in

Bunuh Diri Dalam Agama Hindu

Om Swastyastu

“Tindakan bunuh diri dinyatakan “Ulah Pati”sebagai perbuatan dosa, karena bertentangan dengan ajaran Dharma. Dharma mengajarkan kepada umat manusia untuk memperbaiki kehidupan ini dari perbuatan tidak baik menjadi baik/benar. Ulah Pati sangat tidak baik untuk dilakukan apalagi usia yang masih relatif muda. Sungguh disayangkan dan sia-sialah mereka yang mengambil jalan pintas melalui bunuh diri”

gantung-diri

Tidak bias dipungkiri, bahwasanya belakangan ini kasus-kasus Bubuh Diri yang terjadi di Indonesia semakin meningkat. demikian juga yang mendera umat Hindu di berbagai daerah, mulai dari kasus yang terjadi pada anak-nanak, remaja, bahkan pada mereka yang sudah dewasa dan tua.

Bertambahnya tuntutan hidup membuat seseorang seringkali kehilangan akal sehat dan memaksanya untuk berpikir ekstra dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya, baik primer maupun sekunder, jasmani dan rohani. Dalam keadaan seperti itu bagi yang tidak kuat secara psikis, emosi, mental dan spiritual akan menjadi beban secara kejiwaan yang lambat laun menjadi depresi hingga stroke yang berkepanjangan, sehingga acakali dipecahkan dengan caranya sendiri. Ada beberapa indicator utama penyebab orang melakukan bunuh diri, seperti: masalah sosial ekonomi, asmara dan keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya suatu saat terhenti karena pikiran seakan buntu dalam keputus-asaan kemudian melakukan tindakan bunuh diri. Barangkali disinilah letak akar masalah kenapa dalam mencari solusi pemecahan masalah seseorang membuat keputusan sendiri ? Jika saja kondisi psikis, emosi, mental dan spiritual seseorang tangguh, kokoh dan kuat maka tindakan konyol seperti bunuh diri bisa dihindari. Padahal kita juga tahu dan sadar, bahwa terlahir menjadi manusia merupakan kesempatan yang amat langka. Tetapi kesadaran ini sering terabaikan. untuk itu kita perlu merenung kembali,tentang hakikat keutamaan kita sebagai manusia, seperti apa yang telah disuratkan dalam berbagai kitab Suci Weda, seperti yang termaktub dalam:

Sarasamuçcaya Sloka 2:
Manusah sarvabhutesu varttate vai çubhaçubhe Açubhesu samavistam çubhesvevavakarayet.

Artinya : Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk ; leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu ; demikianlah gunanya (pahalanya)menjadi manusia.

Sarasamuçcaya Sloka 3:
Upabhogaih parityaktam natmanamavasadayet, Candalatvepi manusyam sarvvatha tata durlabham.

Artinya : Oleh karena itu, janganlah sekali-kali bersedih hati ; sekalipun hidupmu tidak makmur ; dilahirkan menjadi manusia itu, hendaklah menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjadi manusia, meskipun dilahirkan hina sekalipun.

Sarasamuçcaya Sloka 4:
Iyam hi yoning prathama yam prapya jagatipate, Atmanam çakyate tratum karmabhih çubhalaksanaih.

Artinya : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama ; sebab demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik ; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Sarasamuçcaya Sloka 6:
Sopanabhutam svargasya manusyam prapya durlabham, Tathatmanam samadayad dhvamseta na punaryatha.

Artinya : Kesimpulannya, pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia ini, kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga untuk pergi ke sorga ; segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan.

Bhagawadgita Adhyaya II .66:
Na’sti buddhir ayuktasya,

na ca yuktasya bhawana,

Na ca bhawayatah santir,

asantasya kutah sukham

Artinya : Tidak ada pikiran yang tidak terkendalikan Tidak ada konsentrasi yang tidak terkendalikan Tidak ada ketegangan untuk tidak memusatkan pikiran yang tidak tenang, dimana kebahagiaan itu.
Sloka tadi mengisyaratkan bahwa kunci kebahagiaan adalah pikiran yang terkendali, konsentrasi yang terkendali, pemusatan pikiran, ketenangan pikiran.

