in

Bentuk Penerapan Bhakti Sejati dalam Kehidupan

Bentuk Penerapan Bhakti Sejati dalam Kehidupan

Kesadaran yang dilakukan oleh umat sedharma secara arif dan bijaksana
sesuai dengan aturan; keimanan, kebajikan, acara keagamaan dan aturan etika
serta moralitas yang berlaku umum kehadapan Tuhan Yang Maha Esa “Sewaka
Dharma” ini sangat dibutuhkan dewasa ini. Karena perkembangan dan kemajuan
jaman “era global” telah mampu mengubah paradigma seseorang secara cepat.
Sangat berbahaya untuk perkembangan moral umat, apabila yang bersangkutan
belum mempersiapkan dirinya secara total untuk menghadapi era itu. Tidak
sedikit di antara mereka gagal untuk itu, hal ini dapat dipadukan dengan perilaku
nekat, jahat, dan anarkis dari mereka yang semakin berkembang belakangan ini.
Memberikan pujian dan juga penghargaan kepada mereka yang terkontaminasi
oleh pengaruh negatif era globalisasi ini sering gagal, karena orang yang kita
puji mungkin merasa “rendah” ketika mereka gagal, tidak melakukan seseuai
dengan harapan, atau ketika mereka melakukan hal-hal di luar kekuatan mereka.
Dalam hal ini, orang yang kita puji cenderung mempertanyakan nilai kualitas diri
mereka. Oleh karena itu, perlu selektif sehingga apa yang dilakukan tepat guna.
Bahkan terkadang mereka mungkin mempertanyakan apakah kita akan terus
mencintai, mengasihi, menyayangi, bangga, dan sebagainya dengan mereka.
Penting bagi kita untuk memvalidasi dan memuji orang dengan kesadaran
Sewaka Dharma sehingga pujian yang dilontarkan atau diucapkan penuh dengan
pertimbangan atau wiweka dari olah rasa, olah pikir, olah kata, dan olah laku
sehingga Sewaka Dharma itu dapat berkontribusi positif terhadap pembentukan
tubuh atau fisik dan rohani masyarakat manusia secara utuh dan menyeluruh.
Bentuk-bentuk penerapan ajaran Nawa Widha Bhakti yang bagaimana penting
dilaksanakan sehingga Sewaka Dharma dalam proses perjalanannya dapat
membantu membentuk karakter atau kepribadian anak bangsa ini menjadi
berkualitas, berkepribadian, mawas diri, berbesar hati, membuka diri, dan
berbagi, santun, ramah, arif dan bijaksana, toleran, memiliki cinta kasih sayang,
harmonis.
Berikut ini dapat dipaparkan bentuk-bentuk penerapan ajaran bhakti sujati,
sebagai berikut;
a. Mendengarkan Sesuatu dengan Baik “Srawanam”
Arah gerak vertikal dari bhakti adalah umat mau dan mampu mendengar.
Dalam hal ini masyarakat hendaknya meyakini dan mendengarkan sabda-sabda
suci dari Tuhan baik yang tersurat maupun tersirat dalam kitab suci atau aturanaturan keimanan, aturan kebajikan dan aturan upacara. Tetapi penomena arah
gerak vertikal dari bhakti untuk mendengar, yang kita jumpai di tengah-tengah
kehidupan dan lingkungan keluarga serta masyarakat tidak sedikit di antara
mereka yang tidak mau mendengarkan sabda-sabda suci atau aturan-aturan
keimanan, aturan kebajikan dan aturan upacara keberagamaan. Kenyataan ini
diperkuat oleh fakta lapangan, seperti; apabila ada orang yang mewartakan
tentang ajaran kebajikan, kebenaran, kesucian, dan lain-lain tentang sabda suci
Tuhan justru yang terjadi malah ketidak pedulian, pelecehan, atau dengan kata
lain respon yang muncul menunjukan ketidak tertarikan dengan pewartaan itu.
Contoh kecil saja; di sebagian banyak orang tidak mau mendengar atau bahkan
mengantuk apabila ada ceramah-ceramah agama baik itu di tempat-tempat suci
atau pewartaan melalui media cetak dan eletronik yang lain. Tetapi kalau ada
pewartaan/tayangan sinetron tentang gosip, fitnah, kekerasan, diskriminasi, dan
yang lainnya justru menjadi sebuah konsumsi bagaikan seorang pecandu.
Sedangkan arah gerak horizontal, bhakti untuk mendengar ini hendaknya
masyarakat dalam hidup dan kehidupannya selalu menanamkan rasa bhakti
untuk mau belajar mendengarkan nasihat dan menghormati pendapat orang lain
serta belajar untuk menyimak atau mendengarkan pewartaan tentang sesamanya
dan lingkungannya. Tetapi penomena yang sering terjadi tidak sedikit juga
masyarakat kita yang tidak peduli dan tidak belajar serta menghormati nasehat
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 243
dan pendapat orang lain, serta tidak peduli dan tidak mau belajar untuk menyimak
berita-berita tentang tragedi kemanusiaan dan kerusakan lingkungan. Padahal
dalam hidup ini untuk mewujudkan cita-cita atau visi-misi hidup hendaknya
dimulai dengan adanya kemauan dan kesadaran untuk mendengar.
Pengetahuan, pemahaman dan pendalaman tentang berbagai hal hasil dari
mendengar dapat dijadikan konsep dasar untuk menata hidup dan kehidupan
di dunia ini yang kemudian ditindaklanjuti dengan berupaya untuk berbuat
atau mencari solusi yang terbaik dalam mengambil sebuah tindakan akan
kemanusiaan/sesama dan lingkungan. Contoh; di lingkungan keluarga antara
anggota keluarga semestinya selalu menanamkan sifat dan rasa bhakti untuk
selalu saling mendengar baik antara saodaranya, suami dan istri, antara orang
tua dan anak. Mereka hendaknya selalu membangun komunikasi aktif sehingga
dapat mengurangi terjadinya miskomunikasi di antara anggota keluarga.
