in

Hambatan Globalisasi Dalam Mencapai Moksha

Hambatan Globalisasi Dalam Mencapai Moksha

Tantangan dan Hambatan dalam Mencapai Moksha sesuai
dengan Zamannya “Globalisasi”
(rohani dan jasmani) dibangun sejak awal seirama dengan pembelajaran hidup
ini? Kesenjangan hidup (rohani dan jasmani) mengantarkan terhambatnya
pencapaian kesehimbangan hidup seseorang.
Bagaimana tantangan untuk mencapai kesejahtraan dan kebahagiaan hidup
ini “jagadhita dan Moksha” dapat teratasi dengan baik? Lakukanlah dengan
sungguh-sungguh sifat dan sikap mulia berikut ini!

  1. Menjauhkan Diri dari Keterikatan Materialistis
    Mengumpulkan harta-benda (material) untuk memenuhi kebutuhan hidup
    yang berkecukupan dalam hidup dan kehidupan ini adalah baik, namun apabila
    kekayaan yang kita kumpulan membuat orang lain menjadi menderita adalah
    tidakan yang kurang terpuji. Menjadikan diri sebagai insan yang koruptor,
    pemeras, membuat masyarakat miskin dan menderita adalah tindakan yang
    sangat bertentangan dengan tujuan hidup beragama “Moksha”. Sikap dan
    tindakan seseorang yang suka berlebihan mengumpulkan material mengantarkan
    yang bersangkutan susah dapat mewujudkan kebahagian yang dicita-citakannya.
  2. Mengutamakan Aktifitas yang Bernuansakan Spiritual
    Menjadi orang yang kreatif, rajin, tekun, dan cekatan yang bernafaskan
    keagamaan dan kemanusiaan dapat mengantarkan yang bersangkutan mampu
    mewujudkan kebahagiaan hidupnya. Namun apabila sebaliknya, seperti rajin,
    tekun, pekerja keras hanya untuk memenuhi ambisi semata, lupa dengan
    kewajiban hidup beragama tentu berakibat tidak baik, dan sekaligus dapat
    mengantarkan yang bersangkutan menjadi insan yang menderita. Oleh karena itu
    bila kita memutuskan diri menjadi orang-orang rajin mendapatkan harta benda
    jangan pernah lupa untuk rajin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta guna
    memohon keteduhan dalam hidup ini. Datanglah ke Pura (tempat suci) untuk
    melakukan aktivitas keagamaan dengan tulus. Walaupun disibukan dengan
    kegiatan duniawi akan tetapi jangan pernah lupa mengimbanginya dengan
    kegiatan spiritual.
  3. Jauhkan dan Hindarkanlah Diri dari Tindakan Tidak Terpuji
    Tindakan manusia terpuji adalah menjauhkan diri dari kebodohan
    (Punggung), irihati (Irsya), dan marah (Krodha) serta sifat-sifat negatif yang
    lainnya seperti ‘mabuk, berjudi, bermain wanita, dan bertindak anarkis’ karena
    dapat mengantarkan seseorang menjadi insan yang nista.
    Manusia sepatutnya selalu berusaha untuk menjadi insan yang terpuji, sebab
    pada dasarnya setiap kelahiran manusia adalah baik. Hal ini dapat dibuktikan
    dengan diberikannya berbagai macam predikat kepada manusia, seperti;
    manusia adalah mahkluk: (individu, berpikir, religius, sosial, berbudaya) dan
    yang lainnya, (Wigama dkk, 1995:204).
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 157
    Semestinya kita patut bersyukhur dilahirkan hidup menjadi manusia,
    karena hanya yang dilahirkan hidup menjadi manusia saja dapat berbuat baik
    atau melebur perbuatan yang buruk menjadi baik. Kitab suci veda menjelaskan
    sebagai berikut;
    “Mànusah sarvabhùteûu varttate vai
    ûubhàúubhe,
    aúubheûu samaviûþam
    úubhesvevàvakàrayet.
    Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wënang gumawayaken
    ikang subhasubhakarma, kuneng panëntasakëna ring úubhakarma juga
    ikangaúubhakarma phalaning dadi wwang”.
    Terjemahannya:
    Di antara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia
    sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke
    dalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya
    (phalanya) menjadi manusia, (Sarasamuçcaya, 2).
    “Iyam hi yonih prathamà
    yonih pràpya jagatipate,
    àtmànam ûakyate tràtum karmabhih
    úubhalakûaóaih.
    158 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wënang ya
    tumulung awaknya sangkeng sangsàra, makasàdhanang úubhakarma, hinganing
    kottamaning dadi wwang ika”.
    Terjemahannya:
    Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya
    demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan
    mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungannya
    dapat menjelma menjadi manusia, (Sarasamuçcaya, 4).
    Sebagai akibat dari kemampuan untuk memilih yang dimiliki oleh manusia,
    mengakibatkan manusia dapat meningkatkan hidup dan kehidupannya dari
    yang kurang baik menjadi lebih baik, dan akhirnya sampai manusia dinyatakan
    memiliki kedudukan yang paling tinggi (istimewa) dari semua mahkluk yang
    ada. Meskipun demikian bukan berarti pula manusia akan terlepas sama sekali
    dari perbuatan-perbuatannya yang kurang baik.
    Secara kodrati kelahiran manusia dilengkapi dengan: sifat tri guna yakni
    tiga sifat utama (sattwam; ketenangan, rajas; dinamis, dan tamas; lamban).
    Ketiga sifat utama ini hendaknya terjaga keseimbangannya untuk tidak menjadi
    memicu tumbuh dan berkembangnya sad ripu yaitu enam musuh utama yang
    ada pada setiap manusia, yang terdiri dari: k¢ma; nafsu, lobha; tamak, krodha;
    kemarahan, mada; kemabukan, moha; kebingungan, matsarya; iri-hati.

