in

Ajaran Bhakti Sejati sebagai Dasar Pembentukan Budi Pekerti yang Luhur dalam Zaman Global

Ajaran Bhakti Sejati sebagai Dasar Pembentukan Budi
Pekerti yang Luhur dalam Zaman Global


Ada banyak nilai dan norma kehidupan yang mulia hilang karena terjadinya
erosi moral, krisis budaya, dan sebagainya. Masyarakat Indonesia mulai
menanggalkan tradisi-tradisi yang sesuai dengan local wisdom kita, seperti
cium tangan pada orang tua, penggunaan tangan kanan, senyum dan sapa,
musyawarah, gotong-royong, dan lain-lain. Di sini terlihat jelas bahwa budi
pekerti luhur sangat berperan penting di masyarakat. Secara umum, budi pekerti
luhur berarti memiliki moral dan perilaku yang baik dalam menjalani hidup ini.
Budi pekerti memiliki pengertian yang sangat sederhana, yaitu perilaku
(pekerti) yang dilandasi oleh pemikiran yang baik dan jernih (budi) dan sesuai
dengan local wisdom kita (luhur). Budi pekerti luhur bertujuan untuk membentuk
perilaku pribadi yang patut, baik, dan benar.

Jika, kita berbudi pekerti luhur, paling tidak jaminan yang kita dapat adalah jalan hidup kita teratur, sehingga dapat mengantar kita berkiprah ke kesuksesan hidup, kerukunan antar bermasyarakat, dan dan berada dalam koridor perilaku yang terpuji dan bermanfaat. Sebaliknya, jika kita melanggar prinsip-prinsip budi pekerti luhur, maka kita dapat mengalami banyak hal yang tidak menguntungkan.

Mulai dari hal kecil seperti tidak disenangi/dihormati orang lain, sampai hal berat seperti melakukan pelanggaran hukum yang membuat kita berakhir dengan tindak pidana.
Esensi budi pekerti luhur secara tradisional mulai ditanamkan sejak
masa kecil, baik di dalam lingkungan keluarga atau sekolah, dan berlanjut ke
lingkungan masyarakat. Di lingkungan keluarga, orang tua menanamkan budi
pekerti luhur lewat berbagai cara; membacakan dongeng, mengajarkan permainan
tradisional, dan lainnya. Berperilaku yang baik dalam sebuah keluarga sangat
mempengaruhi sikap anak nantinya. Pendidikan formal juga memiliki peran
penting. Kita dididik agar memiliki ilmu, wawasan, dan budi pekerti luhur. Kita
juga diajarkan bersosialisasi, membangun rasa kebersamaan, rasa cinta tanah
air, rasa peduli lingkungan, yang nantinya sangat bermanfaat dalam kehidupan
bermasyarakat. Budi pekerti luhur mendatangkan banyak keuntungan dalam
kehidupan bermasyarakat. Dengan menerapkannya, maka kita terbentuk menjadi
pribadi yang beretika baik, berbahasa baik, dalam meningkatkan taraf kejiwaan
dan kemajuan batiniah kita sebagai manusia.


Perenungan:
“Asmanvati riyate sam rabhadhvam
uttisthata pra tarata sakhàyah,
atra jahàma ye asan asevah
sivan vayam uttaremàbhi vàjàn.
Terjemahan:
‘Wahai teman-teman, dunia yang penuh dosa dan penuh duka ini berlalu
bagaikan sebuah sungai yang alirannya dirintangi oleh batu besar (yang dimakan
oleh arus air) yang berat, tekunlah, bangkitlah dan seberangilah ia, tinggalkan
persahabatan dengan orang-orang tercela, sebrangilah sungai kehidupan untuk
pencapaian kesejahteraan dan kemakmuran’ (Rgveda X.53.8).
Kedamaian dan ketentraman (Kerta Langu), adalah dambaan seluruh
sekalian alam baik secara komunal maupun secara individual (personal).
Maksudnya adalah dambaan akan kedamaian itu tidak hanya bagi umat
manusia, tetapi tumbuh-tumbuhan dan binatang pun memerlukan kedamaian
itu. Kemudian perlu dipahami juga bahwa kedamaian itu bukan dibutuhkan saat
ini saja, tetapi kedamaian itu dibutuhkan oleh seluruh sekalian alam baik untuk
masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Demikianlah sabda, intruksi
dan pesan dari Kitab Suci Veda yang harus kita ditindaklanjuti dengan sraddha
dan rasa bhakti (iman dan taqwa) yang mantap. Apabila dalam kehidupan ini
setiap umat manusia umumnya dan khususnya umat Hindu mampu mewujudkan
kedamaian itu, maka impian umat manusia untuk menciptakan suasana sorga di
dunia ini dapat diwujudkan.
Tetapi kenyataannya masih banyak umat manusia yang keliru memaknai
hidupnya khususnya tentang suasana alam sorgawi yang mereka dambakan
di saat alam kematian, mereka berharap masuk sorga atau menikmati suasana
alam sorgawi di saat kematian tetapi melupakan suasana alam sorgawi dalam
kehidupan nyata yaitu kehidupan saat di dunia fana ini. Padahal proses kematian
yang baik adalah “Hidup yang baik dulu, baru mati yang baik”, karena dengan
kehidupan yang baik disaat hidup dapat dijadikan modal dasar dan atau matra
untuk pencapaian kehidupan yang lebih baik disaat ini dan saat di alam akhirat.
Namun fenomena dewasa ini, ternyata ketenteraman, kesalehan,
keharmonisan dan kedamaian semakin mahal bagi sebagian besar individu atau
kelompok umat manusia dalam kehidupannya. Padahal dalam sebuah pengakuan,
hampir setiap orang di dunia ini mengakui dan diakui dirinya sebagai orang yang