Sifat dan sikap ini akan dapat menumbuhkan karakter Ketuhanan di
lingkungan keluarga itu, seperti; sifat, sikap dan karakter saling hormatmenghormati, sujud, cinta kasih sayang, pengabdian, pelayanan, berfikir yang
baik dan suci, berkata yang baik dan suci, berbuat yang baik dan suci serta
teguh dalam melaksanakan disiplin spiritual. Sifat dan sikap individu seperti
itu akan dapat dijadikan sebagai modal sosial untuk menciptakan kesalehan dan
keharmonisan sosial antara keluarga, antar sesama anggota masyarakat. Sifat,
sikap dan karakter individu yang selalu belajar untuk membuka diri mendengar
nasihat, pendapat orang lain atau apa yang diwacanakan orang lain adalah
sebuah sifat, sikap dan karakter insklusif yaitu sebuah sifat, sikap dan karakter
membuka diri secara tulus ikhlas untuk mau mendengarkan kebenaran dari
244 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
orang lain, karena dalam diri ada kebenaran tetapi di luar diri juga masih banyak
kebenaran yang belum diketahui.
Untuk itu pesan yang ingin disampaikan melalui bhakti dengan jalan
mendengar ini adalah dalam hidup ini masyarakat kita agar selalu berupaya
membudayakan untuk mendengar, baik mendengar secara vertikal antara manusia
dengan Tuhan-nya melalui sabda-sabda sucinya, maupun secara horizontal antar
sesamanya dengan lingkungannya. Karena baik mendengar ataupun memberi
pendengaran atau pewartaan apabila sama-sama dilandasi dengan rasa bhakti,
maka semua akan mendapat hasil (pahala) yang baik atau paling tidak dapat
manfaat dari bhakti mendegar ini. Iklim saling bhakti mendengar ini sangat
dibutuhkan oleh masyarakat kita yang di awali dengan memulainya dari
lingkungan keluarga selanjutnya ditumbuh kembangkan secara harmonis dan
dinamis dalam kehidupan sosial masyarakat di lingkungan masyarakat sosial
yang lebih luas.
Srawanam, dalam bagian Nawa Wida Bhakti yang pertama ini kalau kita kaji
artinya adalah “mendengar”. Di mana maksudnya di sini adalah mendengarkan
ajaran atau cerita suci kerohanian. Kitab suci veda menjelaskan sebagai berikut;
“Adhyeûyate ca ya imaý
dharmyaý saývàdam àvayoá,
jñana-yajñena tenàham
iûþah syàm iti me matiá.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 245
Terjemahan:
Dan, yang akan mempelajari percakapan suci kami berdua, oleh dialah
Aku dipuja dengan yajna pengetahuan, itulah keyakinan-Ku’ (Bhagawagita
XVIII.70).
Selanjutnya Bhagawadgita XVII.71 menjelaskan bahwa; mereka yang
mempelajari percakapan suci kami berdua, walaupun hanya sekedar mendengar,
ia mencapai dunia kebahagiaan. Demikian dinyatakan bahwa jika umat manusia
mengaplikasikan srawanam pada kehidupannya saat ini dengan disadari maupun
tak disadari mereka akan mencapai dunia kebahagian lahir bhatin. Kebahagiaan
di sini artinya dengan hanya mendengarkan saja tentang cerita dan ajaran suci
tentang Tuhan kita akan memperoleh perasaan yang berbeda, entah itu tenang,
lega maupun perasaan indah lainnya. Kekawin Ràmàyana menjelaskan sebagai
berikut;
Mwang satya ta sira mojar,
Ring anakkébi towi tan mresawàda,
Nguni-nguni yan ri para jana,
Priyahita sojar niràtiúaya.
Terjemahannya:
Dan lagi jujur baginda bersabda, kepada orang perempuan sekalipun baginda
tidak berbohong, apalagi kepada orang lain, sangat menawan hati semua sabda
baginda luar biasa (Kw. R¢m¢yana Sargah I.6).
246 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
Itulah yang dimaksud dengan kebahagiaan melalui “Srawanam.” Contoh
penerapannya yang umum sudah berjalan kita bisa lihat adalah seperti
misalnya, Dharmawacana Keagamaan, Kelas-kelas di asram-asram setelah
persembahyangan dan yang lainnya.
b. Bersyukur (mensyukhuri atas anugrah-Nya) “Vedanam”.
Dalam ajaran ini Vedanam berarti bagaimana cara kita bersyukur terhadap
keberadaan diri kita. Maksudnya di sini, kita hidup di dunia ini adalah sebagai
ciptaan Tuhan yang lahir karena karma yang kita buat terdahulu. Umat Hindu
telah meyakini hal tersebut. Jadi, bagaimanapun keadaan kita dilahirkan di
bumi ini, kita harus tetap bersyukur dan bhakti kepada-Nya. Kita anggap apa
saja yang kita miliki, kita punya, nikmati dan lain-lain, itu semua adalah atas
karunianya. Sehingga jika semua umat menyadari hal ini yaitu ajaran Vedanam,
niscaya kehidupannya yang dijalani akan terasa indah dan tanpa beban. Kekawin
R¢m¢yana menjelaskan sebagai berikut:
Ndan kita pi sarabhàran ràkûang sakala jagat,
Ksatriyawinaya yékà ràkûan katuturakén,
úàsana ya gégén tang úàstra d-wulati lanà,
Sojaring aji tótén yékà mawa kasukan.
Terjemahannya:
Kamu, kakanda serahi menjaga seluruh Negara, kebijaksanaan sebagai
seorang kesatria hendaknya pegang teguh, ingatkan! Peraturan, hukum harus
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 247
diikuti ajaran kitab-kitab agama diperhatikan selalu, apa yang diajarkan oleh
ilmu pengetahuan supaya diikuti karena semuanya itu membawa kebahagiaan
(Kw. R¢m¢yana Sargah III.53).
Ingat kita terlahir menjadi manusia adalah utama, yang artinya kita bisa
memperbaiki dan menyelamatkan diri kita sendiri dari perputaran kelahiran
kembali/punarbhawa.
c. Menembangkan, Melafalkan, Menyanyikan Gita/Kidung
“Kirtanam”.