Sebaliknya pikiran yang tidak terkendali ibarat perahu hanyut dalam samudra terbawa angin “Wayur nawan iwambhasi” demikian dinyatakan dalam Bhagawadgita Adhyaya II. 67.

Renungan

Secara Psikologis, manusia memerlukan media untuk melepaskan semua hal yang menyebabkannya mengalami kebuntuan berpikir jernih dan masuk akal. Susastra Weda memberikan kita arahan, untuk mengatasinya, dan diantaranya yang dapat dilakukan guna menguatkan dan menghidarkan diri dari perbuatan-perbuatan konyol seperti bunuh diri, adalah; dengan Membaca Sloka-Sloka Kitab Suci Weda dan melantunkan Nama-Nama Suci Tuhan dalam setiap kesempatan. Hal ini sangat membantu mengendalikan lamunan yang tidak perlu. karena Sloka dan atau Mantra suci Weda ibarat kata-kata mutiara yang dapat memberikan motivasi dan semangat hidup bukan sebaliknya semangat mati. Memang kematian tidak dapat dihindari jika Tuhan menghendaki. Akan tetapi manusia diberi akal seyogyanya mampu menghadapi berbagai problem atau persoalan hidup.

Untuk melepaskan diri dari persoalan/problem hidup. Ingatlah hidup didunia ini tidak sendiri dan masih banyak orang yang lebih susah dari kita bahkan keterbatasan fisik, seperti tuna netra, tuna wisma, tuna rungu, tuna daksa, yatim piatu dsb. Oleh karena itu kendalikan pikiran, besarkan hati, sucikan jiwa secara konsisten dengan mengisi kegiatan yang produktif dan berkualitas baik kegiatan rohani maupun kegiatan duniawi.

NEPAL GANTUNG DIRI - 1.jpg

Kiat Pencegahan Tindakan Bunuh Diri.

Sebelum terjadi tindakan bunuh diri perlu diupayakan kiat pencegahan khususnya dalam perspektif Hindu :

1. Kiat Pembinaan Rohani:

  1. Sembahyang secara rutin dengan kesadaran sendiri
  2. Membaca kitab-kitab suci Weda terutama kata-kata mutiara yang dapat membangkitkan semangat hidup.
  3. Menerima hidup ini dengan ikhlas sebagai karma wasana.
  4. Sabar, jujur dan bersyukur.
  5. Tidak melupakan orang tua.
  6. Mengasihi seluruh keluarga

2. Kiat Pembinaan Fisik:

  1. Berolah raga secara teratur.
  2. Makan makanan dan minum minuman yang sehat sesuai kebutuhan

3. Kiat pembinaan Sosial Kemasyarakatan:

  1. Komunikasi secara intens dalam pergaulan social.
  2. Memenuhi kebutuhan hidup sesuai kemampuan
bubuh-diri

Simpulan

  1. Tindakan bunuh diri bisa menimpa siapa saja, jika tidak kuat mengendalikan diri terutama mengendalikan pikiran maka bisa terjebak dalam kebingungan.
  2. Semua orang punya problem atau persoalan hidup bahkan mungkin lebih berat problem yang dihadapi orang lain dibandingkan dengan problem kita sendiri. Dengan menyadari ini, maka akan terlepas dari rasa rendah diri dan putus asa.
  3. Para Ketua Banjar, PHDI, Sesepuh hendaknya lebih intens dalam komunikasi sosial dengan warganya sehingga lebih mengenal secara mendalam dan terjadinya hubungan yang akrab, dengan memerankan diri sebagai Bapak, sebagai Guru, sebagai Teman dan Sahabat.
  4. Pembinaan Rohani Hindu dijadikan landasan dalam pembinaan umat Hindu secara berkesinambungan.Demikian uraian singkat pokok-pokok pikiran agama Hindu sebagai upaya pencegahan dalam menanggapi kejadian tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh masyarakat baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua. Semoga bermanfaat bagi kita semuanyaOm Santih Santih Santih Om

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mantra Sehari Hari Agama Hindu Beserta Artinya

DANG HYANG NIRATHA