beragama. Dengan status orang beragama itu mestinya secara kontinyu selalu
berupaya untuk mewujudkan kesalehan dan keharmonisan serta kedamaian
(santih) di dunia ini. Orang-orang beragama semestinya mampu memberikan
penyembuhan (konseling) terhadap dirinya dan orang lain di saat-saat mengalami
goncangan kejiwaan di mana orang-orang psikologi menyebutnya dengan
‘kekusutan mental’ akibat dari suatu masalah yang dihadapinya yaitu dengan
menggunakan ayat-ayat kitab suci dan sastra-sastra agamanya sebagai pedoman
dan tablet/kapsul yang harus diramu dan selanjutnya dikonsumsi sebagai obat
untuk menerapi psikis dirinya.


Tetapi kenyataannya tidak sedikit orang-orang beragama di belahan dunia ini
jasmani dan rohaninya tidak harmonis. Tidak sedikit pula orang-orang beragama
menciptakan suasana disharmoni, jiwanya mengalami kekusutan mental dan
paling ironis sikap dan tindakannya justru tidak mencerminkan orang-orang
beragama.
Era globalisasi masa kini menghadapkan umat manusia atau masyarakat


kepada serangkaian baru yang tidak terlalu berbeda dengan apa yang pernah
dialami sebelumnya dan bahkan kecenderungannya akan semakin berat
permasalahan hidup yang akan dihadapinya. Pluralisme agama, suku, ras, etnis,
golongan, berbagai kepentingan, dan yang lainnya adalah fenomena nyata.
Di masa-masa lampau kehidupan umat manusia relatif lebih tentEram karena
kehidupan umat manusia bagai kamp-kamp yang terisolisasi dari tantangantantangan dunia luar. Sebaliknya masa kini kemajuan zaman menyebabkan
persaingan hidup semakin ketat, pergaulan lintas etnis tidak bisa lagi dihindari,
multi kepentingan semakin beragam, dan lain lain, menyebabkan umat manusia
Dewasa ini harus pandai-pandai dan arif dalam menghadapi dan mengatasi
persoalan dalam hidupnya.
Di manapun masyarakat manusia itu berada di negara-negara di dunia ini
termasuk di Indonesia memiliki sederetan perbedaan, di luar perbedaan yang
mereka miliki dari sejak lahir. Seperti perbedaan etnis, kebudayaan, adatistiadat, agama, kepercayaan, politik, dan lain lain. Fenomena ini bukanlah
perkara mudah untuk menciptakan keharmonisan, ketertiban dan kedamaian di
dunia untuk hidup sebagai masyarakat manusia dengan sederatan perbedaanperbedaan itu, sekalipun manusia diyakini sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang
paling sempurna, apabila manusia itu sendiri tidak memiliki kepandaian, kearifan
dan kebijaksanaan dalam mengapresiasi sederatan perbedaan-perbedaan yang
ada. Kurang pandainya, ketidak arifan dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh
masyarakat kita mengapresiasi perbedaan itu merupakan beberapa faktor yang
menyebabkan di era globalisasi ini timbul berbagai konflik baik konflik individu
(personal) maupun konflik komunal (kelompok).


Konflik individu misalnya; masih banyak orang stress atau mengalami
gonjangan kejiwaan (kekusutan mental) dan kasus bunuh diri akibat tidak
mampu mengatasi persoalan-persoalan dan tantangan hidup dan kehidupan yang
dialami, dan lain sebagainya. Konflik komunal (kelompok) misalnya; timbulnya
konflik horizontal antara masyarakat manusia yang satu dengan masyarakat
manusia lainnya yang terjadi di belahan dunia yang mana setiap hari selalu
mewarnai dan menghiasi pemberitaan meda cetak dan elektronik seperti di
antaranya konflik antara anak dan orang tua, antara istri dengan suami, antara