Gambar 4.5 Geguntangan
Sumber ; Dok. Pribadi (11-7-2013)
Kirtanam, adalah bhakti dengan jalan melantunkan Gita (nyayian atau
kidung suci memuja dan memuji nama suci dan kebesaran Tuhan), bhakti ini
juga di arahkan menjadi dua arah gerak vertikal maupun arah gerak horizontal.
Arah gerak vertical melakukan bhakti kirtanam untuk menumbuhkan dan
248 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
membangkitkan nilai-nilai spiritual yang ada dalam jiwa setiap individu
manusia, dengan bangkitnya spiritual dalam setiap individu akan dapat meredam
melakukan pengendalian diri dengan baik, jiwa lebih tenang, tenteram dan
tercerahi, sistuasi dan kondisi ini akan dapat membantu keluar dari kekusutan
mental dan kegelapan jiwa. Sehingga dapat dijadikan modal dasar untuk
menciptakan kesalehan dan keharmonisan individual yang damai dan bahagia.
Demikianlah bahagia perasaan hati Úri R¢ma menikmati keindahan
lingkungan gunung Swela yang ditumbuhi oleh berbagai macam kembang dan
suara kidung/gambelan yang merdu mengantarkan pendengarnya semakin dekat
dengan para dewata.
Arah gerak horizontal masyarakat manusia berusaha selalu untuk
melantunkan bhakti kirtanam yang dapat menyejukan perasaan hati orang lain
dan lingkungannya. Kepada sesama atau anggota masyarakat yang lainnya tidak
hanya melantunkan atau melontarkan kritikan dan cemohan tetapi selalu belajar
untuk melatih diri untuk memberikan saran, solusi yang terbaik bagi kepentingan
bersama dalam keberagamaan, kehidupan sehari-hari tentang kemanusiaan,
kebersamaan, persatuan dan perdamaian, serta memberikan pengakuan dan
penghargaan atau pujian akan keberhasilan dan prestasi yang telah dicapai
terhadap sesama atau anggota masyarakat manusia yang lain. Iklim saling bhakti
Kirthanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang penanaman
nilai-nilai bhakti Kirthanam diawali di lingkungan keluarga sebagai modal dasar
guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial
kemasyarakatannya.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 249
Jika kita artikan kata Kirtanam itu adalah “menyanyikan/melantunkan”.
Ini maksudnya, menyanyikan/melantunkan kidung suci yang sarat dengan
nama-nama Tuhan. Di jaman sekarang ini jarang kader muda khususnya kader
muda Hindu yang mau melaksanakan ajaran kedua dari Nawa Wida Bakti ini,
jangankan menyanyikan/melantunkan, mendengarkan saja pun para muda-mudi
sekarang jarang mau untuk mengikutinya.
d. Selalu Mengingat Nama Tuhan “Smaranam”
Smaranam, adalah bhakti dengan jalan mengingat. Arah gerak vertikal
dari bhakti ini adalah dalam menjalani dan menata kehidupan ini masyarakat
manusia sepatutnya selalu melatih diri untuk mengingat, mengingat nama-nama
suci Tuhan dengan segala Kemahakuasaan-Nya, dan selalu untuk melatih diri
untuk mengingat tentang intruksi dan pesan atau amanat dari sabda suci Tuhan
kepada umat manusia yang dapat dijadikan sebagai pedoman atau pegangan
hidup dalam hidup di dunia dan di alam sunya (akhirat) nanti.
Arah gerak secara horizontal dari bhakti ini apabila dikaitkan dengan
isu-isu pluralisme, kemanusiaan, perdamaian, demokrasi dan gender maka
sepatutnya masyarakat manusia selalu berusaha untuk mengingat kembali
tragedi dan penderitaan kemanusiaan, musibah dan bencana alam, dan lain-lain,
yang diakibatkan oleh konflik-konflik atau pertikaian, kesewenang-wenangan,
diskriminasi, dan tindakan kekerasan yang lainnya antara individu yang satu
dengan individu yang lain ataupun antara kelompok yang satu dengan kelompok
yang lain yang tidak atau kurang memahami dan menghargai indahnya sebuah
kebhinekaan dan pluralisme.
250 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
Harapannya dengan mengingat tragedi, penderitaan, musibah dan bencana
yang diakibatkan itu masyarakat manusia selalu mewartakan dan mengingatnya
sebagai bekal untuk mengevaluasi dan merefleksi diri akan indahnya
kebhinekaan dan pluralisme apabila masyarakat manusia mampu mengemasnya
dalam satu bingkai yaitu bingkai kebersamaan, persatuan dan kedamaian. Iklim
saling bhakti Smaranam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang
ditanamkan diawali di lingkungan keluarga sehingga tumbuh karakter Ketuhanan
dalam setiap anggota keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan
dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya. Kekawin
R¢m¢yana menjelaskan sebagai berikut:
Hàh natha t hér kami pinaka hulun,
Tonén tàtah pranata mami kabéh,
Làwam pamrih mami ya wulatana,
Panglingganté hati mami malilang.
Terjemahannya:
Oh, Sri Baginda! Nantikanlah kami abdi Sri Baginda, Sri Baginda silakan
lihat sujud kami, lagi pula lihatlah ketekunan usaha kami, hanya Sri Baginda
yang kami semayamkan dalam lubuk hati yang tulus (Kw. R¢m¢yana Sargah
XXI.114).
Demikian Sang Sugriwa sebagai hamba Úri R¢ma berjanji dengan tulus
untuk menghabisi musuh-musuhnya yang selalu membuat bencana dalam
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 251
mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini. Sang Sugriwa selalu
mengingat janjinya itu sampai kelak kepada jungjungannya. Sang Sugriwa yakin
hidupnya tanpa makna bila tidak dapat menghamba atau sebagai abdi setia Úri
R¢ma.