    Dalam hidup dan kehidupan ini manusia dihadapkan pada banyak faktor
    kemungkinan untuk menjadi kurang baik. Kemungkinan yang dimaksud
    seperti; kebodohan, kemiskinan, dan kemelaratan yang disebabkan oleh karena
    kelelahan, lingkungan yang kurang bersahabat, dan juga karena keinginan
    yang tidak terkendali. Semuanya itu mengantarkan manusia dapat diliputi oleh
    kegelapan (awidya/timira) dan kebingungan.
    Disebutkan ada 7 (tujuh) macam sifat manusia secara kodrati dapat
    mengantarkan hidup manusia menjadi awidya, gelap, suram, timira yang
    dikenal dengan istilah “sapta timira”. Yang disebut sapta timira antara lain;
    surupa; ketampanan/kecantikan, dana; kekayaan, guna; kepandaian, kulina;
    kebangsawanan, yowana; keremajaan, sura; minuman keras, dan kasuran;
    kemenangan. Ketujuh unsur/sifat alami itulah yang mengantarkan manusia
    menjadi awidya atau gelap sebagai akibat dari kebodohannya.

    wisada; meracun, atharwa; mensihir, çastraghna; mengamuk, dharatikrama;
    memperkosa, rajapisuna; memfitnah.
    Menjadi pekerja aktif dengan jabatan sebagai atasan kurang memungkinkan
    untuk melakukan kegiatan spiritual karena disibukkan oleh berbagai macam
    aktifitas kantor. Perilaku seseorang kadang menyimpang dari Dharma akibat
    tugas yang diberikan oleh majikan untuk mengambil keputusan sesuai dengan
    kebutuhan atasan (pihak manajemen). Biasanya pada saat menjabatlah semestinya
    seseorang dapat memanfaatkan kesempatan untuk menegakkan Dharma. Setiap
    keputusan yang diambil oleh seorang atasan seharusnya menguntungkan
    masyarakat banyak.
    Terkadang banyak orang yang kurang sabar dalam mengumpulkan harta dari
    pekerjaan yang ditekuninya, seperti dengan mengambil jalan pintas melakukan
    korupsi, kolusi, nepotisme (KKN). Berdasarkan Dharma, dalam mengumpulkan
    harta tidak harus dengan korupsi. Tidak sedikit orang menjadi kaya tanpa korupsi,
    karena mereka berusaha dengan profesional dan hasil usahanya dimanfaatkan
    untuk kepentingan orang banyak seperti dengan mendirikan Yayasan untuk
    orang yang tidak mampu (fakir miskin) atau mendirikan sekolah yang dapat
    menunjang Pendidikan demi masa depan anak-anak bangsa ini.
    Sikap dan perilaku yang diwujudkan oleh seseorang seperti tersebut di
    atas (mendirikan yayasan fakir miskin) berarti yang bersangkutan telah mampu
    membangun spiritualnya dan sekaligus dapat mengendalikan sifat-sifat awidyanya. Agar manusia tidak terjerumus dan hanyut ke lembah derita sebagai akibat
    dari kebodohan, dan kegelapannya di tengah-tengah arus globalisasi yang serba
    terbuka maka ia berkewajiban untuk meningkatkan kecerdasan intelektual
    162 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    dan religiusnya. Umat sedharma hendaknya selalu dapat meningkatkan diri
    untuk belajar, menumbuh-kembangkan kebijaksanaannya, memohon tuntunanNya untuk berlatih berpikir jernih, berketatapan hati, dan selalu bersikap baik
    “Dharma” serta sikap positif yang lainnya. Dengan demikian umat sedharma
    akan selalu tenang, sabar, dan penuh kedamaian dalam mewujudkan tujuan
    hidup dan tujuan agamanya.
    Untuk mencapai Moksha seseorang dapat memilih salah satu di antara
    Catur Marga Yoga. Apakah melalui Jnana Marga Yoga, Karma Marga Yoga,
    Bakti Marga Yoga dan Raja Marga Yoga, diharapkan dapat disesuaikan dengan
    kemampuan serta bidang yang digeluti saat ini. Pada saat perang Barata Yuda
    sudah berakhir, di mana kemenangan berada dipihak Pandawa, semua musuhmusuhnya sudah kalah perang tinggal Pandawa yang hidup. Yudistira sebagai
    pemimpin Pandawa memutuskan pergi kehutan untuk mengasingkan diri dengan
    maksud mendekatkan diri kehadapan Yang Widhi Wasa dengan mengikuti ajaran
    Raja Marga Yoga sebagai salah satu bagian dari Catur Marga Yoga. Arjuna
    sebagai orang yang bijaksana yang mempunyai Visi dan Misi jauh ke depan
    menganjurkan kepada Prabu Yudistira agar kembali untuk memimpin kerajaan.