individu manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, kelompok manusia
satu dengan kelompok manusia yang lainnya tentang diskriminasi, kekerasan,
pelecehan, ketidak-adilan, dan sebagainya tetang berbagai macam hal.
Selanjutnya konflik yang disebabkan oleh penanaman ajaran-ajaran dan
doktrin-doktrin yang ekskulisivisme dan sempit, sehingga tidak sedikit masyarakat
manusia seperti itu badannya dipasung, terkungkung, dan mengabaikan
kebenaran serta menutup diri untuk menerima perbedaan dan kebenaran orang
lain baik itu perihal etnis, kebudayaan, adat-istiadat, agama, kepercayaan,
politik, dan sebagainya juga semakin marak terjadi dewasa ini. Kemudian faktor
yang lain juga disebabkan pula oleh karena dewasa ini kecenderungan bagi tidak
sedikit orang lebih mengejar dunia matrial atau kemewahan duniawi ketimbang
dunia spiritual. Ketidak seimbangan itu menyebabkan degradasi moral semakin
meningkat, sikap dan karakter-karakter Ketuhanan pada setiap individu dan
kelompok di tengah-tengah kehidupan masyarakat seperti cinta kasih sayang,
pelayanan, dan lain lain, semakin memprihatinkan. Renungkanlah sloka suci ini;
“Na sa sakhà yo na dadàti sakhye
Terjemahan:
‘Dia bukanlah seorang sahabat yang sejati yang tidak menolong seorang
teman yang memerlukan pertolongan’ (Rgveda X.117.4).
Situasi dan kondisi konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat
manusia itu menandakan bahwa arah gerak pikiran, perkataan dan perbuatan bagi
setiap individu atau kelompok manusia seperti itu sangat mengabaikan prinsipprinsip dasar tetang nilai-nilai kejujuran, kebajikan, kepatuhan dan ketaatan
terhadap aturan keimanan, aturan kebajikan (hukum), hak asasi manusia,
kesucian, pengendalian diri, kebersamaan, persatuan, pengorbanan yang tulus
ikhlas, pelayanan, cinta kasih sayang, kerukunan, ketentraman dan kedamaian,
pembebasan, pemuliaan, dan lain lain.
Oleh karena itu, situasi dan kondisi konflik itu baik personal maupun
komunal yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita sangat dibutuhkan upaya
bersama secara sadar, sabar, dan tulus ikhlas untuk mengatasi dan mencarikan
solusi pemecahannya agar situasi dan kondisi hidup dan kehidupan masyarakat
manusia masa kini dan di masa yang akan datang tidak semakin kusut dan
rumit, tragedi sosial, kemanusiaan dan rusaknya lingkungan hidup, dan lain lain,
dapat diminimalisir. Karakter-karakter Ketuhanan dalam setiap jiwa individual
masyarakat manusia perlu ditananamkan sejak dini, sehingga apabila karakter
Ketuhanan itu telah tertanam dan tumbuh dalam setiap jiwa individual masyarakat
dapat dijadikan modal sosial untuk menciptakan kesalehan dan keharmonisan
sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat manusia.
Karakter Ketuhanan dalam setiap jiwa individual masyarakat manusia
akan dapat tertanam, tumbuh dan berkembang dengan kesadaran, iman dan
taqwa yang mantap bahwa kelahirannya menjadi manusia adalah kesempatan
untuk berbuat baik berdasarkan atas kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa. Kitab suci dari agama atau kepercayaan apapun yang ada di dunia ini,
termasuk yang tersurat dan tersirat dalam kitab suci Agama Hindu yaitu dalam
kitab Sarasamuccaya menyatakan bahwa menjelma, menjadi manusia sungguh-

sungguh utama sebabnya demikian karena ia dapat menolong dirinya dari
keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik,
demikianlah keuntungannya menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu, setiap
jiwa individual manusia tidak semestinya bersedih hati sekalipun kehidupan
manusia itu tidak makmur, dilahirkan menjadi manusia itu hendaklah menjadikan
kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat dilahirkan menjadi manusia,
meskipun kelahiran hina sekalipun.


Sebagai penjelmaan manusia yang mempunyai keutamaan tersebut, maka
upaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat kita untuk meredam situasi dan
kondisi konflik yang semakin marak terjadi di sekitar lingkungan hidupnya
internal dan eksternal baik konflik individual mapun konflik kumanal. Camkanlah
petunjuk kitab suci ini;