Smaranam artinya “mengingat nama Tuhan”. Jika kita kaji secara lebih
jelasnya Smaranam ini merupakan ajaran suci yang wajib untuk umat beragama
yang meyakini akan adanya sang pencipta “Tuhan”, di mana dalam ajaran ini
kita di harapkan agar biasa terhubung, dekat dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa,
dan mengingat nama-Nya, mengingat kebesaran-Nya, dan kemulian-Nya. Ini
bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan cara berbhakti
kepada-Nya. Banyak jalan untuk melaksanakan bhakti kita kepada Tuhan,
contoh kecil saja hanya dengan mengingat-Nya setiap saat, itu sudah aplikasi
dari bhakti kita kehadapan-Nya.
e. Menyembah, Sujud, Hormat di Kaki Padma “Pada sevanam”
Pada sevanam artinya “melayani”. Dalam artian bagaimana cara kita
melayani mahkluk lain. Pada sevanam meyakini bahwa mahkluk lain yang ada
ini adalah sebagai perwujudan Tuhan. Misalkan saja jika kita dapat melayani
orang lain baik itu orang yang lagi sakit, tertimpa musibah, dan orang yang lagi
membutuhkan sebuah pertolongan, itu sudah disebut dengan Pada sevanam.
Dalam kehidupan ini masih ada orang yang belum bisa dan belum dapat
mengaplikasikan ajaran Nawa Wida Bakti yang di sebut dengan Pada sevanam
ini. Kekawin R¢m¢yana menjelaskan sebagai berikut:
252 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
Nà ling sang wànarapati sumahur,
Wét ni satyé hati nira malilang,
Tàtan linggàr ikanang angén angén,
Tan tréûóéng jìwita satiru-tirun.
Terjemahannya:
Demikian jawaban Sang Sugriwa, didorong oleh pikiran yang tulus setia,
imannya sangat teguh tidak berubah, tidak sayang kepada jiwa, patut dipakai
contoh (Kw. R¢m¢yana Sargah XXI.121).
Pada sevanam, adalah bhakti dengan jalan menyembah, sujud, hormat di
Kaki Padma. Arah gerak vertikal dalam bhakti ini masyarakat manusia dalam
menjalani dan menata kehidupannya sepatutnya selalu sujud dan hormat kepada
Tuhan, hormat dan sujud terhadap intruksi dan pesan/amanat dari hukum Tuhan
(rtam). Arah gerak horizontal masyarakat manusia untuk selalu belajar dan
menumbuhkan kesadaran untuk menghormati para pahlawan dan pendahulunya,
pemerintah dan peraturan perundang-undangan yang telah dijadikan dan
disepakati sebagai sumber hukum, para pemimpin, para orang tua dan yang
tidak kalah penting juga hormat/sujud kepada ibu pertiwi. Dengan adanya
kesadaran untuk saling menghormati inilah kita akan bisa hidup berdampingan
dalam kebhinekaan dan pluralisme, sehingga terwujud kebersamaan, persatuan,
kesalehan dan keharmonisan sosial. Iklim saling bhakti Pada sevanam ini sangat
dibutuhkan oleh masyarakat kita sehingga sejak dini semestinya ditanamkan
untuk menumbuhkan karakter Ketuhanan di lingkungan keluarga sebagai modal
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 253
dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan
sosial kemasyarakatannya.
f. Bersahabat dengan Tuhan “Sakhyanam”
Sakhyanam, adalah tahapan atau bagian ke-8 dalam ajaran Nawa
Widha Bhakti yang artinya itu adalah,
memperlakukan pujaannya/Tuhan sebagai
sahabat dan keluarga. Di sini kalau kita cari
intinya sekali bahwa jika kita menganggap
Tuhan itu adalah teman atau keluarga, pasti
rasa hormat dan bhakti yang kita miliki
menjadi lebih besar. Ini menumbuhkan rasa
senang dan rasa memiliki yang sangat besar
terhadap-Nya. Dengan rasa senang dan rasa
memiliki Tuhan, kita akan terus menerus
setiap saat akan memuja keagungan dan
kemurahan beliau.
Kita akan merasa lebih dekat dengan-Nya, jadi jika hal ini kita aplikasikan,
Tuhan itu akan disadari selalu ada didalam kegiatan keseharian kita. Penerapan
semua jalan Nawa Wida Bhakti ini bisa menjadi proses penyatuan atau proses
kembalinya kita ke asal semula yaitu Tuhan.
Sakhyanam, adalah bhakti dengan jalan kasih persahabatan, mentaati
hukum dan tidak merusak sistim hukum. Baik arah gerak vertikal dan horizontal,
baik dalam kehidupan matrial dan spiritual (jasmani dan rohani) masyarakat
Gambar : 4.6 Mengatur Lalulintas
Sumber : http://unikahidha.
ub.ac.id/2012/07/11/
254 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
manusia agar selalu berusaha melatih diri untuk tidak merusak sistem hukum,
dan selalu dijalan kasih persahabatan. Iklim saling bhakti Sukhanyam ini sangat
dibutuhkan oleh masyarakat kita untuk menumbuhkan karakter Ketuhanan
mulai dari lingkungan keluarga dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai matra
dan sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial
dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.
g. Berpasrah Diri Memuja Para Bhatara-Bhatari dan Para Dewa
sebagai Manifestasi Tuhan “Dahsyam”
Berpasrah diri di hadapan para bhatara-bhatari sebagai pelindung dan para
dewa sebagai sinar suci Tuhan untuk memohon keselamatan dan sinarnya di
setiap saat adalah sifat dan sikap yang sangat baik. Dahsyam, adalah bhakti
dengan jalan mengabdi, pelayanan, dan cinta kasih sayang dengan tulus ikhlas
terhadap Tuhan.
Arah gerak vertikal dari bahkti ini masyarakat manusia dalam menjalani dan
menata kehidupannya, untuk selalu melatih diri dan secara tulus ikhlas untuk
menghaturkan mengabdikan, pelayanan kepada Tuhan, karena hanya kepada
Beliaulah umat manusia dan seluruh sekalian alam beserta isinya berpasrah diri
memohon segalanya apa yang diharapkan untuk mencapai kebahagian di dunia
dan di akhirat.
Arah gerak horizontal masyarakat manusia kepada sesama dan lingkungan
hidupnya untuk selalu mengabdi, memberikan pelayanan dan cinta kasih sayang
dengan tulus ikhlas untuk kepentingan bersama tentang kemanusiaan, kelestarian
lingkungan hidup dan kedamaian di tengah-tengah kehidupan masyarakat,
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 255
berbangsa dan bernegara. Iklim saling bhakti Dasyam ini sangat dibutuhkan oleh
masyarakat manusia baik di lingkungan keluarga lebih-lebih di kehidupan sosial
kemasyarakatannya. Kekawin R¢m¢yana menjelaskan sebagai berikut:
Hé Madhusódanàmriha bhaþàra haywa malupa,
Wiûóu awakta jàti puruûottamottama kita,
Satwa ya satya nitya ri [y] awakta tan dadi hilang,
Moha karih hanà tuwi rajah tamah pwa kawaúa.