    Untuk mencapai Moksha tidak harus pergi kehutan bersemadi atau beryoga, di
    dalam kerajaan-pun dengan berbuat baik dan menegakkan kebenaran “Dharma”
    Moksha dapat dicapai.
    “Kamarthau lipsamànastu
    dharmmamevàditaûcaret,
    na hi dharmmàdapetyarthah
    kàmo vapi kadàcana”
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 163
    Yan paramarthanya, yan arthakàma sàdhyan, Dharma juga lëkasakëna
    rumuhun, niyata katëmwaning arthakàma mëne tan paramàrtha wi katemwaning
    arthakàma deninganasar sakeng Dharma.
    Terjemahannya:
    Pada hakekatnya, jika Artha dan Kama dituntut, maka seharusnya Dharma
    hendaknya dilakukan lebih dahulu; tak tersangsikan lagi, pasti akan diperoleh
    Artha dan Kama itu nanti; tidak akan ada artinya, jika Artha dan Kama itu
    diperoleh menyimpang dari Dharma (Sarasamuçcaya, 12).
    Keterikatan adalah moha, kebebasan adalah Moksha. Selama kita masih
    awidya dan terikat oleh hal-hal duniawi maka, Moksha sangat sulit untuk tercapai.
    Kesulitan untuk melepaskan keterikatan itu, dapat diatasi dengan latihan-latihan
    secara rutin. Untuk mengendalikan Sad Ripu tidak mudah,karena membutuhkan
    kesabaran dan ketekunan untuk selalu melakukan introspeksi terhadap diri kita
    sendiri, dan evaluasi diri sejauh mana telah dilakukan latihan-latihan ke arah
    pengendalian diri yang dimaksud. Melaksanakan ajaran Catur Marga Yoga
    memang membutuhkan mental yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan harus
    mengetahui kemampuan yang dimiliki. Seseorang sebaiknya harus mengetahui
    bakat yang dikaruniakan oleh Yang Widhi Wasa kepadanya, sehingga dalam
    melaksanakannya sesedikit mungkin mendapat halangan atau kendala. Dengan
    demikian dalam waktu yang relatif singkat kita sudah dapat melakukannya
    mendekati sempurna walaupun belum mencapai Moksha tetapi sudah dirasakan
    hasilnya.
    164 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    Moksha merupakan sraddha yang ke lima dari Panca Sraddha sebagai dasar
    keyakinan bagi umat Hindu. Percaya dengan adanya Moksha berarti meyakini
    bahwa kebahagiaan itu ada, terjadi, dan dapat dicapai oleh setiap umat Hindu.
    Moksha merupakan tujuan hidup tertinggi dari umat Hindu. Kebahagiaan yang
    sejati ini baru akan dapat tercapai oleh seseorang bila ia telah dapat menyatukan
    jiwanya dengan Tuhan. Penyatuan Jiwa dengan Tuhan itu baru akan didapat bila
    ia telah melepaskan semua bentuk ikatan keduniawian pada dirinya. Keterikatan
    yang melekat pada diri kita itulah yang dinamakan maya atau kepalsuan. Maya
    dalam agama Hindu juga dinamakan sakti, prakrti, kekuatan dan pradhana. Maya
    selalu mengalami perubahan yang pada hakekatnya tidak ada. Keberadaannya
    semata-mata disebabkan oleh adanya hubungan indriya dengan obyek duniawi
    ini. Keterikatan akan kekuatan maya atau kepalsuan duniawi merupakan
    hambatan bagi umat seDharma untuk mewujudkan ‘Moksha’.
    Uji Kompetensi:
  4. Advertisement
  5. Mengapa “Moksha” dinyatakan sulit dapat diwujudkan dalam
    kehidupan ini?
  6. Hambatan apa sajakah yang Anda alami untuk dapat mewujudkan
    Moksha itu? Diskusikanlah dengan (Kelompok, teman sebangku atau
    yang lainnya) di kelas! Laporkanlah hasil diskusi tersebut!
  7. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari usaha dan
    upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini
    “Moksha”? Tuliskanlah pengalaman Anda!
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 165
  8. Bila seseorang berkeinginan untuk mencapai Moksha tanpa mengikuti
    tahapan-tahapannya, apakah yang akan terjadi? Buatlah narasinya 1-3
    halaman diketik dengan huruf Times New Roman-12, spasi 1,5 cm,
    ukuran kertas kwarto; 4-3-3-4!
Advertisement

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upaya Mengatasi Hambatan Dalam Mencapai Moksha

Mewujudkan Tujuan Hidup Manusia dan Tujuan Agama Hindu