berdoa dalam setiap tindakan sehingga cahaya ke-Ilahian dapat bersinar dalam
setiap badan dan jiwa manusia sehingga masyarakt manusia dapat membimbing
dirinya dan orang lain dari ketidak benaran menuju kebenaran yang sejati,
dapat membimbing masyarakat manusia dari kegelapan menuju jalan yang
terang benderang, dan dapat membimbing dirinya dari kematian Rohani menuju
kehidupan yang kekal abadi.
Upaya sepatutnya di mulai dari diri sendiri individu manusia itu sendiri,
kemudian dalam lingkungan keluarga, dan selanjutnya dalam kehidupan
bermasyarkat yang lebih luas yaitu sesuai dengan tema yang dikemukakan dalam
tulisan ini salah satunya dengan ‘Menanamkan Ajaran Nawa Wida Bhakti untuk
Menumbuhkan Karakter Ketuhanan di Lingkungan Keluarga Sebagai Modal
Dasar Guna Mewujudkan Kebaikan dan Keharmonisan Sosial’.
Pentingnya menanamkan ajaran Nawa Wida Bhakti sejati untuk
menumbuhkan karakter Ketuhanan di Lingkungan Keluarga ini dikarenakan
beberapa hal di antaranya seperti berikut.
Pertama, Kehidupan di lingkungan keluarga dewasa ini juga seolah-olah
semakin digiring untuk meninggalkan jati dirinya sebagai anggota masyarakat
yang religius dengan berbagai aktivitas ritual keagamaannya, sehingga kualitas
iman dan taqwa (sradha bhakti) yang selama ini dijunjung tinggi semakin lama
semakin tergeser oleh pola kehidupan yang mengglobal dan modern. Budaya
global yang diakibatkan oleh modernisasi dalam berbagai bentuk penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi (Iptek) terus menerus mengikuti perkembangan sosial
masyarakat menusia, sehingga kadangkala akibat dari pengaruh dunia global dan
modernisasi ini bisa membawa manfaat yang positif dan negatif bagi kehidupan
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 279
spiritual individu manusia. Dari segi positif modernisasi bisa menguntungkan
kehidupan, baik jasmani dan rohani, namun di sisi negatif modernisasi bisa
mengakibatkan semakin tergesernya sendi-sendi kehidupan termasuk semakin
terkikisnya nilai-nilai religiusitas pada sebagian anggota masyarakat manusia.
Pengaruh negatif yang dimaksud terhadap anggota masyarakat dewasa ini sering
terjadi perselisihan, kekerasan, diskriminasi, ketidakadilan, dan sebagainya yang
mengarah pada bentuk prilaku yang dapat merugikan dirinya, keluarganya, dan
kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat atau sosialnya. Hal ini tentunya
sangat mengkhawatirkan, karena jika hal tersebut dibiarkan, maka kualitas
kebersamaan, persatuan dalam bermasyarakat akan semakin menipis. Pada
akhirnya nanti esensi sebagai masyarakat manusia yang memiliki keutamaan
dibandingkan dengan makhluk lainnya melalui cara berpikir, berkata dan
berperilaku semakin lama akan mengkhawatirkan.
Kedua, lingkungan keluarga merupakan tempat berlangsungnya proses
pembelajaran, dan pembekalan pengetahuan yang paling awal. Oleh karenanya,
maka setiap anggota keluarga terutama orang tua, dituntut untuk senantiasa
bersikap dan berbuat sesuai dengan dharma-nya, dengan harapan setiap anggota
keluarga akan memiliki iman dan taqwa (sradha bhakti), sifat dan budi pekerti
yang luhur, serta berkepribadian mulia yang sangat diperlukan dalam kehidupan
keluarga dan masyarakat. Dalam kitab suci Veda dan susastra suci Veda yang
lainnya banyak menguraikan tentang pentingnya ajaran bhakti, dan swadharma
orang tua terhadap anaknya, demikian pula bhakti dan swadharma dari anak
kepada orang tuanya. Dalam kitab suci Manavadharmasastra dijelaskan bahwa
secara nonfisik suami-istri masing-masing mengupayakan agar jalinan cinta dan
280 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
kasih sayang, kesetiaan, mencari nafkah, menjaga kesehatan, dan seterusnya
agar ikatan perkawinan dapat berlangsung abadi. Kemudian terhadap anak-anak
yang lahir, orang tua berkewajiban membesarkannya, memberikan perlindungan,
pendidikan dan menyelenggarakan perkawinannya (Vivaha Samkara).
Selanjutnya dalam Sarasamuscaya juga diajarkan tentang tiga kewajiban orang
tua yang harus dilaksanakan dengan rasa bhakti yang tulus kepada anaknya
yaitu sebagai berikut: Pertama, Sarirakrta, yaitu kewajiban orang tua untuk
menumbuhkan jasmani anak dengan baik. Kedua, Prannadatta, artinya orang
tua wajib membangun atau memberikan pendidikan kerohanian kepada anak.
Ketiga, Annadatta, yaitu kewajiban orang tua untuk memberikan pendidikan
kepada anaknya untuk mendapatkan makanan (anna) salah satunya kebutuhan

hidupnya yang paling esensial.
Demikian pula dalam Kekawin Niti Sastra ada disebutkan syarat-syarat orang
yang dapat disebut orang tua yakni apabila telah melakukan lima kewajiban yang
disebut Panca Wida yaitu: Pertama, Sang ametuaken, artinya yang menyebabkan
kita lahir. Ayahlah yang pertama-tama menyebabkan kita lahir dari rahim ibu.
Awal mula dari sikap ayah dan ibu saat-saat menanam benih dalam rahimnya
juga amat menentukan keberadaan kita. Kedua, Sang anyangaskara, artinya
orang tua mempunyai tanggung jawab menyucikan anak melalui upacara sarira
samskara. Ketiga, Sang mangupadyaya, artinya seseorang dapat disebut ayah
apabila ia dapat bertanggung jawab pada pendidikan anak-anaknya. Pendidikan
anak tidak dapat begitu saja diserahkan kepada guru-guru di sekolah. Ayah di
rumah juga disebut guru rupaka. Keempat, Sang maweh bijojana, artinya orang
yang dapat disebut ayah adalah orang yang memberikan anggota keluarganya
makan dan kebutuhan-kebutuhan material lainnya. Secara umum seorang ayah
memiliki tanggung jawab menjamin kebutuhan ekonomi keluarga.

Kelima, Sang
matulung urip rikalaning baya, artinya kewajiban seorang ayah melindungi
nyawa si anak dari ancaman bahaya. Perlindungan tersebut tidaklah semata-mata
berarti fisik tetapi juga perlindungan yang bersifat rohaniah. Sedangkan bhakti
dan swadharma anak kepada orang tuanya, sesuai dengan perintah dan pesan dari
sastra suci Veda, seorang anak dikatakan suputra apabila anak itu memiliki sradha,
bhakti, serta tumbuh menjadi anak yang mampu menyelematkan dirinya, orang
tuanya, dan seluruh keluarganya dari lembah penderitaan menuju kehormatan
dan kebahagiaan. Dan yang lebih besar lagi berguna bagi masyarakat, bangsa
dan negaranya.