Terjemahannya:
Oh, Dewa Wisnu sadarlah Engkau jangan lupa! Engkau adalah perwujudan
Dewa Wisnu manifestasi Dewa Purusottama, Dharma dan kesetiaan itu abadi
yang ada pada tubuh-Mu tidak boleh hilang, kendati mungkin ada pikiran
yang bingung demikian pula sifat angkara murka semua sudah dikuasai (Kw.
R¢m¢yana Sargah XXI.126).
Dahsyam artinya menganggap pujaannya sebagai tamu, majikan dan kita
sebagai pelayan. Dahsyam meyakini bahwa tamu yang hadir di hadapannya atau
yang ada ini adalah sebagai perwujudan Tuhan. Di dalam menempuh kehidupan
yang tentunya sangat utama ini, jika kita tidak menyadari “Dahsyam”, sepertinya
rasa bhakti yang kita miliki terhadap-Nya itu sangat kecil dan hanya seberapa
saja. Mestinya jika kita yakin bahwa kita adalah ciptaan-Nya, kita juga harus
bisa menyadari Tuhan itulah yang harus kita layani dan sembah. Pelayanan tulus
iklas dengan perasaan tunduk hati kepada Tuhan pahalanya sangat besar. Mulai
saat ini kita harus yakin bahwa apapun yang kita kerjakan dan apapun yang
256 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
kita miliki itu semua adalah atas kuasa Tuhan itu sendiri. Jadi, dengan jalan
bhakti terhadap-Nya kita bisa melakukan Pelayanan yang bersifat rohani. Seperti
misalnya contoh umum kita lihat pada asram-asram pemujaan Tuhan itu sendiri
dalam wujud personifikasi yang diyakini sebagai personalitas tertinggi Tuhan,
yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang melakukan Pelayanan dan
mempelajari Kitab Sucinya. Kalau bisa kita telusuri Pelayanan bhaktinya sangat
tinggi terhadap Arca, Guru Kerohanian, Penyembah Tuhan dan lain-lain. Itulah
perlu kita tingkatkan pada masa hidup di Zaman Kaliyuga ini.
h. Memuja Tuhan dengan Sarana Arca “Arcanam”.
Arcanam, adalah bhakti dengan jalan penghormatan terhadap simbol-simbol
atau nyasa Tuhan seperti membuat Pura, Arca, Pratima, Pelinggih, dan lain-lain,
bhakti penguatan iman dan taqwa, menghaturkan dan pemberian persembahan
terhadap Tuhan.
Arah gerak vertikal masyarakat manusia dalam menjalani dan menata
kehidupannya untuk selalu menghaturkan dan menunjukan rasa hormat, sujud,
cinta kasih sayang, pelayanan, pengabdian kepada Tuhan dengan iman dan
taqwa kuat dan teguh dengan jalan menghaturkan sebuah persembahan sebagai
bentuk ucapan terima kasih atas tuntunan, bimbingan, perlindungan, kekuatan,
kesehatan dan setiap anugrah yang diberikan Tuhan kepada seluruh sekalian
alam.
Arah gerak horizontal masyarakat manusia terutama kepada sesama dan
lingkungannya dalam kehidupannya untuk selalu belajar untuk memberikan
pelayanan, pengabdian, cinta kasih sayang, penguatan dan pemberian
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 257
penghargaan kepada orang lain. Contoh, Pemerintah, pemimpin dan atau
anggota masyarakat hendaknya memberikan pengabdian, pelayanan, cinta kasih
sayang dan penghargaan kepada pemerintah dan pemimpinnya demikian pula
sebaliknya kepada dan oleh rakyatnya yang telah menunjukan dedikasinya
tinggi terhadap segala aspek kehidupan demi kemajuan dan perbaikan situasi dan
kondisi bersama dan sekalian alam tentang kemanusiaan, kelestarian lingkungan
dan perdamaian. Karena pemimpin yang baik menghargai rakyatnya, demikian
juga sebaliknya. Iklim saling bhakti Arcanam ini sangat dibutuhkan oleh
masyarakat manusia di lingkungan keluarga dan di kehidupan masyarakat umum.
Hal ini akan dapat menumbuhkan karakter Ketuhanan mulai dari lingkungan
keluarga dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai matra dan sebagai modal
dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan
sosial kemasyarakatannya. Tentang perwujudan Tuhan, kekawin R¢m¢yana
menjelaskan sebagai berikut:
Ring nakûatra kabéh kitékana wulan ring [ng] aúwa Uccaiúrawa,
Ring sénàpati Sang Kumara rikanang widyà kitàdhyàtmikà,
Ring gandharwwa kitàta Citraratha len Prahlàda ring détyawàn,
Ring strì Úri Úmréti Kìrtti Úànti Dhreti Dhih Médhà Kûamà Wàk kita.
Terjemahannya:
Pada kelompok binatang, engkau berwujud bulan; pada rumpun kuda, engkau
Ucesrawa, pada orang yang menjadi panglima perang, engkau adalah Dewa
Kumara, pada pengetahuan batin, engkau berwujud pengetahuan kerohanian
258 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
yang tinggi, pada kelompok gandarwa, engkau berwujud Citrarata dan berwujud
Sang Prahelada pada kelompok pemimpin detia, Dewi Sri pada kelompok wanita,
pada Smerti berwujud kemasyuran, dalam hal dharma berwujud ketenangan
pikiran, dalam pikiran berwujud kebijaksanaan dan engkau berwujud pemaaf
agung (Kw. R¢m¢yana Sargah XXI.140).
