in ,

Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña

Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña

Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña


Melaksanakan Yajña bagi umat Hindu adalah wajib hukumnya. Segala
sesuatu yang dilaksanakannya tanpa dilAndasi oleh Yajña adalah sia-sia.
Bagaimana agar semua yang kita laksanakan ini dapat bermanfaat dan bekualitas,
kitab Bhagawadgita menyebutkan sebagai berikut:
Aphalàkàòkᒲibhir yajòo vidhi-dᒮᒲþo ya ijyate,
yaᒲþavyam eveti manaá samàdhàya sa sàttvikaá
Terjemahannya:
Yajña menurut petunjuk kitab-kitab suci, yang dilakukan oleh orang tanpa
mengharap pahala dan percaya sepenuhnya bahwa upacara ini sebagai tugas
kewajiban, adalah sattvika (BG. XVII.11).
Abhisandh¢ya tu phalaᒡ danbh¢rtham api çaiva yat,
ijyate bharata-ᒱrestha taᒡ viddhi r¢jasam.
Terjemahannya:
Tetapi persembahan yang dilakukan dengan mengharap balasan, dan
semata-mata untuk kemegahan belaka, ketahuilah, wahai Arjuna, Yajña itu
adalah bersifat rajas (BG. XVII.12).
Vidhi-hinam asᒮᒲt¢nnaᒡ mantra-hìnam adakᒲiᒤam,
ᒱraddh¢-virahitaᒡ yajñaᒡ t¢masaᒡ paricakᒲate.
Terjemahannya:
Dikatakan bahwa, Yajña yang dilakukan tanpa aturan (bertentangan),
di mana makanan tidak dihidangkan, tanpa mantra dan sedekah serta tanpa
keyakinan dinamakan tamas (BG. XVII.13).
Agar pelaksanaan Yajña lebih efisien, maka syarat pelaksanaan Yajña perlu
mendapat perhatian, yaitu:
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 77
a. Sastra, Yajña harus berdasarkan Veda:
b. Sraddha, Yajña harus dengan keyakinan:
c. Lascarya, keikhlasan menjadi dasar utama Yajña:
d. Daksina, memberikan dana kepada pandita:
e. Mantra, puja, dan gita, wajib ada pandita atau pinandita:
f. Nasmuta atau tidak untuk pamer, jangan sampai melaksanakan
Yajña hanya untuk menunjukkan kesuksesan dan kekayaan: dan
g. Anna Sevanam, yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat
dengan cara mengundang untuk makan bersama.
Menurut Bhagavadaita XVII. 11, 12, dan 13 menyebutkan ada tiga kualitas
Yajña itu, yakni:
a. Satwika Yajña:
Satwika Yajña adalah kebalikan dari Tamasika Yajña dan Rajasana Yajña
bila didasarkan penjelasan Bhagawara Gita tersebut di atas. Satwika Yajña adalah
Yajña yang dilaksanakan sudah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.
Syarat-syarat yang dimaksud, antara lain:

  1. Yajña harus berdasarkan sastra. Tidak boleh melaksanakan Yajña
    sembarangan, apalagi di dasarkan pada keinginan diri sendiri karena
    mempunyai uang banyak. Yajña harus melalui perhitungan hari baik
    dan buruk, Yajña harus berdasarkan sastra dan tradisi yang hidup dan
    berkembang di masyarakat.
    78 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
  2. Yajña harus didasarkan keikhlasan. Jangan sampai melaksanakan Yajña
    ragu-ragu. Berusaha berhemat pun dilarang di dalam melaksanakan
    Yajña. Hal ini mengingat arti Yajña itu adalah
    pengorbanan suci yang tulus ikhlas. Sang
    Yajamana atau penyelenggara Yajña tidak boleh
    kikir dan mengambil keuntungan dari kegiatan
    Yajña. Apabila dilakukan, maka kualitasnya
    bukan lagi sattwika namanya.
  3. Yajña harus menghadirkan Sulinggih yang
    disesuaikan dengan besar kecilnya Yajña. Kalau
    Yajñanya besar, maka sebaiknya menghadirkan
    seorang Sulinggih Dwijati atau Pandita. Tetapi
    kalau Yajñanya kecil, cukup dipuput oleh seorang Pemangku atau
    Pinandita saja.
  4. Dalam setiap upacara Yajña, Sang Yajamana harus mengeluarkan
    daksina. Daksina adalah dana uang kepada Sulinggih atau Pinandita
    yang muput Yajña. Jangan sampai tidak melakukan itu, karena daksina
    adalah bentuk dari Rsi Yajña dalam Panca Yajña.
  5. Yajña juga sebaiknya menghadirkan suara genta, gong atau mungkin
    Dharmagita. Hal ini juga disesuaikan dengan besar kecilnya Yajña.
    Apabila biaya untuk melaksanakan Yajña tidak besar, maka suara gong
    atau Dharmagita boleh ditiadakan.
    Gambar 2.6 Persembahan Canang
    Sumber: Dok. Pribadi (3-4-2015)
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 79
    b. Rajasika Yajña:
    Yajña yang dilakukan dengan penuh harapan akan hasilnya dan dilakukan
    untuk pamer saja. Rajasika Yajña adalah kualitas Yajña yang relatif lebih rendah.
    Walaupun semua persyaratan dalam sattwika Yajña sudah terpenuhi, namun
    apabila Sang Yajamana atau yang menyelenggarakan Yajña ada niat untuk
    memperlihatkan kekayaan dan kesuksesannya, maka nilai Yajña itu menjadi
    rendah.
    Dalam Siwa Purana dijelaskan bahwa seorang Dewa Kuwera, Dewa Siwa
    untuk menghadiri dan memberkahi Yajña yang akan dilaksanakannya. Dewa
    Siwa mengetahui bahwa tujuan utama mengundang-Nya hanyalah untuk
    memamerkan jumlah kekayaan, kesetiaan rakyat, dan kekuasaannya.
    Mengerti akan niat tersebut, raja pun mengundang Dewa Siwa, maka pada
    hari yang telah ditentukan, Dewa Siwa tidak mau datang, tetapi mengirim
    putranya yang bernama Dewa Gana untuk mewakili-Nya menghadiri undangan
    Raja itu. Dengan diiringi banyak prajurit, berangkatlah Dewa Gana ke tempat
    upacara. Upacaranya sangat mewah, semua raja tetangga diundang, seluruh
    rakyat ikut memberikan dukungan.
    Dewa Gana diajak berkeliling istana oleh raja sambil menunjukkan
    kekayaannya berupa emas, perak, dan berlian yang jumlahnya bergudang-gudang.
    Dengan bangga, raja menyampaikan jumlah emas dan berliannya. Sementara
    rakyat dari kerajaan ini masih hidup miskin karena kurang diperhatikan oleh raja
    dan pajaknya selalu dipungut oleh Raja.
    Mengetahui hal tersebut, Dewa Gana ingin memberikan pelajaran kepada
    Sang Raja. Ketika sampai pada acara menikmati suguhan makanan dan minuman,
    80 Kelas XI SMA/SMK Kurikulum“13
    maka Dewa Gana menghabiskan seluruh makanan yang ada. Bukan itu saja,
    seluruh perabotan berupa piring emas dan lain sebagainya semua dihabiskan oleh
    Dewa Gana. Raja menjadi sangat bingung sementara Dewa Gana terus meminta
    makan. Apabila tidak diberikan, Dewa Gana mengancam akan memakan semua
    kekayaan dari Sang Raja. Khawatir kekayaannya habis dimakan Dawa Gana,
    lalu Raja ini kembali menghadap Dewa Siwa dan mohon ampun. Lalu diberikan
    petunjuk dan nasihat agar tidak sombong karena kekayaan dan membagikan
    seluruh kekayaan itu kepada seluruh rakyat secara adil. Kalau menyanggupi,
    barulah Dewa Gana menghentikan aksinya minta makan terus kepada Raja.
    Dengan terpaksa Raja yang sombong ini menuruti nasihat Dewa Siwa yang
    menyebabkan kembali baiknya Dewa Gana. Pesan moral yang disampaikan cerita
    ini adalah, janganlah melaksanakan Yajña berdasarkan niat untuk memamerkan
    kekayaan. Selain membuat para undangan kurang nyaman, juga nilai kualitas
    Yajña tersebut menjadi lebih rendah.
    c. Tamasika Yajña:
    Yajña yang dilakukan tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastranya,
    tanpa mantra, tanpa ada kidung suci, tanpa ada daksina, tanpa didasari oleh
    kepercayaan. Tamasika Yajña adalah Yajña yang dilaksanakan dengan motivasi
    agar mendapatkan untung.
    Kegiatan semacam ini sering dilakukan sehingga dibuat Panitia Yajña dan
    diajukan proposal untuk melaksanakan upacara Yajña dengan biaya yang sangat
    tinggi. Akhirnya Yajña jadi berantakan karena Panitia banyak mencari untung.
    Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 81
    Bahkan setelah Yajña dilaksanakan, masyarakat mempunyai hutang di
    sana-sini. Yajña semacam ini sebaiknya jangan dilakukan karena sangat tidak
    mendidik. Bagaimana pelaksanaan Yajña menurut Kitab Mahabharata dalam
    usaha mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dalam kehidupan ini?
    Sebelumnya kerjakanlah soal-soal uji kompetensi berikut dengan baik!
    Uji Kompetensi:
  6. Sebutkan dan jelaskan syarat-syarat yang wajib dipedomani dalam
    melaksanakan Yajña! Sebelumnya diskusikanlah dengan orang tua
    Anda di rumah.
  7. Sebutkan tiga kualitas Yajña yang Anda ketahui!
  8. Diantara kualitas yajna yang ada yang manakah sudah dilaksanakan
    oleh masyarakat lingkungan sekitar Anda? Jelaskanlah!
  9. Amatilah lingkungan sekitar Anda, kualitas yajna yang manakah yang
    paling sering dilaksanakan? Diskusikanlah dengan orag tua Anda,
    kemudian buatlah laporannya masing-masing!

Written by nandasanjaya38@yahoo.com

I'm blink-182 fan and i'm proud of it. 4505 likes. Just another page about the most awesome band on the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yajña dalam Mahabharata dan Masa Kini

Pengertian Wirasa,Wirama,Wiraga lan Semita Basa Bali