Ajaran bhakti sejati dapat menumbuhkan karakter Ketuhanan di lingkungan
keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan keharmonisan
sosial, yang dimaksud adalah sebagai berikut:


Bhakti sejati adalah salah satu ajaran agama Hindu yang dapat dipedomani
untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan manusia terhadap aturan
keimanan, aturan kebajikan dan aturan upacara keagamaan yang bersumber dari
ajaran agama yang dianutnya serta dapat dipedomani dalam upaya melakukan
penyembuhan (konseling) di saat-saat mengalami goncangan kejiwaan oleh
manusia di lingkungan keluarga. Kehidupan di lingkungan keluarga dewasa ini
semakin digiring untuk meninggalkan jati dirinya sebagai anggota masyarakat
yang religius dengan berbagai aktivitas ritual keagamaannya. Perihal penting
lainnya adalah untuk mengeliminasi potensi-potensi konflik akibat kurang
pandainya dan kurangnya kearifan serta kebijaksanaan dari manusia terhadap
sederetan perbedaan, di luar perbedaan yang mereka miliki sejak lahir. Nawa
Wida Bhakti adalah salah satu ajaran agama Hindu yang bersumber dari kitab
Bhagavata Purana, VII.5.23, yang menyebutkan bahwa ada 9 (sembilan) cara
ber-bhakti (hormat, sujud, pengabdian, cinta kasih sayang, pelayanan, dan
spiritual) yang disebut Nawa Wida Bhakti yaitu rasa bhakti sejati manusia
terhadap Tuhan-nya.


Konsep Bhakti sejati ini dapat dimaknai dalam kontek kehidupan sosial atau
arah gerak putarannya secara horizontal yaitu rasa sujud, hormat-menghormati,
pengabdian, cinta kasih sayang, spiritual, dan memberikan pelayanan antara
manusia dengan sesamanya dan lingkungannya. Harapannya dengan nilai-nilai
dari Bhakti sejati (hormat, sujud, pengabdian, cinta kasih sayang, pelayanan,
dan spiritual) akan tercipta karakter Ketuhanan di lingkungan keluarga. Pada
saatnya nanti dapat dijadikan sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan
dan keharmonisan sosial karena di lingkungan masyarakat umum yang lebih
luas telah dihuni oleh individu-individu yang telah ditanami nilai-nilai Nawa
Wida Bhakti, individu yang bermoralitas, serta memiliki budi pekerti yang luhur
melalui proses pembinaan, pendidikan dan pendalaman atau penghayatan sejak
awal di lingkungan keluarga. Seperti uraian berikut ini;


a. Sravanam
Sravanam, adalah bhakti sejati dengan jalan mendengar. Arah gerak vertikal
dari bhakti mendengar ini adalah dalam hal meyakini dan mendengarkan sabdasabda suci dari Tuhan baik yang tersurat maupun tersirat dalam kitab suci

atau aturan-aturan keimanan, aturan kebajikan dan aturan upacara. Fenomena
arah gerak vertikal dari bhkati mendengar yang kita jumpai di tengah-tengah
kehidupan kita, termasuk di lingkungan keluarga dan masyarakat tidak sedikit
individu manusia yang tidak mau mendengarkan sabda-sabda suci atau aturanaturan keimanan, aturan kebajikan dan aturan upacara keberagamaan.
Kenyataan ini diperkuat apabila ada orang yang mewartakan ajaran tentang
kebajikan, kebenaran, kesucian, dan lain sebagainya tentang sabda suci Tuhan
justru yang terjadi malah ketidakpedulian, pelecehan, atau menunjukan kekurang
tertarikan akan pewartaan itu. Contoh kecil saja di sebagian banyak orang tidak
mau mendengar atau bahkan mengantuk apabila ada ceramah-ceramah agama
baik itu di tempat-tempat suci atau berita melalui media cetak dan eletronik yang
lain.


Tetapi kalau ada berita/tayangan sinetron tentang gosip, fitnah, kekerasan,
diskriminasi, dan lain-lain justru menjadi konsumsi yang laris. Selanjutnya
arah gerak horizontal, bhakti mendengar ini hendaknya masyarakat manusia
dalam hidup dan kehidupannya menanamkan rasa bhakti untuk selalu belajar
mendengarkan nasihat dan menghormati pendapat orang lain serta selalu
belajar untuk menyimak atau mendengarkan pewartaan tentang sesamanya dan
lingkungannya.
Fenomena yang sering terjadi tidak sedikit manusia yang tidak peduli dan
tidak belajar serta menghormati nasihat dan pendapat orang lain, serta tidak peduli
dan tidak belajar untuk menyimak berita-berita tentang teragedi kemanusiaan
dan kerusakan lingkungan. Padahal dalam hidup ini untuk mewujudkan cita-cita
atau visi-misi hidup hendaknya dimulai dengan adanya kemauan dan kesadaran

untuk mendengar. Pengetahuan, pemahaman dan pendalaman tentang berbagai
hal hasil dari mendengar dapat dijadikan konsep dasar untuk menata hidup dan
kehidupan di dunia ini yang kemudian ditindaklanjuti dengan berupaya untuk
berbuat atau mencari solusi yang terbaik dalam mengambil sebuah tindakan
kemanusiaan/sesama dan lingkungan. Contoh; di lingkungan keluarga antara
anggota keluarga semestinya selalu menanamkan sifat dan rasa bhakti untuk
selalu mendengar baik antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, untuk
selalu membangun komunikasi aktif sehingga dapat mengurangi terjadinya
miskomunikasi di antara anggota keluarga.