Selanjutnya tentang perwujudan Úri R¢ma, kekawin R¢m¢yana XXI. 130
s.d. 139, menjelaskan sebagai berikut: Sosok pribadi Úri R¢ma; Pada segala
yang bersinar adalah matahari yang selalu berderang, pada keempat kelompok
Veda adalah Ksama Veda, pada kelompok Dewa adalah Dewa Indra, pada
jenis kesenangan adalah adalah pikiran yang utama, pada kelompok Rudra
adalah Dewa Sangkara yang menciptakan kesenangan. Pada penjelmaan Yaksa
dan Raksasa adalah Danawa, pada penjelmaan sebagai manusia dalam hal
mewujudkan jasa adalah maharaja, dalam hal ketinggian adalah Gunung Sumeru,
dalam hal kekokohan adalah Gunung Himawan, pada hal kedalaman adalah
samudra, dan dalam hal kayu adalah kayu Bodi. Pada golongan ternak adalah
Lembu (yang mengabulkan segala kehendak), pada kelompok yang terbang
adalah Garuda, dalam rumpun binatang adalah Singa, pada kelompok ikan kecil
adalah Udang, pada kelompok ikan besar adalah Dewa Baruna (rajanya ikan).
Pada semua naga adalah Anantabhoga (yang terkenal), pada rumpun ular adalah
Naga Basuki (yang masyur), pada sungai yang besar, bersih, dan suci adalah
sungai Gangga, dalam kecepatan yang selalu bergerak adalah Angin. Pada semua
tumbuh-tumbuhan adalah musim hujan, pada kedua belas musim adalah bulan
November, pada siklus enam musim adalah bulan Maret (sahabat Dewa Asmara),
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 259
dalam menciptakan dunia adalah Dewa Brahma (yang menciptakannya). Pada
kelompok roh adalah Aryama roh utama, dalam lima jenis yadnya, adalah japa
146 harma (yang sangat utama), pada bagian puja 146 harma adalah UNG Kara,
pada aksara adalah A Kara, pada keempat kelompok asrama adalah Grahasta
Asrama. Pada dharma utama yang bermanfaat tidak kurang amal, demikian
perwujudan-MU, merupakan usaha yang benar yang menyebabkan memperoleh
dana demikianlah Engkau, Karma yang mematuhi sastra agama dan kesejahteraan
dunia demekianlah Engkau, demikian pula dalam segala yang mematuhi
kebenaran perwujudan-Mu. Dalam hal rahasia adalah “Mona” (membisu), pada
orang yang gemar bertengkar adalah merupakan sumber perdebatan, pada orang
yang cerdik dalam hal upaya adalah merupakan amal perbuatan baik, pada sinar
yang utama adalah berwujud sinar, bagi orang yang menang di medan perang
adalah perwujudan kemenangan, pada orang yang sakti adalah kesaktian, bagi
orang yang bijaksana adalah merupakan sunrber pikiran. Pada pendeta yang
utama adalah Bagawan Biasa, pada pujangga besar adalah Bagawan Sukra, pada
kelompok Sida Resi adalah Resi Kapila, pada kelompok Dewa Resi adalah Resi
Narada (yang gemar menonton perang), pada Brahma Resi adalah Resi Bregu
(yang berhasil segala ucapannya). Dalam kepandaian berupaya adalah Bagawan
Wrehaspati (yang masyur), dalam hal menjatuhkan hukuman yang berat adalah
Dewa Yama, dalam segala senjata adalah berwujud senjata Bajera utama (yang
tidak ada bandingannya), dalam hal kemahiran menggunakan senjata adalah
berwujud Ràma (yang gagah perkasa tidak ada yang menandingi) (Tim, 1987 :
401-403).
260 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
Arcanam ini artinya “bhakti dengan memuja Arca”. Maksudnya di sini yakni
bhakti dengan cara memuja pratima sebagai media penghubung dan penghayatan
kepada Tuhan. Kita ketahui bersama bahwa Tuhan itu bersifat abstrak/nirguna,
susah kita menebak dan menghayalkan perwujudan Tuhan/Ida Sang Hyang
Widhi karena sesungguhnya Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi itu tak berwujud. Jadi
untuk menguatkan keyakinan kita ke hadapannya, kita diberi jalan memuja-Nya
dengan mewujudkan beliau ataupun manifestasi beliau dengan Arca. Dengan
jalan ini, jika rasa bhakti yang kita miliki untuk-Nya sangatlah besar tidak
dipungkiri lagi kita melayani dan menyembah Tuhan melalui perwujudan suci
yang disebut dengan Arca akan menjadi lebih nyata dan memberikan perasaan
rohani yang sangat dalam.
i. Berpasrah Total kepada Tuhan “Sevanam atau Atmanividanam”
Sevanam atau Atmanividanam adalah bhakti dengan jalan berlindung dan
penyerahan diri secara tulus ikhlas kepada Tuhan. Arah gerak vertikal dan
horizontal dari bhakti ini masyarakat kita selalu berpasrah diri dengan kesadaran
dan keyakinan yang mantap untuk selalu berjalan di jalan Tuhan, berlindung
dan penyerahan diri secara tulus ikhlas kepada Tuhan, sesama dan lingkungan
hidupnya atau kepada ibu pertiwi, baik dalam kehidupan duniawi (nyata)
maupun kehidupan sunya (niskala). Iklim saling bhakti Atmanivedanam ini
sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia baik dalam kehidupan sosial dan
kehidupan spiritualnya. Kekawin R¢m¢yana menjelaskan sebagai berikut:
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 261
Tuûþa manah nira Sang Trijaþasih,
Sémbahakén démakan ri naréndra,
Harûa mulat mawékas nrépa putri,
Lwir nira ngóni rikang pura Léòkà.
Terjemahannya:
Sang Trijata sangat gembira dengan hati tulus bhakti, menerima anugrah
baginda raja, Dewi Úità senang memandangnya lalu berpesan, perihal beliau
ketika tinggal di istana Lengka dahulu (Kw. R¢m¢yana Sargah XXVI.39).
Ndah Trijaþàri nihan [n] ujarang kwa,
Tàt alupà ri laranta ta ngóni,
Kàla nikàt para ring talagàróm,
Ring watu ring wulakan kita tanghyang.
Terjemahannya:
“Wahai, adinda Trijata! Kini ada yang kusampaikan, aku tidak akan
melupakan penderitaanmu pada masa silam ketika adinda menuju telaga yang
asri di atas batu, di tepi sumber mata air itu adinda memuja Hyang Widhi (Kw.
