in

Dasa Mala : Pengertian , Bagian Dan Ramayana

Pengertian Dasa Mala

Menurut ajaran Agama Hindu, tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan yang abadi. Kesejahteraan di dunia dapat dicapai dengan dharma, artha dan kama. Ketiganya ini (dharma, artha, kama) merupakan satu kesatuan, dalam artian manusia baru dapat merasakan bahagia bila artha terpenuhi dan rasa aman didapat (Ngurah, 2006: 69). Untuk mendapatkan rasa aman diperlukan adanya hubungan yang harmonis dengan yang lain. Oleh karena itu, dalam hidup bersama diperlukan tatanan hidup berupa peraturan-peraturan yang dapat memberikan kebahagiaan dalam hidup. Tatanan hidup dipergunakan untuk mencapai kebahagiaan secara jasmani dan rohani atau jagadhita dan moksa.

Dalam fakta kehidupan, di samping hal yang baik banyak juga hal-hal yang bertentangan dengan dharma. Dalam agama Hindu disebut dengan Dasa Mala. Dasa Mala merupakan salah satu bentuk dari asubha karma atau perbuatan yang tidak baik. Dasa Mala merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu bentuk perbuatan yang bertentangan dengan susila, yang cenderung pada kejahatan. Penderitaan bersumber dari kebingungan yang membangkitkan sifat rajah dan tamas. Jadi, dasa mala adalah sepuluh perbuatan yang buruk yang harus dihindari (Sura, 2001).

Bagian-Bagian Dasa Mala

Dteargsoalomnaglakedalam kelompok asubha karma, di samping ada tri mala, sad ripu, sad atatayi, dan sapta timira (Sura, 2001: 17). Dasa mala merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu bentuk perbuatan yang bertentangan dengan susila, yang cenderung kepada kejahatan. Semua perbuatan yang bertentangan dengan susila hendaknya kita hindari dalam hidup ini agar terhindar dari penderitaan. Ada sepuluh macam sifat yang tidak baik atau kotor yang disebut dasa mala yang bersumber dari slokantara sloka 84 (Hiraghindawani, 2005) tentang perbuatan buruk yang tidak dilakukan.


