ibu guru
    yang mengajar di kelas Anda!
  7. Apakah yang Anda ketahui tentang ajaran Moksha dan Astangga Yoga?
    Jelaskanlah!
  8. Bagaimana cara kita untuk mengendalikan diri baik itu dari unsur
    jasmani maupun rohani menurut petunujuk kitab suci yang pernah Anda
    baca? Jelaskan dan tuliskanlah pengalamannya!
  9. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari usaha dan
    upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini
    “Moksha”? Tuliskanlah pengalaman Anda!
  10. Amatilah lingkungan sekitar Anda terkait dengan penerapan ajaran
    Astangga Yoga guna mewujudkan tujuan hidup manusia dan tujuan
    agama Hindu, buatlah catatan seperlunya dan diskusikanlah dengan
    orang tuanya! Apakah yang terjadi? Buatlah narasinya 1-3 halaman
    diketik dengan huruf Times New Roman-12, spasi 1,5 cm, ukuran kertas kwarto: 4-3-3-4!

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ajaran Moksha Dalam Agama Hindu

Upaya Mengatasi Hambatan Dalam Mencapai Moksha