R¢m¢yana Sargah XXVI.40).
Yan hanékana kunéng ta unéngta,
Ring [ng] Asoka ta kitan suka citta,
Tulya tàku ya hanà hidépénta,
Satya nàmbéka ta nitya kitàntén.
262 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
Terjemahannya:
Jika pada suatu saat adinda merasa rindu, di taman Asokalah tempatmu untuk
menghibur diri, bayangkanlah olehmu seakan-akan aku ada di sana, hendaklah
pikiranmu selalau taat dan setia (Kw. R¢m¢yana Sargah XXVI.46).
Demikianlah Trijata berserah diri secara total kepada junjungannya
dalam pengabdian hidupnya untuk mewujudkan hidup sejahtera dan bahagia
berdasarkan ajaran bhakti sejati sesuai ajaran atmanividanam.
Atmanividanam yang artinya bhakti dengan kepasrahan total kepada Tuhan.
Tahapan ini adalah tahapan terakhir dalam ajaran suci Nawa Wida Bhakti. Dalam
perjalanan kehidupan manusia pada zaman Kali Yuga ini, jalan Atmanividanam
yang dianggap sulit untuk diaplikasikan karena kuatnya ikatan material yang
mengikat dirinya. Mulailah kita melakukan pelayanan dan mempersembahkan
apapun yang kita miliki, kita terima, nikmati dan lain-lain itu hanya untuk-Nya.
Karena hanya beliaulah yang pada akhirnya sebagai penikmat segalanya. Baik
itu adalah kebahagiaan dan penderitaan kita harus bisa mempersembahkannya
untuk-Nya.
Demikian ajaran Nawa widha bhakti sebagai bentuk ajaran bhakti sejati
dalam kehidupan umat sedharma dapat mengantarkan untuk mewujudkan
kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Berikut ini adalah paparan
ajaran nawa widha bhakti sebagai wujud bhakti sejati dalam bentuk ceritra;
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 263
MISI ANGADA
Úri R¢ma telah siap untuk memulai perang. Namun ia tetap memutuskan
untuk mengikuti aturan perang dengan ketat” Seorang utusan harus dikirim
guna mengusahakan perdamaian untuk terakhir kalinya dan jika mungkin,
untuk menghindari terjadinya perang. Maka setelah memutuskan dengan temantemannya, Úri R¢ma memutuskan untuk mengirim Angada pada Ràvana”. Ràma
kemudian memanggil pangeran muda itu dan berkata. “Nak, kau adalah pemberani
dan 148har mentaati perintahku, dan menyampaikan pesanku dengan bijaksana.
Jadi, aku memutuskan untuk mengirimmu pada Ràvana. Pergilah ke dalam
Kota dan menghadap Ràvana. Sampaikan pesan ini padanya. “Kemashyuranmu
akan segera sirna bersama kerajaanmu. Kematianmu segera menjemput karena
kurangnya kebijaksanaanmu. Kau seorang pencuri. Dosa-dosanya pada para åûi,
para dewa dan semua hamba Tuhan akhirnya akan mendapat buahnya”. Kau
mendapat pahala dari semua perbuatanmu. Tidak bisa dihindari lagi bahwa kau
harus menderita karena dosa-dosamu”. Aku datang untuk menghukummu. Karena
lancang mencuri istriku. Anugrah yang kau dapatkan dari Brahmà, sekarang
tidak ada gunanya lagi. Kesombonganmu segera ditundukkan. Kau tampaknya
sangat berani ketika memisahkan aku dengan istriku dan menculiknya ketika aku
tidak ada di tempat. Sekarang waktunya kau menunjukkan kekuatanmu padaku
dan agar aku bisa melihat keberanianmu berhadapan denganku di medan perang.
“Akan tetapi jika kau mau mengembalikan Úità padaku dan meminta
maaf padaku, maka aku bersedia mengakhiri pertarungan ini. Atau kalau
tidak, maka kau harus bertarung melawanku. Aku jamin kau, bahwa bumi ini
nanti bersih dari bangsa raksasa sepertimu, oleh tajamnya panah-panahku dan
264 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
kemarahanku. Vibhisana adalah orang baik dan ia pun berlindung padaku. Aku
nanti menjadikannya raja Laòkà setelah membunuhmu. Kau sungguh bernasib
kurang beruntung karena di antara para menterimu tidak ada yang memberikan
nasihat yang benar, maka akibatnya kau tidak dapat berumur panjang, karena kau
dikejar oleh akibat perbuatan dosamu. Bersiaplah untuk berperang. Dan jika kau
mendapatkan kematian di tanganku, maka semua dosamu nanti dibersihkan dan
kau bisa mendapatkan sebuah tempat di surga. Pandanglah Kota Laòkàmu untuk
yang terakhir kalinya dan datanglah ke medan perang? Angada, sampaikanlah
pesanku ini.”
Angada segera melompat ke angkasa, dan segera saja Angada tiba di
ruangan besar di mana Ràvana bersama para menterinya berkumpul. Angada
dengan gelang emas yang berkilau dalam sinar matahari kemudian pergi
kehadapan Ràvana dan Angada tampak seperti nyala-api. Kemudian Angada
memperkenalkan diri dan berkata, “Aku adalah utusan Úri R¢ma. Aku adalah
putra Valì, namaku Angada. Aku membawa sebuah pesan dari Úri R¢ma” Angada
kemudian mengulangi pesan Úri R¢ma dan menunggu Ràvana berbicara.
Mendengar kata-kata utusan itu, kemarahan Ràvana mulai meluap. Ràvana
memerintahkan para menterinya, “Tangkap kera yang gila ini. Siksa dia atas
kelancangannya”. Empat orang raksasa kemudian menangkap Angada yang
sengaja membiarkan dirinya ditangkap. Ketika mereka mengikatnya, maka ia pun
melompat ke udara dengan membawa keempat raksasa itu dan Angada mendarat
di atas teras istananya. Dari atas teras Angada kemudian melemparkan mereka
dan melihat keempat raksasa itu jatuh di lantai. Ia kemudian menghancukan
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 265
menara istana hingga berkeping-keping dan dengan teriakan kemenangan ia
kembali ke hadapan Úri R¢ma.