Adapun pembagian dari dasa mala tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tandri, artinya orang yang malas, suka makan dan tidur saja, tidak tulus,
    hanya ingin melakukan ke- jahatan (Sura, 2001). Si- kap malas sebagai perbua- tan yang hendaknya harus dihindari. Sikap ini meru- pakan pintu penghalang untuk mencapai tujuan hi- dup. Tidak ada tujuan yang dapat dicapai dengan hanya berdiam diri. Sifat malas akan menjauhkan kita dari Atmǎ dengan Paramatma.Oleh karena itu, hilangkanlah sifat malas itu. Lakukanlah tugas dan kewajiban sehingga kita bisa mencapai tujuan yang diinginkan yaitu sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat.
  1. Kleda, artinya berputus asa, suka menunda dan tidak mau memahami maksud orang lain (Zoetmulder, 2004: 509). Sikap putus asa, suka menunda- nunda suatu pekerjaan adalah merupakan sikap yang didominasi oleh sifat- sifat tamas. Orang yang dalam hidupnya lebih banyak dikuasai oleh sifat- sifat tamas akan menyebabkan Ǎtma jatuh ke alam neraka. Oleh karena itu, kleda merupakan penghalang untuk maju dan mencapai kesempurnaan hidup, sehingga kita harus mengendalikannya. Jangan cepat berputus asa dalam melakukan pekerjaan, jangan suka menunda-nunda waktu untuk melakukan tugas dan kewajiban, karena hidup kita hanya sebentar seperti disebutkan di dalam kitab Sarasamuccaya sloka 8 sebagai berikut:
  2. Leja, artinya berpikiran gelap, bernafsu besar dan gembira melakukan ke- jahatan (Zoetmulder, 2004: 582). Pikiran adalah hal yang paling menentukan kualitas perilaku manusia dalam kehidupan di dunia ini. Pikiranlah yang mengatur gerak sepuluh indria sehingga disebut Raja Indria (rajendriya). Jika Raja Indria tidak baik, indria yang lain pun menjadi tidak baik pula. Dalam kitab Bhagavadgitǎ II.60 dinyatakan sebagai berikut: Oleh karena itu, marilah jaga kesucian pikiran kita jangan sampai ternoda dan menjadi gelap. Pikiran gelap, pikiran yang dikuasai oleh gejolak hawa nafsu sangat merugikan diri kita maupun orang lain. Upayakan untuk men- jaga pikiran agar tidak gelap atau tidak dikuasai oleh hawa nafsu.
  1. Kutila, artinya menyakiti orang lain, pemabuk, tidak jujur dan penipu,
    menyakiti dan membunuh makh- luk lain, lebih-lebih manusia, merupakan perbuatan yang ber- tentangan dengan ajaran agama (Zoetmulder, 2004: 548). Kutila juga berarti pemabuk. Orang yang suka mabuk, maka pikirannya akan menjadi gelap. Pikiran yang gelap akan membuat orang ter- sebut melakukan hal-hal yang bersifat negatif, termasuk menya- kiti orang lain, menipu dan se-bagainya. Di dalam pergaulan ia akan terlihat kasar dalam berkata ataupun bertindak, serta suka menyakiti orang lain.
  1. Kuhaka, artinya pemarah, suka mencari-cari kesalahan orang lain, penipu, berkata sembarangan, dan keras kepala (Zoetmulder, 2004: 528). Bila kita emosi atau marah, kita mengeluarkan cairan adrenalin dalam darah kita. Ini memiliki pengaruh penurunan kekebalan pada tubuh kita sehingga kita akan menjadi sakit. Sebaliknya bila kita dipenuhi dengan kasih sayang dan kedamaian dalam pikiran, maka kita akan mengeluarkan cairan endorfin yang dapat menambah sistem kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah penyakit. Kemarahan sangat merugikan kehidupan kita, oleh karena itu kita harus mengatasi kemarahan dan kebencian yang ada dalam diri kita dengan mengendalikan emosi sehingga kedamaian hidup dapat tercapai. Orang yang dikuasai oleh sifat marah sering kali kehilangan akal sehatnya sehingga dapat melakukan perbuatan yang tidak terpuji, seperti dijelaskan di dalam kitab Sarasamuccaya, 105 berikut ini:
  2. Metraya, artinya suka berkata menyakiti hati, sombong, iri hati dan suka menggoda istri orang lain (Gede Sura, 2001). Di dalam kitab Sarasamuccaya 120 dinyatakan sebagai berikut: Demikianlah perkataan yang diucapkan dengan maksud jahat akan dapat menyakiti hati orang lain, bahkan dapat menyebabkan kematian baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri (Wasita nimittanta pati kepangguh). Oleh sebab itu, perlu diperhatikan kata-kata kita agar terdengar manis dan menyejukkan, lemah-lembut, sopan, sehingga dapat menyenangkan orang lain dan diri sendiri (Wasita nimittanta manemu laksmi). Dengan berkata sopan tentunya orang lain yang mendengarnya akan menjadi senang dan simpati dengan kata-kata yang telah diucapkan.
  1. Megata, artinya berbuat jahat, berkata manis tetapi pamrih (Zoetmulder, 2004: 663). Lain di mulut lain di hati, berkata manis karena ada udang di balik batu, adalah perbuatan yang sering dilakukan oleh orang yang terlalu pamrih. Perbuatan ini merupakan perbuatan licik yang tergolong asubha karma dan perbuatan ini akan merupakan penghalang untuk mencapai tujuan rohani. Di dalam Sarasamuccaya 76 disebutkan sebagai berikut:
  2. Ragastri, artinya bernafsu dan suka memperkosa (Zoetmulder, 2004: 900). Ragastri merupakan sifat-sifat yang bertentangan dengan ajaran agama. Sifat-sifat seperti itu disebut dengan sifat-sifat asuri sampat atau sifat-sifat keraksasaan. Memperkosa kehormatan orang lain adalah perbuatan terkutuk dan hina. Sifat-sifat suka memperkosa harus dihindari untuk menjaga agar tidak terjadi kemerosotan moral. Jika ragastri dibiarkan, akan menambah banyak terjadi perbuatan tuna susila. Untuk melenyapkan sifat-sifat itu, kita hendaknya berusaha untuk mengendalikan dan menghindarinya. Selain itu, kita hendaknya mengisi diri dengan kegiatan-kegiatan yang positif sehingga dapat menuntun jiwa kita bersatu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
  3. Bhaksa Bhuana, artinya suka menyakiti orang lain, penipu, dan hidup berfoya-foya (Zoetmulder, 2004: 135). Berfoya-foya berarti memper- gunakan arta melebihi batas normal. Hal ini tidak baik dan melanggar
    dharma, yang dapat ber- akibat tidak baik pula. Kita sering melihat di ma- syarakat, bahwa kekayaan yang berlimpah jika peng- gunaannya tidak didasari oleh dharma, pada akhir- nya justru menyebabkan orang akan masuk neraka, seperti mabuk, berfoya- foya dan sebagainya. Oleh
    karena itu, marilah pergunakan arta anugerah Ida Sang Hyang Widhi dengansebaik-baiknya sesuai kebutuhan yang dilandasi dengan dharma. Mem- pergunakan arta dengan sebaik-baiknya, selain menuntun budi pekerti kita berpola hidup sederhana, juga dapat meningkatkan kesucian diri.
  1. Kimburu, artinya penipu dan pencuri terhadap siapa saja tidak pandang bulu, pendengki dan iri hati. Sifat dengki dan iri hati merupakan salah satu sifat yang kurang baik (asubha karma) yang patut dihilangkan. Semakin besar sifat dengki dan iri hati berada pada diri seseorang, diperlukan upaya yang kuat pula untuk mengalahkannya. Kimburu merupakan salah satu musuh dalam diri manusia. Ada enam musuh (Sad ripu) dalam diri manusia yang patut dikalahkan yaitu, kǎma, loba, krodha, mada, moha, dan mǎtsarya). Mǎtsarya adalah sifat dengki dan iri hati.
    Ciri-ciri sifat dengki dan iri hati adalah tidak se- nang melihat atau men- dengar seseorang meng- alami kesukaan atau kebahagiaan. Namun se- baliknya, orang itu se- nang kalau mendengar tetangga/orang lain men- dapat kesedihan, musi-
    bah, dan sebagainya. Si-fat dengki dan iri hati bukan saja kurang sim-patik tetapi tidak baik. Oleh karena itu, hilangkanlah sifat dengki dan iri hati supaya secara berangsur kita mendapatkan kesucian diri dalam mencapai kehidupan yang lebih bahagia. Demikianlah sepuluh hal yang menyebabkan manusia tersesat dan jatuh ke neraka. Sadarilah hal tersebut dan hindari dasa mala itu sehingga tujuan kita untuk mewujudkan moksartham jagadhita ya ca iti dharma dapat terwujud. Adapun caranya sangat sederhana, yaitu dengan berbuat baik, kurangi ke- terikatan terhadap benda-benda duniawi, tumbuhkan rasa kasih sayang kepada sesama, serta tidak mementingkan diri sendiri. Usahakanlah membuat orang lain bahagia, seperti tersurat dalam kitab Nitisastra 1.4 sebagai berikut:

Pada zaman kaliyuga ini, dasa mala tumbuh dengan suburnya di hati manusia. Hal ini dapat kita lihat dalam masyarakat, begitu banyaknya kejahatan-kejahatan yang terjadi. Tindak kejahatan terjadi akibat dari sangat kurangnya pengendalian diri, keterikatan terhadap benda-benda duniawi yang begitu besar, sehingga sering tanpa disadari merugikan orang lain. Banyak orang mencari popularitas dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Hal ini menunjukkan manusia sudah diliputi oleh dasa mala terutama Leja (pikiran gelap, bernafsu besar, dan gembira melakukan kejahatan). Con- toh peristiwa yang terbaru sekarang seperti tawuran, pelecehan seksual, dan perampokan.


Di era reformasi ini, orang mulai bebas berbicara, sering berkata sem- barangan, saling mencaci maki, dan memfitnah. Hal-hal tersebut dapat me- nimbulkan akibat yang fatal, seperti rumah dibakar dan terbunuhnya orang lain. Tidak jarang ada pula orang yang berkata manis namun hatinya sepahit empedu. Artinya bahwa apa yang dikatakan bohong belaka dan kata manis yang diucapkan hanyalah sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok.
Akibat dari keterikatan diri terhadap benda-benda duniawi, banyak orang mulai menghalalkan segala cara untuk memuaskan diri, seperti melakukan penipuan, pemerasan, dan perampokan. Hasil kejahatan tersebut tidak jarang dipergunakan untuk berfoya-foya, mabuk-mabukan, atau membeli obat- obatan terlarang. Pelanggaran hak asasi manusia sering kali terjadi. Orang tidak lagi menghormati orang lain, banyak siswa tidak lagi hormat kepada guru. Banyak anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya dan pelecehan seksual sering terjadi. Berita televisi setiap hari menayangkan orang-orang yang terlibat tindak kriminal, seperti perampokan, pemerkosaan, dan lain sebagainya. Orang-orang yang terlibat perdagangan obat-obat terlarang yang sulit diselesaikan seperti patah satu tumbuh seribu. Pembunuhan terjadi di mana-mana, sepertinya sudah menjadi pemandangan yang biasa. Hak azasi

manusia sudah tidak dihargai lagi bahkan sering diinjak-injak. Banyak manusia tidak lagi memikirkan etika, sopan santun, dan tata krama. Di zaman kaliyuga ini artha diagung-agungkan, seolah-olah artha menduduki tingkat pertama dan merupakan segala-galanya, seperti disebutkan di dalam kitab Nitisastra
IV. 7 sebagai berikut:

Sloka tersebut menggambarkan tentang kehidupan manusia pada zaman kaliyuga yang dikuasai oleh dasa mala, pikirannya diliputi oleh avidya se- hingga sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Untuk menghindari dasa mala caranya sangat sederhana yaitu: dengan berbuat baik, kurangi keterikatan terhadap benda-benda duniawi, tumbuhkan rasa kasih sayang pada sesama, serta tidak mementingkan diri sendiri dan mengasihi alam sekitar. Serta hal yang terpenting adalah selalu mengusahakan diri sendiri untuk mengikuti aturan yang ada dalam kitab suci Veda dan mematuhi aturan negara yang berlaku demi mencapai kebahagiaan lahir dan batin.

Kisah dalam cerita Ramayana (Ǎracyakǎcaa)


Ǎracyakǎcaa adalah kitab ketiga epos Rǎmǎyana. Dalam kitab ini diceritakanlah bagaimana sang Rǎmǎ dan Laksamana membantu para tapa di sebuah asrama mengusir para raksasa yang datang mengganggu. Selama masa pembuangan, Laksmana membuat pondok untuk Rǎmǎ dan Sitǎ. Ia juga melindungi mereka di saat malam sambil berbincang-bincang dengan para pemburu di hutan. Saat menjalani masa pengasingan di hutan, Rǎmǎ dan Laksmana didatangi seorang rakshasi bernama Surpanaka. Ia mengubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik dan menggoda Rǎmǎ dan Laksmana. Rǎmǎ menolak untuk menikahinya dengan alasan bahwa ia sudah beristri, maka ia menyuruh agar Surpanaka membujuk Laksmana, namun Laksmana pun menolak. Surpanaka iri melihat kecantikan Sitǎ dan hendak membunuhnya. Dengan sigap Rǎmǎ melindungi Sitǎ dan Laksmana mengarahkan pedangnya kepada Surpanaka yang hendak menyergapnya. Hal itu membuat hidung Surpanaka terluka. Surpanaka mengadukan peristiwa tersebut kepada kakaknya yang bernama Kara. Kara marah terhadap Rǎmǎ yang telah melukai adiknya dan hendak membalas dendam.