Sifat dan sikap ini akan dapat menumbuhkan karakter Ketuhanan di
lingkungan keluarga itu, seperti; sifat, sikap dan karakter hormat-menghormati,
sujud, cinta kasih sayang, pengabdian, pelayanan, berfikir yang baik dan suci,
berkata yang baik dan suci, berbuat yang baik dan suci serta teguh dalam
melaksanakan disiplin spiritual. Sifat dan sikap individu seperti itu akan dapat
dijadikan sebagai modal sosial untuk menciptakan kesalehan dan keharmonisan
sosial antara keluarga, antar sesama anggota masyarakat.
Sifat, sikap dan karakter individu yang selalu belajar untuk membuka diri
mendengar nasihat, pendapat orang lain atau apa yang diwacanakan orang lain
adalah sebuah sifat, sikap dan karakter insklusif yaitu sebuah sifat, sikap dan
karakter membuka diri secara tulus ikhlas untuk mau mendengarkan kebenaran
dari orang lain, karena dalam diri ada kebenaran tetapi di luar diri juga masih
banyak kebenaran yang belum diketahui.


Untuk itu pesan yang ingin disampaikan melalui bhakti dengan jalan
mendengar ini adalah dalam hidup ini masyarakat kita untuk selalu berupaya
membudayakan untuk mendengar, baik mendengar secara vertikal antara
manusia dengan Tuhan-nya melalui sabda-sabda sucinya, maupun secara
horizontal antarsesamanya dan lingkungannya. Karena baik mendengar ataupun
memberi pendengaran/pewartaan apabila sama-sama dilandasi dengan rasa
bhakti, maka semua akan mendapat hasil (pahala) yang baik atau paling tidak
dapat manfaat dari bhakti mendegar ini. Iklim saling bhakti mendengar ini sangat
dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang diawali ditananamkan di lingkungan
keluarga selanjutnya ditumbuhkembangkan secara harmonis dan dinamis dalam
kehidupan sosial masyarakat di lingkungan yang lebih luas.


b. Wandanam
Wandanam adalah bhakti sejati dengan jalan membaca, menyimak dan
mempelajari, mendalami serta menghayati dan memaknai ajaran yang bersumber
dari aturan keimanan, aturan kebajikan, dan aturan yang lainnya yang bersumber
dari sabda-sabda suci Tuhan dan susastra suci yang lainnya.
Arah gerak vertikal masyarakat manusia dalam menjalani dan menata
kehidupannya selalu meluangkan waktu untuk membaca, menyimak dan
mempelajari, mendalami serta menghayati dan memaknai kitab suci dan susastra
suci serta ilmu pengetahuan yang lainnya tentang Tuhan sebagai pedoman
hidup, sehingga gagasan dan arah pilihan jalan hidup masyarakat manusia sesuai
dengan sabda suci Tuhan yang tertuang dalam kitab suci atau sumber hukum
agama yang diyakini dan dianut, tentunya dengan selalu tidak menutup diri atau
mengabaikan hal-hal yang ada di luar dirinya.

Arah gerak horizontal dari bhakti ini, masyarakat manusia kepada sesama
dan lingkungan hidupnya untuk selalu membaca, menyimak dan mempelajari,
mendalami serta menghayati dan memaknai situasi, untuk menuju arah gerak yang
lebih baik. Karena apabila salah dalam membaca, menyimak dan mempelajari,
mendalami serta menghayati dan memaknai situasi maka salah juga dalam
pengambilan keputusan. Iklim saling bhakti Wandanam ini sangat dibutuhkan
oleh masyarakat manusia untuk menciptakan kesalehan dan keharmonisan di
lingkungan keluarga dan sosial kemasyarakatannya.
c. Kirtanam
Kirtanam, adalah bhakti sejati dengan jalan melantunkan Gita/zikir
(nyayian atau kidung suci memuja dan memuji nama suci dan kebesaran
Tuhan), bhakti ini juga diarahkan menjadi dua arah gerak vertikal maupun
arah gerak horizontal. Arah gerak vertical melakukan bhakti Kirtanam untuk
menumbuhkan dan membangkitkan nilai-nilai spiritual yang ada dalam jiwa
setiap individu manusia. Dengan bangkitnya spiritual dalam setiap individu akan
dapat meredam melakukan pengendalian diri dengan baik, jiwa lebih tenang,
tentram dan tercerahi, sistuasi dan kondisi ini akan dapat membantu keluar dari
kekusutan mental dan kegelapan jiwa, sehingga dapat dijadikan modal dasar
untuk menciptakan kesalehan dan keharmonisan individual yang damai dan
bahagia.


Arah gerak horizontal masyarakat manusia berusaha selalu untuk
melantunkan bhakti Kirtanam yang dapat menyejukan perasaan hati orang lain
dan lingkungannya. Kepada sesama atau anggota masyarakat yang lainnya tidak
hanya melantunkan atau melontarkan kritikan dan cemohan tetapi selalu belajar
untuk melatih diri untuk memberikan saran, solusi yang terbaik bagi kepentingan
bersama dalam keberagamaan, kehidupan sehari-hari tentang kemanusiaan,
kebersamaan, persatuan dan perdamaian, serta memberikan pengakuan dan
penghargaan atau pujian akan keberhasilan dan prestasi yang telah dicapai
terhadap sesama atau anggota masyarakat manusia yang lain.
Iklim saling bhakti Kirthanam ini sebagai wujud ajaran bhakti sejati
sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang penanaman nilai-nilai bhakti
Kirthanam diawali di lingkungan keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan
kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.