“Ràvana yang melihat hal itu terjadi amat marah atas semua yang telah
dilakukan oleh para raksasa itu namun raksasa yang bersangkutan tidak berbuat
apa-apa. Sementara itu di tempat lain, Úri R¢ma merasa telah memberikan semua
kesempatan pada Ràvana untuk berdamai namun karena Ràvana tidak mau
menerima kata-katanya, maka perangpun tidak dihindari. Perang pasti harus
terjadi.
Di tempat lain, para raksasa yang menjaga gerbang mulai melihat pasukan
vanara telah mendekat. Kebanyakan dari mereka mulai ketakutan dan ada yang
sedikit khawatir. Masing-masing siap untuk memulai peperangan. Para vanara
khususnya, bergembira dan para raksasa di lain pihak merasa tidak sabar.”
Mereka sama-sama percaya diri dan yakin dapat mengalahkan musuhnya.
Kemudian datanglah berita pada Ràvana tentang perkernbangan selanjutnya
yaitu bahwa Úri R¢ma telah memulai barisan pasukannya mendekati keempat
gerbang. Ràvana kemudian tergesa-gesa untuk memastikan keamanan Kotanya
dan dengan amarah yang sudah meluap, maka Ràvana kemudian menuju ke
atas teras istananya. Dari itu Ràvana memandangi lautan kera yang sedang
mengelilingi kotanya. Untuk beberapa saat Ràvana merasa khawatir bagaimana
caranya menghancurkan pasukan itu. Namun sifat angkuhnya menguasai
pikirannya dan Ravana memandang rendah Úri R¢ma dan pasukan yang telah
dibawanya.
Sedangakan Ràma sendiri merasa sangat senang karena Ràvana telah
memutuskan untuk berperang. Úri R¢ma juga melihat Laòkà yang dipenuhi oleh
266 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
para tentara raksasa yang ditugaskan untuk menjaga Kotanya. Pada saat itulah
pikiran Úri R¢ma melayang pada Sìtà dan iapun berpikir. “Apakah di sana ada
kekasihku Úità yang dipenjarakan. Sita telah tersia-siakan oleh kesedihannya dan
duduk di tanah lapang. Dia sedang meratapi kesedihannya atas perpisahan dengan
diriku.” Dengan hanya memikirkan Úità saja sudah cukup untuk membangkitkan
semangat perangnya. Úri R¢ma kemudian memerintahkan pasukannya untuk
memulai parusakan Laòkà. Dan begitu mendengar perintah itu, para vanara
saling pandang dan mulai berlarian menuju gerbang dan memulai peperangan.
Suara teriakan mereka menggema ke mana-mana dan sangat menakutkan bagi
mereka yang bernyali kecil. Para venara telah mempersenjatai diri mereka
dengan batu-batu besar dan batang pohon yang telah dicabut dari pegunungan
terdekat (Sanjaya, I Gede. 2004: 719-722).
-selesaiMengikuti alur ceritera di atas, maka dapat dipahami bahwa dengan
ajaran “bhakti sejati” mengantarkan Pangeran Angada dapat melaksanakan
kewajibannya dengan baik. Svami Satya Narayana mengatakan: Ketiga jalan
tersebut (bhakti, karma, jnana) bagaikan gula batu; bentuk, berat, dan penampilan
gula tersebut sangatlah berbeda, namun mempunyai kesatuan yang utuh dan
sulit untuk dibeda-bedakan. Kalau Jnanam itu tidak diwujudkan dalam bentuk
Bhakti, maka hanya tinggal didalam hati saja, Karma tanpa dilandasi dengan
Jnanam, maka karma akan ngawur tanpa arah, Jnanam dan karma tanpa bakti,
akan dapat menimbulkan arogansi dan gersang, Bhakti tanpa Jnanam dan karma
juga akan tidak menentu. Karena itu Bhakti sejati kepada Tuhan merupakan
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 267
ujung dari Jnanam dan karma. Sangat diharapkan penerapan ajaran bhakti sejati
yang tersurat dan tersirat dalam pustaka R¢m¢yana dapat dijadikan landasan
pembentukan budi pekerti luhur dalam perilaku keseharian ini. Sebelumnya
kerjakanlah soal-soal uji kompetensi berikut dengan baik!
Uji Kompetensi:

  1. Setelah membaca teks tentang bentuk penerapan ajaran bhakti sejati
    dalam kehidupan beragama Hindu, apakah yang anda ketahui tentang
    agama Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah!
  2. Buatlah ringkasan yang berhubungan dengan bentuk penerapan
    ajaran bhakti sejati dalam kehidupan beragama Hindu, dari berbagai
    sumber media pendidikan dan sosial yang anda ketahui! Tuliskan
    dan laksanakanlah sesuai dengan petunjuk dari bapak/ibu guru yang
    mengajar di kelas!
  3. Apakah yang sudah Anda ketahui terkait dengan bentuk penerapan
    ajaran bhakti sejati dalam kehidupan sehari-hari? Jelaskanlah!
  4. Bagaimana cara Anda untuk dapat mengetahui bentuk penerapan
    ajaran bhakti sejati dalam kehidupan beragama Hindu? Jelaskan dan
    tuliskanlah pengalamannya!
  5. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari usaha
    dan upaya penerapan ajaran bhakti sejati dalam kehidupan beragama
    Hindu? Tuliskanlah pengalaman Anda!
  6. Amatilah lingkungan sekitar Anda terkait dengan adanya bentuk
    penerapan ajaran bhakti sejati dalam kehidupan sehari-hari guna
    268 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    mewujudkan tujuan hidup manusia dan tujuan agama Hindu, buatlah
    catatan seperlunya dan diskusikanlah dengan orang tuanya! Apakah
    yang terjadi? Buatlah narasinya 1-3 halaman diketik dengan huruf
    Times New Roman-12, spasi 1,5 cm, ukuran kertas kwarto; 4-3-3-4!

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ajaran Bhakti Sejati

Ajaran Bhakti Sejati sebagai Dasar Pembentukan Budi Pekerti yang Luhur dalam Zaman Global