Dengan angkatan perang yang luar biasa, Kara dan sekutunya menggempur Rǎmǎ, namun mereka semua gugur. Akhirnya Surpanaka melaporkan ke- luhannya kepada Rǎvana di Kerajaan Alengka. Surpanaka mengadu kakaknya sang Rǎvana dan memprovokasinya untuk menculik Dewi Sitǎ yang katanyasangat cantik. Sang Rǎvana pun pergi diiringi oleh Marica. Marica menyamar menjadi seekor kijang emas yang menggoda Dewi Sitǎ. Dewi Sitǎ tertarik dan meminta Rǎmǎ untuk menangkapnya.
Pada suatu hari, Sitǎ melihat seekor kijang yang sangat lucu sedang melompat-lompat di halaman pondoknya. Rǎmǎ dan Laksmana merasa bahwa kijang tersebut bukan kijang biasa, namun atas desakan Sitǎ, Rǎmǎ memburu kijang tersebut, sementara Laksmana ditugaskan untuk menjaga Sitǎ. Dewi Sitǎ ditinggalkannya dan dijaga oleh Laksamana. Rǎmǎ pun pergi memburunya, tetapi si Marica sangat gesit. Kijang yang diburu Rǎmǎ terus mengantarkannya ke tengah hutan.
Oleh karena Rǎmǎ merasa bahwa kijang tersebut bukan kijang biasa, ia memanahnya. Saat Rǎmǎ memanah kijang kencana tersebut, hewan itu
berubah menjadi rak- sasa Marica, patih Sang Rǎvana dan mengerang dengan suara keras. Si- tǎ yang merasa cemas, menyuruh Laksmana agar menyusul kakak- nya ke hutan. Karena teguh dengan tugasnya untuk melindungi Sitǎ, Laksmana menolak se- cara halus. Kemudian

Sitǎ berprasangka bah- wa Laksmana memang ingin membiarkan ka-kaknya mati di hutan sehingga apabila Sitǎ menjadi janda, maka Laksmana akan menikahinya. Mendengar perkataan Sitǎ, Laksmana menjadi sakit hati dan bersedia menyusul Rǎmǎ, namun sebelumnya ia membuat garis pelindung dengan anak panahnya agar makhluk jahat tidak mampu meraih Sitǎ. Garis pelindung tersebut bernama Laksmana Rekha, dan sangat ampuh melindungi seseorang yang berada di dalamnya, selama ia tidak keluar dari garis tersebut.
Saat Laksmana meinggalkan Sitǎ sendirian, rakshasa Rǎvana yang me- nyamar sebagai seorang brahmana muncul dan meminta sedikit air kepada Sitǎ. Karena Rǎvana tidak mampu meraih Sitǎ yang berada dalam Lakshmana Rekha, maka ia meminta agar Sitǎ mengulurkan tangannya. Pada saat tangan Rǎvana memegang tangan Sitǎ, ia segera menarik Sitǎ keluar dari garis

pelindung dan menculiknya. Laksmana menyusul Rǎmǎ ke hutan, Rǎmǎ terkejut karena Sitǎ ditinggal sendirian. Ketika mereka berdua pulang, Sitǎ sudah tidak ada. Di tengah perjalanan Rǎvana bertemu dengan seekor burung sakti sang Jatayu, tetapi Jatayu kalah dan sekarat. Di sisa hidupnya Jatayu menceritakan kisahnya tentang penculikan Sita oleh Ravana yang kemudian ia mati (Kala Subramanyam, 2003).
Berangkat dari cerita di atas, bahwa peristiwa penculikan Sita yang di- lakukan oleh Ravana dengan cara menyamar sebagai seorang brahmana. Jika dilihat dari latar belakang Ravana menculik Sita adalah karena ketertarikan dengan kecantikan dewi Sita yang merupakan istri Rama. Kejadian ini sebagai perbuatan yang mencerminkan sifat dari raksasa yang hendaknya dijauhkan karena dapat menyebabkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. Perbuatan Ravana ini jika dikaitkan dengan dasa mala adalah karena bermula dari Leja (bernafsu) dan ragastri karena melihat kecantikan Sita yang kemudian Ravana berniat untuk memiliki dewi tersebut. Kutila (pemabuk), Megata (berkata manis) dengan berkata manis kepada Dewi Sita melalui penyamarannya sebagai seorang Brahmana. Kemudian yang terakhir adalah kimburu (pencuri) yang dalam hal ini adalah berujung kepada penculikan sita oleh Ravana yang membawanya ke negaranya yaitu Alengkapura. Cerita ini sesungguhnya cerminan dari kehidupan masa kini, di mana orang sudah mementingkan diri sendiri dengan berusaha untuk menimbun segala kekayaan untuk kepentingan pribadi atau pun golongannya, dan hal-hal yang menjadi kepentingan umum seolah-olah terabaikan. Untuk itu, perbuatan seperti ini hendaknya dijauhkan agar tecipta keharmonisan di dunia ini.

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pengertian Dan Jenis-Jenis Samskara

Panca Yama Dan Nyama Brata