d. Smaranam
Smaranam, adalah bhaktisejati dengan jalan mengingat. Arah gerak vertikal
dari bhakti ini adalah dalam menjalani dan menata kehidupan ini masyarakat
manusia sepatutnya selalu melatih diri untuk mengingat, mengingat nama-nama
suci Tuhan dengan segala Kemahakuasaaannya, dan selalu untuk melatih diri
untuk mengingat tentang intruksi dan pesan atau amanat dari sabda suci Tuhan
kepada umat manusia yang dapat dijadikan sebagai pedoman atau pegangan
hidup dalam hidup di dunia dan di alam sunya (akhirat) nanti.
Arah gerak secara horizontal dari bhakti ini apabila dikaitkan dengan isu-isu
pluralisme, kemanusiaan, perdamaian, demokrasi dan gender, maka sepatutnya
masyarakat manusia selalu berusaha untuk mengingat kembali tragedi dan
penderitaan kemanusiaan, musibah dan bencana alam, dan lain sebagainya,
yang diakibatkan oleh konflik-konflik atau pertikaian, kesewenang-wenangan,
diskriminasi, dan tindakan kekerasan yang lainnya antara individu yang satu
dengan individu yang lain ataupun antara kelompok yang satu dengan kelompok
yang lain yang tidak atau kurang memahami dan menghargai indahnya sebuah
kebhinekaan dan pluralisme.


Harapannya dengan mengingat tragedi, penderitaan, musibah dan bencana
yang diakibatkan itu masyarakat kita selalu mewartakan dan mengingatnya
sebagai bekal untuk mengevaluasi dan merefleksi diri akan indahnya kebhinekaan
dan pluralisme apabila masyarakat manusia mampu mengkemasnya dalam satu
bingkai yaitu bingkai kebersamaan, persatuan dan kedamaian. Iklim saling bhakti
Smaranam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia yang ditanamkan
diawali di lingkungan keluarga sehingga tumbuh karakter Ketuhanan dalam
setiap anggota keluarga sebagai modal dasar guna mewujudkan kesalehan dan
keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.
e. Pada Sevanam
Pada sevanam, adalah bhakti sejati dengan jalan menyembah, sujud, hormat
di Kaki Padma. Arah gerak vertikal dalam bhakti ini masyarakat kita dalam
menjalani dan menata kehidupannya sepatutnya selalu sujud dan hormat kepada
Tuhan, hormat dan sujud terhadap intruksi dan pesan/amanat dari hukum Tuhan
(rtam). Arah gerak horizontal masyarakat manusia untuk selalu belajar dan
menumbuhkan kesadaran untuk menghormati para pahlawan dan pendahulunya,
pemerintah dan peraturan perundang-undangan yang telah dijadikan dan
disepakati sebagai sumber hukum, para pemimpin, para orang tua dan yang tidak
kalah penting juga hormat/sujud kepada ibu pertiwi.
Karena dengan adanya kesadaran untuk saling menghormati inilah kita akan
bisa hidup berdampingan dalam kebhinekaan
dan pluralisme, sehingga terwujud
kebersamaan, perastuan, kesalehan dan
keharmonisan sosial. Iklim saling bhakti
Pada sevanam ini sangat dibutuhkan oleh
masyarakat manusia sehingga sejak dini
semestinya ditanamkan untuk menumbuhkan
karakter Ketuhanan di lingkungan keluarga
sebagai modal dasar guna mewujudkan
kesalehan dan keharmonisan sosial dalam
kehidupan sosial kemasyarakatannya.


f. Sakhynam
Sakhynam, adalah bhakti sejati dengan
jalan kasih persahabatan, mentaati hukum
dan tidak merusak sistem hukum. Baik arah
gerak vertikal dan horizontal, baik dalam
kehidupan matrial dan spiritual (jasmani
dan rohani) masyarakat manusia agar selalu
berusaha melatih diri untuk tidak merusak
sistim hukum, dan selalu di jalan kasih
persahabatan.

Iklim saling bhakti Sakyam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita
untuk menumbuhkan karakter Ketuhanan mulai dari lingkungan keluarga
dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai matra dan sebagai modal dasar guna
mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial
kemasyarakatannya.


g. Dahsyam
Dahsyam, adalah bhakti sejati dengan jalan mengabdi, pelayanan, dan cinta
kasih sayang dengan tulus ikhlas terhadap Tuhan. Arah gerak vertikal dari bahkti
ini manusia dalam menjalani dan menata kehidupannya, untuk selalu melatih diri
dan secara tulus ikhlas mengahturkan mengabdikan, pelayanan kepada Tuhan,
karena hanya kepada Beliaulah umat manusia dan seluruh sekalian alam beserta
isinya berpasrah diri memohon segalanya apa yang harapkan untuk mencapai
kebahagian di dunia dan di akhirat.
Arah gerak horizontal manusia kepada sesama dan lingkungan hidupnya
untuk selalu mengabdi, memberikan pelayanan dan cinta kasih sayang dengan
tulus ikhlas untuk kepentingan bersama tentang kemanusiaan, kelestarian
lingkungan hidup dan kedamaian di tengah-tengah kehidupan masyarakat,
berbangsa dan bernegara. Iklim saling bhakti Dasyam ini sangat dibutuhkan
oleh manusia baik di lingkungan keluarga lebih-lebih di kehidupan sosial
kemasyarakatannya
h. Arcanam
Arcanam, adalah bhakti sejati dengan jalan perhormatan terhadap simbolsimbol atau nyasa Tuhan seperti membuat Arca, Pratima, Pelinggih, dan lain-lain,
bhakti penguatan iman dan taqwa, menghaturkan dan pemberian persembahan
terhadap Tuhan.
Arah gerak vertikal masyarakat manusia dalam menjalani dan menata
kehidupannya untuk selalu menghaturkan dan menunjukan rasa hormat, sujud,
cinta kasih sayang, pelayanan, pengabdian kepada Tuhan dengan iman dan
taqwa kuat dan teguh dengan jalan menghaturkan sebuah persembahan sebagai
bentuk ucapan terima kasih atas tuntunan, bimbingan, perlindungan, kekuatan,
kesehatan dan setiap anugrah yang diberikan Tuhan kepada seluruh sekalian
alam.
Arah gerak horizontal masyarakat manusia terutama kepada sesama dan
lingkungannya dalam kehidupannya untuk selalu belajar untuk memberikan
pelayanan, pengabdian, cinta kasih sayang, penguatan dan pemberian
penghargaan kepada orang lain. Contoh, Pemerintah, pemimpin dan atau
anggota masyarakat hendaknya memberikan pengabdian, pelayanan, cinta kasih
sayang dan penghargaan kepada pemerintah dan pemimpinnya demikian pula
sebaliknya kepada dan oleh rakyatnya yang telah menunjukan dedikasinya
tinggi terhadap segala aspek kehidupan demi kemajuan dan perbaikan situasi dan
kondisi bersama dan sekalian alam tentang kemanusiaan, kelestarian lingkungan
dan perdamaian.


Karena pemimpin yang baik menghargai rakyatnya, demikian juga
sebaliknya. Iklim saling bhakti Arcanam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat
manusia di lingkungan keluarga dan di kehidupan masyarakat umum. Hal ini
akan dapat menumbuhkan karakter Ketuhanan mulai dari lingkungan keluarga
dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai matra dan sebagai modal dasar guna
mewujudkan kesalehan dan keharmonisan sosial dalam kehidupan sosial
kemasyarakatannya.


i. Sevanam
Sevanam atau Atmanivedanam adalah bhakti sejati dengan jalan berlindung
dan penyerahan diri secara tulus ikhlas kepada Tuhan. Arah gerak vertikal dan
horizontal dari bhakti ini masyarakat manusia selalu berpasrah diri dengan
kesadaran dan keyakinan yang mantap untuk selalu berjalan di jalan Tuhan,
berlindung dan penyerahan diri secara tulus ikhlas kepada Tuhan, sesama dan
lingkungan hidupnya atau kepada ibu pertiwi, baik dalam kehidupan duniawi
(nyata) maupun kehidupan sunya (niskala). Iklim saling bhakti Atmanivedanam
ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat manusia baik dalam kehidupan sosial dan
kehidupan spiritualnya.

Uji Kompetensi:

  1. Setelah membaca teks tentang ajaran bhakti sejati sebagai dasar
    pembentukan budi pekerti yang luhur dalam zaman global menurut
    ajaran Hindu, apakah yang Anda ketahui tentang agama Hindu?
    Jelaskan dan tuliskanlah!
  2. Buatlah ringkasan yang berhubungan dengan ajaran bhakti sejati
    sebagai dasar pembentukan budi pekerti yang luhur dalam zaman
    global menurut ajaran Hindu, dari berbagai sumber media pendidikan
    dan sosial yang Anda ketahui! Tuliskan dan laksanakanlah sesuai
    dengan petunjuk dari bapak/ibu guru yang mengajar di kelas!
  3. Apakah yang anda ketahui terkait dengan cara-cara mempraktikkan
    ajaran bhakti sejati sebagai dasar pembentukan budi pekerti yang luhur
    dalam zaman global menurut ajaran Hindu? Jelaskanlah!
  4. Bagaimana cara untuk mengetahui ajaran bhakti sejati sebagai dasar
    pembentukan budi pekerti yang luhur dalam zaman global menurut
    ajaran Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah pengalamannya!
  5. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari usaha
    dan upaya untuk memengetahui ajaran bhakti sejati sebagai dasar
    pembentukan budi pekerti yang luhur dalam zaman global menurut
    ajaran Hindu? Tuliskanlah pengalaman Anda!
  6. Amatilah lingkungan sekitar Anda terkait dengan adanya penerapan
    ajaran bhakti sejati sebagai dasar pembentukan budi pekerti yang luhur
    dalam zaman global menurut ajaran Hindu guna mewujudkan tujuan
    hidup manusia dantujuan agama Hindu, buatlah catatan seperlunya
    294 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    dan diskusikanlah dengan orang tuan! Apakah yang terjadi? Buatlah
    narasinya 1 -3 halaman diketik dengan huruf Times New Roman-12,
    spasi 1,5 cm, ukuran kertas kwarto; 4-3-3-4!
  7. Amatilah gambar berikut ini, diskusikanlah dengan orang tua di rumah,
    selanjutnya buatlah laporan dari hasil diskusi-mu dengan orang tua.

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bentuk Penerapan Bhakti Sejati dalam Kehidupan

Keluarga Sukhinah dalam Agama Hindu